
Keesokan harinya, Vani sudah bisa duduk dan berdiri walau masih dengan bantuan Jack. Luka luka di tubuhnya sudah mulai kering. Saat itu dia terbangun dan duduk di kasurnya. Di Sana dia bersama Jack yang setiap hari pergi ke rumah sakit untuk menemaninya
"Van" panggil Jack sambil membuka pintu, dia membawa sebuah bungkusan ditangannya
"Apa tuh" Vani penasaran dengan bungkusan itu. Pandangannya hanya tertuju pada bungkusan itu
"Ett.. Apanya" Jack menyembunyikan bungkusan di belakang badannya
"Woy! Bawa apa kamu?! Sate pasti!" ucap Vani yakin
"Yah, tau aja! Nggak jadi kejutan" Ucap Jack sambil meletakkan bungkusan sate di sebelah Vani
"Makasih Jack, kamu yang terbaik!" Ucap Vani senang
"temen temenku ngga ada yang kesini loh, kamu doang yang tiap hari kesini. jadi ragu mereka temenku apa bukan"
"Oh ya, kamu dah lama temenan sama Agnes kan?" Tanya Jack
"wih.. ada apa nih? tanya segala" goda Vani
"aku sama dia kemarin taruhan. siapa yang tahu favorite lawannya lebih dulu menang"
"hadiah taruhannya Skin Legend dari kamu" jelas Jack
"njirr, kenapa harus aku yang kasih hadiah?!" tanya Vani terkejut
"Kamu sering top up game kan? apa salahnya kirim satu skin ke kita"
"Yang bener aja! Skin Legend mahal woy! Kamu kira, uangku tinggal ambil apa?!"
"Emang iya, kamu tinggal ambil di atm kan?"
"um.. Iya sih"
"tapi kan aku baru aja give kamu diamond banyak, kemana semua?"
"kalau itu, ku jual buat keperluan" ucap Jack
"heh? dapet berapa?"
"enam juta, buat bayar sewa apartemen nunggak"
"kasihan amat. iya deh" ucap Vani iba
"nice. Nih satenya makan, aku tanya tentang Agnes nanti aja" Ucap Jack sambil membukakan bungkusan sate untuk Vani
"humm.. enak" Vani melahap semua sate yang di belikan Jack. di tengah makan dia teringat sesuatu dan menghentikan aktivitas makannya
"Ngomong ngomong soal sate. Sebelum aku kecelakaan sama Ray, kita berdua makan sate di warung makan. Apa sate itu bawa sial ya"
__ADS_1
"Mana ada sate bawa sial, itu karena kecerobohan mu. pakai nerobos lampu merah segala" Ucap Jack
"Pas itu, perutku sakit sih..." Ucap Vani sambil memegang perutnya yang tertusuk pisau
"Loh, kok udah nggak sakit" Ucap Vani terkejut sambil menekan nekan perutnya
"Udah empat hari, lukanya udah nutup"
"Hm... Bener juga ya. Btw Ray udah sadar?" tanya Vani
"Belum, kalau sadar dia pasti syok berat. Tangannya hilang satu"
"Hm.. Bener banget, salah sendiri sih" Ucap Vani mengangguk
"kamu penyebabnya!"
"Loh kok aku sih?" Ucap Vani terheran
"kamu yang ceroboh, Ray yang tanggung kan"
"Loh? ini salah Ray lah, ngapain dia ikut aku"
"Harusnya waktu itu aku yang jaga kamu, mungkin kejadian ini nggak akan terjadi"
"pake sok minta Ray yang jaga, trus masih sakit kenapa harus kabur?"
"Toh .. Kamu balik ke rumah sakit lagi kan?" Ucap Jack
("oh inget! pas kejadian itu aku lagi ngambek sama Jack, gara gara dia milih main game sama Agnes. Masa aku harus bilang begitu sih, bisa rusak reputasiku!")
"Pas itu, Aku cuma pengen sama Ray doang hehe" Ucapnya sambil tersenyum
"Kamu... Suka sama dia?" Tanya Jack
"Yeee.. Mana ada. pas itu, cuman ada sesuatu yang mau aku omongin ke Ray"
"tentang?"
"Masalah perusahaan, nggak boleh di beberkan"
"katakan semuanya!" Ucap Jack
"ngga usah ngegas juga kali"
"terserah aku" jawab Jack singkat
"Yeee, anjirrr kau" Ucap Vani
"eh.. ayo ke ruangan Ray. Aku mau lihat kondisinya!" Vani turun dari ranjang pasien
__ADS_1
"Kamu bisa berdiri?" tanya Jack sambil memegangi tangan Vani. Jack menuntunnya berjalan sampai ke kamar tempat Ray di rawat. Mereka masuk ke dalam ruangan itu
"Kasihan amat dia, gaada yang nungguin lagi" Ucap Vani iba
"kita tunggu sampe dia sadar" Ucap Jack
"Oke" Jack dan Vani duduk di sofa dan mengamati Ray yang masih belum sadar juga
"tangannya kirinya hilang trus banyak perban di tubuhnya"
"kasihan banget" ucap Vani
"Kamu sih nggak hati hati. Kamu kan belum punya sim, kenapa nyetir?!" ucap Jack
"anjay, selama ini kamu ngapain aja?"
"Masa dari dulu sampe sekarang, kamu negurnya pas aku kena musibah! Nggak salah?"
"Hm... aku mulai tau sifatmu, pasti kalau aku sama Ray nggak begini. Kamu nggak bakal negur, apa lagi datang kesini! Pasti kamu milih main game kan?"
"hmm.. kalau kamu nggak disini, ngapain aku ke rumah sakit?"
"yayaya, terserah"
"Kita ngeliatin Ray gini trus?" Vani mengubah topik pembicaraan dengan cepat
"siapa tau dia bangun"
"Oke, Ayo betah betahan" Ucap Vani sambil mempertajam pengamatannya mengawasi Ray
Satu jam berlalu, Jack dan Vani masih diam ditempat dan mengamati Ray
Lima jam berikutnya, mereka berdua sudah tidak tahan mengamati Ray. Mereka memutuskan untuk menyudahinya
"Udah lah, bosen. nggak bangun juga" Ucap Vani sembari menghela nafas
"Iya, lima jam lebih nunggu, nggak ada perkembangan"
"Ayo balik, kamu harus istirahat. besok kesini lagi" Ucap Jack
"um iya, moga besok Ray udah bangun" Ucap Vani kecewa. Jack membantunya berdiri dan menuntunnya berjalan keluar Kamar. saat Jack hendak membuka pintu kamar itu, tiba tiba terdengar suara histeris menggema
"ARGH!... Wuaa.. akh!!" Ray berteriak histeris berualang ulang. Vani dan Jack langsung menoleh ke arahnya. Saat itu Jack langsung berlari menghampiri Ray untuk mengecek kondisinya
"Ray ada apa?! sadarlah!" ucap Jack panik. Ray tetap berteriak histeris
Vani berdiri berpegangan pintu, dia mencoba menghampiri mereka berdua
"Buggg" "AKH!" kakinya yang masih belum pulih membuatnya tidak dapat menompang tubuhnya, dia terjatuh ke lantai. Jack yang menyadarinya langsung menoleh kearahnya
__ADS_1
"Ngapain kamu dilantai?! Mau ngepel? Sekarang bukan waktunya!" Ucap Jack
"Udah, jangan becanda Jack! pencet belnya biar dokternya kesini!" seru Vani. Jack langsung memencet bel untuk memanggil dokter. Setelah beberapa saat, dokter masuk dan menghampiri Ray. Dia segera memeriksa keadaan Ray