
Dua hari berikutnya.
Sepi tanpa Alan. Itu tidak benar! Ada Tirta yang menggantikannya. Kecuali, tanpa mereka, mungkin, Ervan seperti kehilangan induk.
"Alan, akan kembali sore nanti."
"Hmm," jawab Ervan.
"Kenapa?" Tirta merasa aneh dengan sikap Ervan yang berbeda hari ini. Dia lebih banyak diam.
"Tidak ada."
Ada apa ini? Apa dia sedang bertengkar dengan Sarah? Jujur saja, Tirta lebih baik melihat Ervan dengan sikap bossy daripada seperti ini. Diam dengan wajah dingin, lebih menakutkan. Seperti dulu, sebelum menikah.
"Kamu butuh sesuatu?"
"Panggil Jean dan kepala marketing, aku mau melihat rank penjualan bulan lalu."
"Baik."
Kenapa dia? Tirta bingung sendiri, tapi takut bertanya. Ada kalanya, nyalinya menciut, ketika melihat raut wajah Ervan yang berubah.
Yang dipanggil, sudah ada didalam. Wajah pias, saat Ervan melempar dokumen dikaki mereka.
"Itu janji, kalian? Saat peluncuran produk baru, iya?" teriaknya.
"Maaf, Pak. Kami sedang menunggu laporan hasil penjualan dari negara S. Respon disana sangat baik."
"Tiga hari. Keluar!"
Tirta sampai ikut tersentak, saat Ervan berteriak. Sudah lama, ia tidak mendengar teriakan ini. Kenapa ia kembali kambuh? Sebenarnya, ada apa?
Bertanya? Tidak? Bertanya? Tidak? Jangan, Tirta. Singa jantan sedang mengamuk. Jalan satu-satunya, ia akan bertanya pada Sarah.
Hening. Biasanya, mereka akan bercanda dan mengobrol. Tirta jadi bingung sendiri, mau melakukan apa.
"Jadwalkan rapat, hari ini. Untuk semua kepala divisi."
What? Mendadak begini. Ya, ampun. Dia benar-benar kambuh.
Tirta segera mengirim pesan, kepada semua asisten divisi. Dan benar saja, mereka sudah memohon-mohon, meminta penjelasan.
Ervan sudah duduk diruang rapat. Satu persatu kepala divisi masuk, ditemani asisten mereka. Ada yang membawa dokumen, note book sebagai persiapan. Karena, mereka tidak tahu, apa yang akan dibahas dirapat yang mendadak ini.
"Beberapa bulan lalu, perusahaan meluncurkan produk minuman baru. Tapi, penjualannya, bahkan tidak sampai target. Kenapa?"
Kenapa? Mereka saling bertukar pandang. Terutama, divisi marketing.
"Perusahaan sudah mengucurkan dana yang tidak sedikit. Bahkan kalian, menyewa artis luar negeri untuk iklan. Tapi, kenapa seolah hanya jalan ditempat?" lanjut Ervan.
"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Rival kita meluncurkan produk baru, yang hampir bersamaan dengan perusahaan. Mereka memiliki keunggulan dalam desain kemasan dan juga menyewa artis k pop untuk iklan."
"Lalu, bukankah kalian yang memberikan ide desain kemasan yang katanya mewah dan unik. Mana?" Ervan sudah menggebrak meja. Membuat suasana menjadi tegang. "Menyewa artis k pop? Memangnya, apa bedanya dengan artis dari Holywood itu?"
"Ma-maaf, Pak. Sekarang, artis k pop lebih banyak diminati. Mengenai desain, kami akan mengajukan ulang."
"Besok. Aku mau melihatnya besok."
__ADS_1
"Hah! Besok? Tapi, _"
"Keberatan?" Ervan sudah menatap tajam. "Jika target penjualan bulan ini masih sama. Kamu, kamu dan kamu, bersiap." tunjuk nya satu persatu.
Ervan sudah keluar ruangan lebih dulu. Tirta mengambil alih rapat. Dengan, memberikan beberapa solusi.
Pulang kerja, Ervan masih membisu. Tirta yang mengemudi, tidak tahu harus membuka percakapan.
Sial! Aku merinding, gumam Tirta. Dia kambuh dan tidak terobati. Sarah, kakak ipar, apa yang kamu lakukan? Obat satu-satunya, hanyalah sang istri. Tapi, sepertinya obat itu sedang sangat pahit.
"Kau mau langsung pulang?" tanya Tirta akhirnya.
"Hm."
Hanya itu, hm, hm. Tirta menambah kecepatan. Ingin bertemu Sarah, meminta penjelasan. Pria dibelakangnya, harus segara diberi penenang, sebelum mengamuk seperti kuda liar.
"Belikan aku es krim."
"Hah?" Ervan melotot. "Oh, baiklah."
Tirta berhenti didepan mini market. Sebelum keluar, ia menoleh untuk bertanya.
"Mau rasa apa?"
"Terserah."
Jawaban seperti ini, yang sebenarnya paling Tirta benci. Kata terserah, tapi pada akhirnya selalu mendapatkan protes.
Tidak ingin kena semprot. Tirta membeli banyak es krim dengan banyak rasa. Biar dia memilih sendiri.
"Ini. aku beli banyak."
Sakit? Atau terjadi sesuatu? Aneh!
Kembali melaju, dengan suasana hening. Yang dikursi belakang, masih menikmati es krim keduanya, dengan rasa kacang hijau.
Tiba di rumah. Tirta membuka pintu mobil. Ervan masih memegang kantong plastik berisi es krim. Tangan satunya, memegang es krim nya yang tinggal sedikit.
"Papa sudah pulang," sambut Sarah bersama si kecil dalam gendongannya.
Tidak ada, hal yang aneh. Sarah mengecup Ervan, begitu juga sebaliknya. Bahkan, si sensitif itu, tertawa sembari merangkul, pinggang sang istri masuk dalam rumah.
Sumpah! Tirta penasaran. Jika Ervan seorang wanita, mungkin dia sedang menstruasi. Tapi, ini?! Tirta tidak langsung pulang. Ia mendekati seorang pelayan, diteras rumah.
"Ada apa, Tuan?"
"Apa terjadi sesuatu di rumah? Misalnya, suara ribut atau pertengkaran begitu."
"Tidak ada, Tuan. Semua baik-baik saja!"
"Kamu, yakin?"
"Iya, Tuan."
Tirta kembali menuju mobil, mematung didepan pintu. Masih sibuk, memecahkan teka-teki.
"Lalu, dia kenapa? Sakit, tidak. Bertengkar juga, tidak. Datang bulan? Hahahahaha..." Tirta terpingkal sendiri.
__ADS_1
"Masih disini? Kenapa belum pulang?"
Tirta menoleh. Buset, itu mata sudah mau keluar.
"Aku meluruskan kakiku. Keram." Alasan yang tidak masuk akal.
"Pulang, sana."
"Iya, iya."
Tirta akhirnya, masuk dalam mobil. Meskipun, masih dilanda penasaran, tapi nyawanya lebih penting. Ia akan memikirkannya dirumah, sambil menelepon Alan.
Ervan sudah mandi dan berganti baju. Ia menemani putranya bermain, diatas kasur.
"Sayang, kenapa es krim nya banyak."
"Tirta yang beli."
Sarah ikut menikmati es krim, sisanya ia masukkan dalam freezer.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada, sayang. Oh, ya, coba lihat ini." Ervan memberikan tablet nya kepada Sarah. "Bagaimana pendapatmu?"
"Bagus. Ini desain kemasan yang sudah bagus dan aman. Aku suka, unik."
"Benarkah?" Ervan mengambil kembali tabletnya. Mangut-mangut, dengan salah satu tangan memegang mainan pesawat. "Target penjualan bulan lalu, tidak tercapai. Aku khawatir dengan bulan ini."
"Bagaimana dengan marketing?"
"Katanya, mereka sudah maksimal, bahkan menyewa artis luar negeri untuk iklan. Aku sedang menunggu respon pasar, dari negeri S."
"Tunggulah, seminggu. Ini baru masuk, awal bulan."
"Tidak, itu terlalu lama. Aku minta tiga hari."
Sarah hanya mengangguk. Ini adalah masalah pekerjaan sang suami, dan dia tidak ingin ikut campur. Cuma memberikan saran, jika diminta.
Si kecil, turun dari tempat tidur. Dia sudah bisa berjalan sekarang. Cara bicaranya, pun sudah berubah dan mulai dipahami.
"Papa, tulun!"
Ervan ikut, duduk diatas karpet. Menyusun lego, menjadi sebuah gedung.
"Er, mau adik perempuan?"
Uhuk! Sarah melotot. Baru saja, suaminya bad mood, sekarang berubah dengan cepat.
"Dedek, kecil. Lutu-lutuna."
"Iya, dedek kecil yang lucu. Ntar, malam tidur, yah, sama opa dan oma."
"Opa? Oma?"
"Yah, kakek, nenek. Panggilnya, opa dan oma."
"Ya, ya. Aku bobo sama opa, oma."
__ADS_1
Ervan mengedipkan mata, pada Sarah.