
Azka menyetujui permintaan Vani dan Agnes untuk mengantar mereka berdua pulang dengan mobilnya. Namun sebelum pulang, mereka masih membicarakan soal surat peringatan di ruang BK
"Oke, bapak setuju kalau bapak harus antar kalian pulang. Tapi kalian lupakan kejadian barusan!" Ucap Azka serius
"Sip dah" Ucap Vani senang
"Trus mengenai surat peringatan? Gimana pak? Ringanin juga lah" Ucap Agnes
"Sebenarnya kalian di panggil kesini bukan untuk bahas surat peringatan" Ucap Azka
"Jadi, Kami nggak dapat surat peringatannya pak?" Tanya Agnes senang
"Iya" jawab Azka singkat
"Horee!" Teriak Vani dan Agnes senang sambil melonjak lonjak kegirangan
"Udah udah, kembali duduk" Ucap Azka. Agnes dan Vani kembali duduk dengan tenang
"Jadi? Ada urusan apa bapak panggil kami?" Tanya Vani sambil tersenyum
"Mengenai pembullyan kalian. Kalian mau apakan anak anak kelas tiga yang sudah bully kalian?" Tanya Azka
"ha? kita di bully?"
"Oh, mereka ya? Kami nggak peduli. Kami serahkan hukuman mereka ke pak Azka aja dan juga kasih tau mereka, kalau kami belum kalah" ucap Vani
"Beneran kalian nggak mau kasih saran buat hukum mereka?" Tanya Azka
"Iya iya, kita pulang sekarang aja pak!" Ucap Vani sambil berdiri dari duduknya
"Sekarang?" Tanya Azka
"Iyaaa" Jawab Vani
"hmm.. bapak ijin ke kantor dulu sama minta orang buat jaga ruang BK. Kalian tunggu aja di parkiran" Ucap Azka sambil berjalan keluar dari ruang BK
Vani dan Agnes pergi ke parkiran dan menunggu Azka di samping mobilnya. Setelah lama menunggu, akhirnya Azka muncul. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan duduk diam. Vani duduk di kursi depan samping Azka dan Agnes di kursi belakang
"Jangan lupa pasang sabuk pengaman" Ucap Azka
"Siap" Ucap Agnes sambil memasang sabuk pengamannya
"Vani? Kok kamu nggak sandaran ke kursi? Nggak usah sungkan sungkan. Anggap aja mobil sendiri, rileks aja" Ucap Azka
"beneran anggap mobil sendiri pak? boleh saya jual?" tanya Vani
"nggak gitu juga, rileks maksudnya" ucap Azka dengan ekspresi datar
"masalahnya punggungku lagi sakit, Kalau di sandarin tambah sakit" Ucap Vani
"Luka kalian berdua parah juga ya. Di rumah kalian tinggal sendiri?" Tanya Azka
__ADS_1
"Iya pak" jawab kompak Vani dan Agnes
"Oo.." gumam Azka
Azka melajukan mobilnya. di perjalanan, Azka menanyakan alamat pulang ke rumah Agnes dan Vani
"Rumah kalian dimana?" Tanya Azka
"Ke rumah saya dulu pak, yang deket. Hehe" Ucap Vani
"Kalau gitu ke arah mana?" Tanya Azka
"Di perempatan depan belok kanan, jalan selanjutnya nanti saya yang tunjukin" jelas Vani. Saat melewati perempatan, mobil Azka berbelok ke kiri dan tetap melaju
"Loh loh, rumah saya ke arah kanan pak bukan kiri. Putar balik pak" Ucap Vani bingung. Namun Azka tetap diam dan fokus mengemudi
"Woy! Budek apa?! Rumah saya putar balik woy" Ucap Vani Ngegas
"Santai Van, slow. kita ikuti cara mainnya" Ucap Agnes Kalem
mobil Azka berbelok di suatu bangunan dan parkir. Azka turun dari mobil
"Loh, kok ke rumah sakit?" Tanya Vani kebingungan
"Mungkin mau cek telinga pak Azka, masih budek apa nggak" jawab Agnes
"Kalian berdua turun" Ucap Azka dari luar jendela mobil
"Mau ngapain pak?" Tanya Vani bingung
Vani dan Agnes turun dari mobil dan mengikuti Azka masuk ke dalam rumah sakit. Mereka bertiga berjalan menuju suatu ruangan
"eh, liat tandanya"
"Pak, ruang pemeriksaan telinga sebelah kiri pak" Ucap Agnes sopan
"Njerr beneran cek telinga" Ucap Vani dengan tawa kecil
"Nanti Jangan lama lama ya pak!" Ucap Agnes
Azka berhenti berjalan di depan suatu ruangan,
"Kalian berdua masuk" Ucap Azka
"Loh kok kita pak?" Tanya Agnes kebingungan
"puftt.. Kenapa di ruangan dokter umum? bukannya mau ke dokter telinga?" Tanya Vani sambil menahan tawanya
"Kenapa ke dokter telinga?" Tanya Azka sambil melepaskan earphone yang dia pakai
"Anjirr, dari tadi ditanya nggak nyaut, di kira kena masalah telinga. Malah pakai earphone. Tertipu aku" Ucap Agnes syok
__ADS_1
"Aku juga tertipu" sambung Vani
"Udah, sana periksa" Perintah Azka
Azka menunggu pemeriksaan dengan duduk di kursi tunggu rumah sakit. Agnes dan Vani masuk ruang pemeriksaan dan di periksa dokter. selesai pemeriksaan, mereka berdua keluar dari ruang pemeriksaan dan pergi ketempat Azka duduk
"Oh, kalian selesai? kalau gitu kalian tunggu disini dulu, bapak mau cek sesuatu. jangan keluyuran kemana mana ya" Ucap Azka sambil berdiri dari duduknya. Vani dan Agnes duduk dan Azka pergi menemui dokter
"Dok? Gimana luka mereka berdua?" Tanya Azka pada dokter
"Maaf, mereka siapa ya?" Tanya dokter kebingungan
"Loh, dokter yang barusan periksa mereka kan?" Tanya Azka
"Oh, saya baru dateng mau periksa pasien, malah di cegat anda" Ucap dokter
"Ahahhaaa, salah dokter. maaf sudah mengganggu" Ucap Azka sambil menundukan badannya sejenak
"Ahahaaha, iya nggak apa. saya permisi" Dokter itu tertawa dan berjalan pergi meninggalkan Azka. Azka kembali ke tempat Agnes dan Vani duduk
"Dokter yang periksa kalian dimana?"
"Masih di dalam ruangan pak" Jawab Vani. Saat itu juga Azka langsung pergi keruang pemeriksaan
"Dia kenapa sih? kayak orang linglung gitu" Tanya Agnes heran
"Entahlah, kesambet mungkin" Jawab Vani
Azka masuk ke ruang pemeriksaan dan bertemu dengan dokter yang telah memeriksa keadaan Vani dan Agnes
"dok, saya wali dari dua anak yang barusan dokter periksa. gimana keadaan luka Vani dan Agnes pak?" Tanya Azka
"Luka dari Agnes tidak terlalu parah, dia cuma perlu istirahat. rajin minum obat bisa membantu pemulihan lukanya dan jangan lupa ganti plester setiap hari. Kalau Vani, di tulang punggungnya sedikit retak, tapi tidak bahaya. Retak itu bisa hilang dengan rajin konsumsi obat. Untuk luka luar, di bagian punggung Memarnya cukup lebar. juga harus rajin di olesi salep. Saya sudah buatkan resep buat mereka berdua. Anda bisa tebus nanti" Jelas dokter panjang kali lebar
"Terima kasih dok, saya akan pergi tebus obatnya" Ucap Azka. Azka keluar dari ruang pemeriksaan dan pergi ke kasir untuk membayar dan menebus obat. Setelah selesai, Azka menghampiri Vani dan Agnes yang masih duduk di kursi tunggu rumah sakit
"Udah selesai pak?" Tanya Vani yang menyadari kehadiran Azka
"Lama banget, ngapain aja sih?" sambung Agnes
"Ini juga demi kalian, ni obatnya" Ucap Azka sambil menyerahkan sekantung obat pada mereka. Agnes menerima obat itu
"Wihhh, baik juga mau nebus obat. Mau ganti nggak nih?" Tanya Vani senang
"Nggak perlu" Ucap Azka
"Sebenarnya kami nggak perlu di periksa beginian. Luka ini, palingan juga sembuh sendiri" Ucap Agnes pada Azka, namun Azka tidak memberikan respon
"Ayo pulang" Ajaknya sambil berjalan meninggalkan mereka berdua
"M*mpus kau, dikacangin" Ucap Vani sambil berjalan mengejar Azka
__ADS_1
"Yee, anjirr" Agnes ikut menyusul mereka berdua
Mereka bertiga kembali menaiki mobil. Di perjalanan menuju rumah Vani. Agnes berniat memberi tahu putri lewat chat bahwa dia sudah pulang. Namun saat dia mengambil hp disaku nya,