
Sesampainya di Ruang BK, Azka masuk dan terkejut karena kedelapan anak kelas tiga tidak di beri hukuman dan malah duduk santai di ruang BK bersama dengan guru BK
"Loh! Kok kalian malah duduk duduk di sini?" Tanya Azka yang terkejut. pandangan seluruh orang di ruang BK tertuju padanya
"Emang kami harus apa pak? Di suruh ke BK, kami udah di sini. Dimana letak kesalahan kami pak?" Tanya salah satu anak kelas tiga
"Ya ampun, kalian pasti nggak ngaku sama guru BK ya?" Ucap Azka sambil menghela nafasnya
"Apa pelakunya udah ketangkap pak? Kasihan mereka memar memar begitu" Tanya guru BK. Azka menoleh ke arah guru BK
"Lah, dari tadi emang udah ketangkep. kenapa nggak di hukum?" Tanya balik Azka
"Mana orangnya pak? biar nanti saya hukum suruh bersihin toilet di seluruh SMA ini" Ucap guru BK yang merasa kesal
"Hukum sekarang aja bu! Kalau nanti nanti, keenakan mereka " Ucap Azka
"Ya ampun, pak Azka ini gimana? Harusnya pelakunya di bawa kesini, biar saya hukum. Kalau pelakunya nggak disini, gimana saya mau ngehukumnya?" Jelas Guru BK
"Mereka berdelapan kan dari tadi di sini! apa lagi yang kurang?" Tanya Azka yang sedikit merasa kesal
"Apa!! mereka berdelapan pelakunya? Tapi mereka bilang mereka korbannya!" Ucap Guru BK
"Hehehe, maaf bu! Kami boong tadi" Ucap salah satu anak kelas tiga
"Ya ampun! Kalian ini! Udah salah masih bohongi saya segala! Hukuman kalian, ibu gandakan!" Ucap kesal guru BK
"Yah bu! Cukup uang aja yang di gandain, Kan Mayan. kalau hukuman jangan dong" Pinta salah satu anak kelas tiga
"Sekarang kalian ambil alat bersih bersih di gudang, trus kalian bersihin toilet mulai dari toilet bagian utara. Saya yang akan mengawasi kalian secara Langsung!" Ucap tegas Guru BK sambil berdiri dari duduknya
"Yah, bu! Kenapa harus bersihin toilet sih? Kenapa nggak kantin aja? Sekalian bisa jajan kan" pinta salah satu anak kelas tiga
"Nggak usah ngebantah! berdiri kalian! ayo jalan!" Perintah guru BK sambil membuka pintu ruang BK. Kedelapan anak itu pergi melaksanakan hukuman. sebelum pergi dari ruang BK, guru BK menyuruh Azka untuk menjaga ruang BK selama dia pergi mengawasi hukuman kedelapan anak itu
"pak Azka, tolong jaga ruang BK selama saya pergi" Pinta guru BK
"Kenapa saya har..." ucap Azka terhenti
"Terima kasih atas bantuannya pak!" Guru BK menyela bicaranya "Brak..."
dia menutup pintu ruang BK dan langsung pergi mengawasi kedelapan anak kelas tiga yang sedang menjalani hukuman
"He?" Azka merasa bingung. dia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi
"Akhh, kenapa malah jadi pengurus BK sih? Niatnya kesini cuma mau minta pendapat Agnes sama Vani soal hukuman anak kelas tiga!!"
"Eh.. oh iya, Agnes sama Vani dari tadi belum kelihatan. Dimana mereka ya? Apa belum sadar?"
"Biarlah, Yang penting aku udah kasih tau perawat. nanti juga mereka datang sendiri kesini" Ucap Azka pada dirinya sendiri
Sementara itu di UKS,
Setelah mengobrol banyak, Awani memutuskan kembali ke kelas untuk memberi kabar pada Putri
"aku balik ke kelas dulu ya. Kasihan Putri, sendirian" Ucap Awani sambil membuka pintu UKS. dia langsung pergi kembali ke kelas
__ADS_1
"Yokay" Ucap Vani setelah Awani keluar dari UKS
"belum di jawab udah pergi aja tu anak" sambungnya heran
"Hmm... Kita mau nunggu sampe bel pulang di sini?" Tanya Agnes
"Ngapain nunggu, lagian belnya masih dua jam lagi. Mending Kita langsung pulang" ucap Vani
"Oke" jawab Agnes. mereka berdua keluar dari UKS dan berjalan menelusuri lorong menuju pintu keluar gedung kelas sepuluh. di perjalanan mereka mengobrolkan sesuatu
"eh Van, kita kan harus ke ruang BK dulu" Ucap Agnes menghentikan langkah Vani
"Hm.. Iya juga ya, kalau gitu kita putar balik ke ruang BK" Vani membalik Arah jalannya menuju ke ruang BK. Saat berjalan ke ruang BK mereka masih mengobrol
"Abis dari Ruang BK langsung pulang kan?" Tanya Agnes
"Mau kemana lagi emang?" Tanya balik Vani
"Kali aja belom capek, trus main"
"Badan sakit sakit gini, masih mau main?"
"Kamu kan udah biasa beginian, buat kamu pasti enteng lah"
"Enteng palakau! tanganku sama badanku aja buat jalan pegel pegel gini" keluh Vani
"Yang buat jalan kaki bukan tangan apalagi badan" Ucap Agnes dengan ekspresi datar
"yee.. anjirr, lagi serius juga..." Ucap Vani
Sampai di depan ruang BK, Mereka membuka pintu dan masuk ke dalam. di sana mereka melihat Azka yang sedang duduk santai di kursi. Azka yang menyadarinya langsung menoleh ke arah mereka
"Nah loh, datang kan!" Ucap Azka pada dirinya sendiri
"Apanya pak?" Tanya Vani bingung
"Bukan apa apa, kalian berdua duduk" Ucap Azka. Vani dan Agnes duduk sesuai perintah Azka
"Pak, mengenai kartu peringatan ke tiga saya. Tolong jangan di skors pak! Saya baru aja kelar skors, masa iya di skors lagi!" pinta Vani bersungguh sungguh
"Iya pak! niat kami baik pak, nolongin adik kelas! Seandainya aja Kalau pas lawan mereka kami yang menang, kami rela di hukum. Tapi masalahnya kami kalah pak, masa kami di hukum juga?" jelas Agnes penuh kekecewaan
"Bukannya kalau di skors, kalian senang karena nggak sekolah ya?" tanya Azka
"Iya sih, tapi gimana nasib peringkat kami pak?! Kita ini murid terpelajar loh?! kalau turun pangkat bisa gawat" Ucap Agnes
"Kalau aku sih, tenang. Masih bisa les online, Hehew" Ucap Vani sombong
"Masalahnya, aku kalau nggak di ajar langsung. Nggak bakal bisa. Kalau bisa aja, Mungkin aku sekolah pas ujian doang" Ucap Agnes
"Iya juga ya, kita tetap murid terpelajar. Walau belajar di rumah" Ucap Vani
"Enak banget" Ucap Agnes
"di rumahmu, kamu pake guru Les kan?" tanya Vani
__ADS_1
"iya, mamaku yang kirim, tiap hari belajar"
"makanya aku selalu kabur pergi main. enak juga jadi kamu, belajar sendiri sesuai mood" jawab Agnes
"hm.. enakan kamu, mamamu deket. lha aku?! Mamaku di negara A, nggak pernah ketemu" ucap Vani murung
"udah gan, jangan di pikirin. kamu enakan belajar online si menurutku" ucap Agnes
"Yee, kalian berdua malah ngobrol sendiri. Saya gimana?" Ucap Azka
"Bapak juga mau ngajar online?" Tanya Agnes
"Kalau gitu, bapak juga bisa ngajar dari rumah. Nggak perlu repot repot ke sekolah. Dan juga, nanti saya pasti ikut pelajaran online bapak" Jelas Vani
"Kenapa malah bahas pelajaran online sih? Nggak nyambung amat" Ucap Azka bingung
"Emang dari awal kita lagi bahas apa pak?" Tanya Agnes
"Em..." Azka berusaha mengingat topik awal yang sedang mereka bicarakan
"Yes, rencana pengalihan berhasil" Bisik Vani pada Agnes
"anjay" Bisik balik Agnes
"Oh, mengenai surat peringatan kalian!" Ucap Azka secara tiba tiba
"Gagal b*ngsad" Bisik Vani pada Agnes dengan muka datar
"Iya, b*stard" bisik balik Agnes
"lah?? Kok b*stard?" Tanya Vani heran
"Biar greget lah. B*stard! Hehe" Jawab Agnes
"boleh juga si.. B*stard" Ucap Vani
"hey! Mulut kalian kotor!" Ucap Azka. mereka berdua langsung menoleh ke arah Azka
"Di depan guru, beraninya kalian ngomong begitu" ucap Azka kesal
"Kami ngomong apa pak? paling bapak nggak berani ngomong gitu" ejek Agnes
"Siapa bilang?! B*NGSAD!! B*STARD!!" Ucap Azka dengan lantang
"MULUT BAPAK JUGA KOTOR!!" Seru Vani ngegas
"Guru itu teladan bagi murid! Jadi jangan salahkan kami kalau kami ngucap begitu!"
"Kalau ada yang protes, kami tinggal bilang. ini kata kata yang pak Azka ajarkan pada Kami" jelas Agnes dengan senyuman
"heh?! Jangan jangan! Reputasi bapak bisa hancur gara gara itu!" Ucap Azka panik
"Kalau gitu bapak harus turuti kemauan kami, hehe" ucap Vani senang
"Satu permintaan aja, Apa? Jangan susah susah " Ucap Azka
__ADS_1
"Hmm.. setelah ini. antar kami pulang naik mobil bapak" Ucap Vani dengan senyuman di wajahnya