
Dari awal Jack sudah menyadari keberadaan Vani, namun dia menyembunyikannya dari yang lainnya. Jack bisa melacak keberadaan Vani melalui handphonenya dengan mudah
"Jack, kenapa kamu tau aku disini?" Tanya Vani
"cukup mudah bagiku" jawab Jack kalem
("bjir.. dia bisa hack GPS juga?!")
"Jack, plis ya. Jangan bilang yang lain kalau aku disini" pinta Vani
"Hm.. dua syarat" ucap Jack singkat
"Oke, asal kamu nggak ember" dengan cepat Vani menyetujuinya
"pulanglah ke rumah, aku nggak akan kasih tahu yang lain" Jack mengatakan syarat pertama yang harus di penuhi Vani
"Yah.. Kok pulang sih, rencana ku bakal gagal dong" keluh Vani
"oke fine, Terserah kamu si" ucap Jack cuek
"Okeoke, asal jangan bilang Ray sama yang lainnya"
"Syarat satunya apa?"
"bayar makananku" Ucap Jack sambil tersenyum
"heh? kamu kesini cuma buat numpang makan?" ucap Agnes. Jack menoleh ke arahnya
"Kamu siapa?" Tanya Jack
"Aku? Agnes, temen sekelas Vani" Agnes memperkenalkan dirinya dengan lancar
"hmm.. kamu main game?"
"Tepat, aku udah main game online dari SMP" Jawab Agnes bangga
"yok Mabar" Ajak Jack terus terang
"Lah? Aku nggak di ajak?" Tanya Vani
"bukankah aku menyuruhmu pulang?" tanya balik Jack
"Humph... Apa yang kamu lakukan ke saya itu, Jahat!" Ucap Vani sambil memalingkan wajahnya
"terserah" ucap Jack cuek
"Njerr, kamvret kau" Vani memasang ekspresi datar
"eh Nes, ayo pulang. Kalian bisa mabar nanti"
"Oke deh, Jack save nomorku. Nanti malem kita mabar" ucap Agnes. Jack memberikan handponenya pada Agnes dan Agnes menyimpan kontaknya di sana
"oke, bye bye" Jack mengangkat setengah tangan kanannya dan melambai kecil
__ADS_1
"tcihh.." Vani pergi meninggalkan Jack dari cafe itu. Saat itu, Ray dan Citra sudah kembali ke markas. Vani dan Agnes masuk ke dalam mobil dengan bebas
"ya elah! Udah jauh jauh kesini. masa iya sih, pulang!" Ucap Vani kesal
"Nggak apa, setidaknya aku dapet partner mabar hehe" Ucap Agnes senang
"mabar aja terus"
"Jack bisa hack lokasimu lewat data di hpmu kan?" tanya Agnes
"Iya njirrr. Kenapa dia mesti pinter begituan sih" Jawab Vani kesal
"hum.. aku ada ide"
"heh? apaan?"
"Jadi gini, hp sama laptop yang kamu bawa, Serahin ke aku! Aku bawa balik ke kota naik taxi. kemungkinan besar kalau dia hack lokasimu lagi, pasti dia kira kamu pulang beneran" Jelas Agnes
"Widih, kancil yang bijak! Kok kamu bisa mikir kesitu sih?" Ucap Vani takjub
"padahal barusan ku mikir buat matiin MI-FI nya, biar nggak ke hubung ke internet. dia kan hack online, misal target offline, ya gagal pasti. tapi ku ngga tau kemampuan aslinya, ngga bisa ngeremehin juga"
"kalau kamu offline, dia pasti curiga kamu masih disini. ntar kalau dia hack CCTV di sepanjang jalan buat nemuin kamu gimana?"
"iya juga si"
"tapi misal laptop sama hpku di kamu, aku mantau mereka gimana?" Tanya Vani
"Hoho, kalau itu. Kamu pikir aja sendiri"
"Van, kamu cari tempat lain buat parkir. Disini nggak aman"
"Yokay, hati hati Nes" ucap Vani sambil menyalakan mesin mobilnya. dia melajukannya pergi dari parkiran itu untuk mencari parkiran baru yang lebih aman. dia memarkirkan mobilnya di parkiran hotel yang agak jauh dari markas. dia juga menyempatkan diri memesan kamar hotel dan memasukinya
"Hehe, kalau gini. Mobilku nggak bakal ketauan deh"
"Nah, sekarang aku ke markas pake apa!"
"Taxi online? Nggak bisa pesen. taxi biasa? Nunggu lama pasti"
"oh.. cari pangkalan ojek di bawah" Ucap Vani sambil berdiri dari kasur. Dia keluar dari hotel dan mencari pangkalan ojek di jalanan sekitar hotel. Setelah mencari kesana-kemari, dia menemukan pangkalan ojek
"bang, ojek bisa?" tanya Vani
"Mau kemana Neng?" Tanya balik tukang ojek
"Ke.. nggak tau nama jalannya, tapi aku tau tempatnya"
"oke, Neng yang tunjukin arah ya" Ucap tukang ojek sambil menyalakan mesin motornya. Vani naik membonceng dan menunjukkan arah jalan ke markas pada tukang ojek. dari jarak yang tidak terlalu jauh dari markas, Vani menghentikan supir ojek karena dia melihat Ray dan yang lain keluar dari markas bersama sama
"Ehh... Stop bang stop" Ucap Vani sambil menepuk nepuk pundak tukang ojek
"Nih uangnya" dia buru buru turun dari motor dan melepas helm. Dia memberikan selembar uang seratus ribu pada tukang ojek dan langsung pergi bersembunyi di halaman rumah orang. dia mengintip dari celah
__ADS_1
("Anjirr, mereka udah mau berangkat!") batinnya
"Neng ongkosnya kelebihan" Teriak tukang ojek memanggil
"Hust, berisik. bawa aja" Bisik Vani mengusir
("eh? Mereka jalan..") Vani mengikuti rombongan Member dari kejauhan. Rombongan itu berhenti di tempat yang cukup kumuh dan banyak gangster yang terlihat di sana. Vani tetap memantau dari kejauhan
"Hey, mau apa kalian!" Tanya salah satu Gangster
"Kalian sudah mengganggu ketentraman disini! Masih tanya kita mau apa?" tanya balik Jorhan
"Cuih.. belagu amat kau, Sok mau ngelawan kita?" Ucap salah satu gangster
("menarik juga, Kayak nonton film action nih") batin Vani
"meski kita kalah jumlah, kita ngga akan mundur" Ucap Ray santai
"Kalian tau nggak siapa kita?!" Tanya Gangster ngegas
("Kenapa setiap penjahat, bilang 'kalian tau nggak siapa kita'. Apa faedahnya sih begitu") batin Vani
"Heh? Kalian? Siapa ya?" Tanya balik Ray
"Belagu kau!" Salah satu Gangster langsung maju dan menyerang Ray, Ray menangkis serangan itu
"Oh, nggak bisa" Ucap Ray sambil memelintir tangan Gangster itu
("Wih, teknik Ray barusan keren juga. Kapan kapan aku praktekin deh") batin Vani
"Akh!! Woy! Kalian serang juga! Jangan diem aja!" perintah Gangster yang tangannya di plintir Ray
Sebelumnya salah satu Member CRIFITY sudah menghubungi polisi untuk membantu penangkapan. Namun karena letak kantor polisi dan TKP terlalu jauh, polisi membutuhkan waktu untuk sampai di tempat itu
Di tempat itu, terjadi tawuran antar member komunitas dan para Gangster. Member CRIFITY hanya berjumlah sembilan orang karena Vani tidak ikut serta dan Gangster di sana ada sekitar dua puluh orang lebih. Member CRIFITY bertarung dengan tangan kosong melawan Gangster yang membawa senjata tajam.
Masing masing Member CRIFITY sibuk mengalahkan bagian masing masing. Ray melawan enam orang sekaligus "Bug.. bagg.. buaggg"
dia memukul satu persatu Gangster di hadapannya
"buag!"
Wajah Ray terkena pukulan cukup kencang dari salah satu Gangster, dia hampir saja kehilangan kesadaran karena pukulan itu. Namun dia tetap bertahan dan melanjutkannya
"Bugg... Bagg... buggg"
Setelah cukup lama bertarung, mereka semua termaksud Ray merasa lelah. Ray berhadapan satu VS satu dengan Gangster terakhir yang masih bertahan. saat Ray sedang Fokus melawan Gangster itu, tiba tiba dari kejauhan terlihat salah satu Gangster membawa pisau tajam dan berlari ke arahnya. Vani yang melihat itu terkejut dan berteriak pada Ray
"Ray awas!" Vani keluar dari semak semak dan berlari ke arah Ray dengan cepatnya
"Jlebb..."
Pisau itu menusuk perut Vani yang berusaha melindungi Ray. mata Vani melebar, dia melepas pisau itu dari perutnya dan berjalan mundur perlahan. Ray menoleh ke belakangnya
__ADS_1
"Vani!" dia melihat Vani sudah terjatuh dan banyak darah yang keluar dari luka bekas tusukan itu