
Ketika Vani tersadar, dia sudah berada di ranjang rumah sakit. Di sampingnya ada kedua orang tuanya yang menungguinya. Pertama kali membuka mata, pengelihatan masih samar samar melihat semua itu
"Maa, paa" panggil Vani dengan suara lirih
"Beneran mama sama papa!" mata Vani terbuka dengan lebar dan kesadarannya langsung kembali
"akh.. aduh. badanku sakit semua"
"Van, kamu udah sadar. Mama udah bilang, kamu belum boleh bawa mobilnya. Umurmu belum cukup!"
"Nyesel mama beliin kamu mobil itu. Sekarang kamu begini, kamu sendiri yang menderita kan?" Ucap mama Vani cemas
"Maa, aku nggak apa. Aku sehat nih" Vani mencoba mengangkat tangan kanannya, namun tangannya tidak dapat digerakan. sejenak dia tertegun
"Heh? Tanganku kenapa nih! di cubit nggak kerasa! Kenapa tangan kanan ku?!"
"Wah! Pasti aku masih mimpi nih! woy astaga! Tangan ku kenapa ini!" Vani berkali kali mencubit tangan itu namun dia masih tidak dapat merasakannya
"sayang, Tenang dulu nak. Mama sebenarnya nggak tega bilangnya"
"Tapi yang kamu cubit bukan tanganmu tapi tangan temanmu. dia tidur disisihmu sejak mama dateng kesini"
"tanganmu nggak bisa gerak gara gara ketindih tangan dia" Jelas mamanya
"ya elah, bisa semutan tanganku. Woy! Jack! Bangun" seru Vani. dia mencubit tangan Jack dan menarik paksa tangannya dari tindihan tangan Jack
"akh! Sakit tau" Jack tersadar dari tidurnya dan langsung mengusap usap tangannya yang tercubit Vani
"Huh! Tanganku masih utuh" Vani merasa lega setelah melihat kedua tangannya masih berada di tempatnya
"Oh ya, Ray tadi siang bareng aku. dimana dia?" Tanya Vani penasaran
"Tadi siang? Masih mimpi ya? Ini udah tiga hari semenjak kejadian itu!" Jelas Jack
"Apa? Tiga hari? selama tiga hari ini aku tidur disini?" Tanya Vani terkejut
"aku sampai hubungin orang tuamu. mereka rela jauh jauh terbang kesini demi kamu" jawab Jack
"Kemaren juga temen temenmu kesini, Agnes juga ada"
"oh, kasih tau mereka kalau aku udah sadar" Ucap Vani
"hmm.. aku kabari Agnes sekarang. tapi kayaknya dia masih sekolah"
"Lah kamu? Kok nggak sekolah?"
"Aku lagi libur hari ini!" ucap Jack sambil tersenyum
"Lagi ada apa emangnya? Kok sekolahku nggak libur sih" Tanya Vani
"libur sendiri"
__ADS_1
"njirr, tinggal bilang bolos apa susahnya sih!"
orang tua Vani sibuk dengan laptop kerja mereka, Vani merasa bersalah karena telah mengganggu waktu mereka
"Ma, pa. Kalian lagi ngapain?" Tanya Vani
"ada masalah di kantor. cuma papa yang bisa tangani" Jawab papanya
"Kalau gitu mama sama papa pulang aja. Urus kerjanya dulu, kalau udah kelar nanti kesini"
"Kalau nggak Vani deh yang ke sana. Mama sama papa kelihatannya capek banget. Jangan lupa istirahat pas kerja ya" Ucap Vani
"mana bisa istirahat pas kerja!" Bisik Jack pada Vani
"Diem kau Udin!" Bisik balik Vani
"dikatain udin lagi!"
"nak, kami nggak bisa ninggalin kamu pas keadaanmu sakit gini" Ucap Mamanya
("Udah biasa nih begini, ntar juga lebih milih kerja dari pada aku. Liat aja nanti, akan ku beri kalian berdua cobaan dari seorang anak") batin Vani
"Nggak apa ma, disini ada Jack sama yang lain. Toh ada om sama tante yang deket kok. Mama sama papa pulang aja"
"Kamu beneran udah bisa ditinggalin kita?" Tanya Mamanya
("Nahloh, mau ninggalin aku kan")
("Nah nah.. pasti mau pergi beneran nih")
"baiklah kalau kamu yakin"
"kamu jaga kesehatan ya, nanti mama suruh tantemu buat kesini" Ucap mama Vani sambil mencium kening Vani
"Papa juga minta maaf nggak bisa jagain kamu selama ini. Kamu hati hati disini ya" Ucap Papa Vani sambil mencium kening Vani
"Iya ma pa, kalian berdua juga jaga kesehatan. Kerja boleh tapi jangan sampe sakit" Ucap Vani
"Iya sayang, bye bye" Kedua orang tua Vani melambaikan tangannya dan pergi keluar dari ruangan Vani. Vani merasa kecewa dengan sikap orang tuanya yang hanya selalu memikirkan pekerjaan mereka
"Tuh kan! Kaya biasa. Udah aku duga, ngapain kamu telpon mereka segala sih!" Ucap Vani
"Mereka kan orang tua kamu!" Ucap Jack
"Orang tua? Mereka cuma mikirin kerja mereka dari pada anaknya yang lagi sakit"
"Mereka kerja juga demi kamu. Harusnya kamu bersyukur! Jangan begitu!"
"lagian yang nyuruh mereka pulang barusan kan kamu!" Ucap Jack ngegas
"Udah lah, aku laper! kupasin aku pisang sama ambilin aku air" Ucap Vani. Jack memberikannya segelas air dan mengupaskan pisang untuknya
__ADS_1
"Nih... Makan!" ucap Jack sembari memberikan sesuatu pada Vani
"njerr.. Kamu kira aku kambing apa! Dikasih makan kulit pisang gitu, pisangnya di makan sendiri lagi!" Ucap Vani
"Ahahahaaa, maaf maaf. Aku juga laper" Ucap Jack sambil tertawa
"Nih aku kupasin lagi" Jack kembali mengupaskan pisang untuk Vani dan memberikannya
"Makasih Udin" Ucap Vani sambil tersenyum manis
"tcihh" Ucap Jack
Jack ikut memakan buah buahan yang ada di sana. setelah mereka berdua merasa cukup kenyang, Mereka menyudahi makan dan mulai mengobrol
"Van, yang top up kamu kan?" Tanya Jack
"Top up apa?"
"Top up di game, abis empat juta lagi"
"oh itu! itu karena kamu bantu aku pas itu" Ucap Vani sambil tersenyum
"pas itu kapan?"
"Kapan kapan deh. Kalau nggak bantu aku besok" Ucap Vani
"Aduh! Gawat" Teriak Vani setelah teringat sesuatu
"Ada apa? Ada yang sakit? Yang mana?" Tanya Jack
"Bukan itu, tapi game ku udah tiga hari nggak login. Nggak dapat reward deh. Ah.. Kenapa mesti sakit segala si" Ucap Vani kecewa
"Ngomong ngomong soal sakit. Ray dimana ya? Kok nggak keliatan"
"Ray.. dia Sudah..." Ucap Jack dengan ekspresi sedih
'degg'
Vani terkejut mendengar ucapan Jack
"Sudah apa?!"
"saat kecelakaan dia ngelindungin kamu pake tubuhnya. Alhasil dia...." Ucap Jack terhenti
"Kenapa woy! jangan berhenti di tengah dong!" ucap Vani ngegas
"Ray, dia..."
"dikamar sebelah, tangan Kiri Ray hancur dan harus di amputasi gara gara nahan beban mobil buat ngelindungin kamu" jelas Jack
Vani langsung merasa bersalah pada Ray, dia memutuskan untuk menemui Ray saat itu juga. Namun dia belum bisa bergerak dari kasurnya. Dia mengurungkan niatnya untuk menemui Ray dan dia kembali tidur untuk memulihkan staminanya
__ADS_1
"Tunggu Van, jangan tidur. minum obat" Jack memberikan obat kepada Vani. setelah meminumnya, Vani tertidur