Cewek Berandal SMA

Cewek Berandal SMA
CBS_39


__ADS_3

Di pinggiran gedung, Vani membentangkan kedua tangannya. Dia memejamkan matanya dan merasakan dinginnya air hujan dan hembusan angin sore yang menerpa seluruh tubuhnya


("hahhh.. nyaman sekali, beban hidupku serasa berakhir disini") batin Vani sambil tersenyum


"Brakkk" Suara pintu atap yang terdorong sangat keras


"Vani!" panggil Jack sembari berlari ke arahnya


"Eh?" Vani terkejut dan menoleh ke asal suara


"Jack?!" panggil Vani. Dia berbalik menghadap ke arah Jack. tanpa Vani sadari, kaki kanannya terpeleset dan membuatnya terjatuh dari atas gedung rumah sakit


"Eh??" Pikirannya kosong seketika saat dia melayang di udara


"TIDAKK!! VANI!!" teriak Jack. larinya terhenti dan air matanya menetes di tengah hujan. dia menyesal karena terlambat datang untuk Vani


"AKHH!! bodohnya aku!"


"Vani, kenapa? Kenapa pikiranmu sesempit itu?!" teriak Jack sambil menangis keras


"Akhh! Sial! Kenapa ini terjadi!"


"Ouy Jack, ngapain teriak teriak begitu" Teriakan seseorang menggema di telinga Jack


Tangisan Jack seketika berhenti sejenak,


"Eh? barusan suara Vani?! Apakah itu suara rohnya?"


"aku harus mengucapkan salam perpisahan"


"Selamat Jalan Vani" Jack mencoba tersenyum dan melambaikan tangannya dengan perasaan sedih yang mendalam


"Woy! B*ngsad, jangan tinggalin woy!" Teriak Vani


"Heh?" Jack berjalan menuju pinggiran gedung dan menoleh ke arah bawah. Ternyata atap gedung itu terdiri dari dua bagian, Vani hanya terjatuh sekitar dua meter dari atap atas. kini dia tergeletak di atap bawah


"Woy, bantu naik B*ngsad" teriak Vani sembari melambai lambaikan tangannya. Jack langsung lompat ke bawah dan menghampiri Vani. Dia mendekap Vani dengan erat


"Dasar bodoh, kenapa kamu nekat loncat. Kalau ga ada tempat ini mungkin kamu sudah terjun ke bawah" Ucap Jack


"Jack, jangan kenceng kenceng woy, nafasku abes!" Vani mendorong Jack menjauh


"Huh, hampir aja aku mati beneran gara gara kamu"


Jack memegang kedua pundak Vani dan menatapnya dengan serius


"Van! dengarkan aku. Kalau kamu ada masalah, bukan begitu cara menyelesaikannya"


"kamu bisa bilang ke aku, kalau nggak ke Ray. kita pasti bantu"


"Kamu udah bikin aku khawatir setengah mati, apa lagi kalau Ray yang liat. Dia pasti mati beneran! Ikutan terjun"


"Ha?" Vani kebingungan dengan apa yang dikatakan Jack

__ADS_1


"Van! Masa cuma karena Ray begitu, kamu frustasi trus mau bunuh diri!"


"Kenapa kamu berubah begini? Kemana Vani yang selalu optimis?"


"Hah? Bunuh diri? Siapa yang bunuh diri?" tanya Vani bingung


"Tadi kamu ngebentangin tangan trus jalan ke pinggiran gedung, kalau nggak bunuh diri mau ngapain?"


"Aku berani jalan kepinggir karena aku tau atap ini ada dua bagian dan soal aku ngebentangin tangan, aku cuma mau ngerasain hawa sore"


"kamu kesini bukan mau bunuh diri?" Tanya Jack


"Aku? Bunuh diri? Mana mungkin, aku bukan tipe orang yang suka menyesali sesuatu!" Ucap Vani bangga dengan kepribadiannya


"Baguslah, ayo balik. Kita bisa masuk angin kalau kena air hujan kelamaan" Ajak Jack


"Aw..." Vani merasa kesakitan saat mencoba berdiri


"Kakimu masih sakit? Aku jadi heran, gimana kamu bisa sampai sini?"


"Ada lift ngapain jalan"


"lagian barusan aku jatuh lagi, kakiku kena duluan"


"dasar, selalu saja menyusahkan" Ucap Jack sambil menghela nafas


"aku akan menggendongmu" Jack menggendong Vani


"Kamu berat juga"


"Nah, sekarang gimana cara kita naik keatas!" Tanya Jack sembari menoleh ke arah tembok setinggi dua meter di hadapannya


"yah, kamu sih! Ngapain tadi turun segala, harusnya tadi kamu diatas tarik aku"


"Turunin aku! Kamu kan tinggi, kamu naik dulu, abis itu kamu tarik aku" Ucap Vani


"Oke" Jack menurunkan Vani. dia berjalan mendekat ke tembok dan bersiap memanjat ke atas


"Hachih..." Vani bersin karena kedinginan. Jack mendengar suara Vani bersin, dia kembali menghampiri Vani. Jack melepaskan Jaketnya dan menyelimutkannya ke Vani


"Ngapain?" Tanya Vani dengan ekspresi datar


"Biar kamu nggak kedinginan" Jawab Jack sambil tersenyum manis


"ya elah, kita sama sama kehujanan. jaketmu juga basah kuyup gini. Sama aja dingin, nggak ada efeknya boy"


"Kasih respon yang imut dikit lah, setiap kali bicara, kamu selalu ngegas gitu. Gaada feminimnya sama sekali"


"Suka suka njerr"


"woy cepetan naik! Keburu malam nih" Ucap Vani


"Iya iya" Jack memanjat tembok bangunan setinggi dua meter itu dengan cepat

__ADS_1


"Van, kamu berdiri di samping tembok itu! Biar aku nyampe nariknya" Ucap Jack


"Gimana cara berdirinya lol" Ucap Vani kesal


"ngerangkak ke tembok, trus berdiri pegangan tembok" Ucap Jack. dengan susah payah, Vani berhasil berdiri di samping tembok. Jack menggapai tangannya dan menarik Vani dengan perlahan, akhirnya Vani berhasil naik


"Huh! Akhirnya naik juga" Ucap Vani lega sambil melihat sekitar. dia melihat sesuatu di sudut gedung atap


"Heh? Jack! di sana ada tangga njerr. ngapain manjat tembok segala, F*ck.. Sia sia sumpah!" Ucap Vani kesal


"Iya, kenapa aku nggak sadar dari tadi"


"angkat kamu berat tau" Ucap Jack yang juga merasa kesal


"Akh.. Udah lah, ayo masuk!"


"Ayo!" Jack berjalan menuju ke pintu atap


"Woy! Jack.. Akh... Bikin orang emosian aja!" Teriak Vani kesal


"Aku lupa" Jack putar balik dan menjemput Vani. Setelah itu mereka berdua turun dari atap dan masuk ke kamar Vani


"Jack ambilin tasku itu! Aku mau ganti baju" Ucap Vani


"Ini?" Jack membawakan tas Vani


"Kamu mau ganti baju disini?" Tanya Jack


"Iya! Emang mau ganti dimana lagi"


"Eh? Kalau gitu, aku pulang ganti baju juga!" Ucap Jack sambil memalingkan Wajahnya


"Pake mobilku aja, mobilku di parkiran bawah..." Ucap Vani


"eh, Mobilku abis kecelakaan trus hancur. Kemungkinan besar di bengkel kalau nggak udah jadi rongsok" Ucap Vani setelah menyadarinya


"Hm.. Nggak apa, aku jalan. toh apartemenku deket dari sini" Ucap Jack


"Oh.. Di pojok situ ada payung. Pake aja"


"Tadi pagi dokter kesini buat periksa, bawa payung. Mungkin ketinggalan"


"Pake aja lah. Oh ya Jack, malam ini kamu tidur disini ya" Ucap Vani


"aku di ranjang, kamu sofa" Ucap Jack sambil tersenyum


"Njerr, maumu! Kamu yang tidur di sofa"


"Iya iya, kamu hati hati sendirian ya. Aku kesini tiga jam lagi" Ucap Jack sambil membuka pintu ruangan


"Lama banget, cepetin dikit lah" Ucap Vani


"hmm.. dua jam lima puluh sembilan menit lagi aku kesini, tunggu ya" Ucap Jack sambil melangkah pergi dari ruangan Vani.

__ADS_1


"ngga ngefek" Ucap Vani dengan ekspresi datar


__ADS_2