
Di mini market, Vani mengambil beberapa mie cup instan dan membawanya ke kasir
"Kak! Bisa minta air panas nggak?" Ucap Vani
"Maaf kak, saya nggak bisa ninggalin tugas saya jaga kasir" Ucap penjaga kasir
"Njerr, yang kakak sebenarnya siapa sih? Kok kita manggil kak semua" Ucap Vani
"Kalau gitu aku jagain bentar deh"
"Maaf dek, nggak bisa" Ucap penjaga kasir
"Aku kasih ongkos jalan deh, buat ambil air panas. Toh juga airnya nggak butuh banyak, cuma buat nyeduh empat mie ini doang" Ucap Vani
"Em.. Kamu bisa di andelin nggak nih? Buat jaga kasir? Ntar malah perampok" Ucap penjaga kasir
"Uangku banyak, Ngapain ngerampok?" Ucap Vani
"Palingan uang orang tuamu" Ucap penjaga kasir
"Yaps, betul. Dah sana, ambilin air panasnya" Ucap Vani
"Mumpung disini lagi sepi deh. Aku ambilin air, Kamu disini ya" Ucap penjaga kasir. Penjaga kasir pergi ke belakang untuk mengambilkan Vani air panas
"Perasaan di awal dia bicara pake bahasa formal, Sekarang udah bicara biasa aja. Enakan ngobrol pake bahasa biasa sih" Ucap Vani
("Kalau aja, guru di sekolah juga begini. Kan nggak perlu bahasa formal, Jadi bisa keliatan akrab sama guru")
Tak lama kemudian, penjaga kasir datang dengan membawa termos di tangannya. Dia meletakan termos di tas meja kasir
"Nih airnya" Ucap penjaga kasir sambil meletakan termos
"Nggak perlu sama termosnya, susah bawanya" Ucap Vani
"Siapa juga yang mau kasih termosnya? Enak aja" Ucap penjaga kasir
"Hehe, kali aja" Ucap Vani
Vani membuka satu persatu cup mie instan yang dia beli. Setelah itu menyeduh mie itu dengan air panas
"Selesai"
"Kak, berapa totalnya?" Tanya Vani
"Enam puluh ribu sama ongkosnya, hehe" Ucap Penjaga kasir sambil tersenyum
"Njerr, iya iya" Ucap Vani. dia mengambil uang di sakunya. Dia hanya membawa selembar uang seratus ribu di sakunya. dia memberikannya pada penjaga kasir
"Nih, uang kembaliannya buat ongkos ambil air panasnya" Ucap Vani sambil memberikan uang pada penjaga kasir
"Wih, banyak amat. Nggak papa nih? Padahal cuma ambilin air panas" Ucap penjaga kasir
"Nggak papa lah. Itu buat kakak, karena kakak udah baik mau bantu aku" Ucap Vani
"Oh ya, kalau boleh tanya. Mau kamu apakan empat mie ini? Kamu bisa bawa semuanya?" Tanya penjaga kasir
"Iya juga ya. Em... Aku bisa panggil temenku di depan" Ucap Vani
"Oh, tunggu bentar" Ucap penjaga kasir. Dia mengambil sesuatu di bawah meja kasir
__ADS_1
"Nih, pake nampan aja. Tadi siang aku buat minuman, trus lupa bawa nampan ini kebelakang, kamu pake aja deh" Ucap penjaga kasir
"Yosh makasih kak" Ucap Vani sambil tersenyum. Dia memindahkan satu persatu mie instan ke atas nampan
"Kalau gitu aku pergi dulu kak"
Dia pergi keluar dari mini market itu dan menuju ke tempat Agnes, Ray dan Jack berada. Vani menaruh mie instan itu di atas meja
"Kita makan ini!" Ucap Vani sambil menaruh nampan
"Wih, miee!" Ucap Agnes senang
"Nggak jadi ke restoran?" Tanya Jack
"Enakan makan ini lah!" Ucap Vani
"Tapi kan nggak sehat makan beginian" Ucap Ray
"Iya, berbahaya" sambung Jack
"Ingatlah. Makanan yang berbahaya itu, makanan yang enak enak" Ucap Vani sambil tersenyum
"Kalau kalian berdua nggak mau. Aku sama Vani deh yang abisin" Ucap Agnes
"Jangan. Aku juga laper" Ucap Jack
mereka memakan mie instan sampai habis
"Minumnya?" Ucap Jack yang sudah selesai memakan mienya
"Njerr, cepet amat ngabisinnya" Ucap Vani
"Eh.. Tunggu Nes. Bawa nampan ini, balikin ke penjaga kasir" Ucap Vani sambil memberikan nampan ke Agnes
"Oke deh" Ucap Agnes. Agnes masuk ke dalam mini market itu. Disana dia mengambil minuman dan pergi ke kasir
"Mau balikin nampan yang di pinjem temen" Ucapnya
"Oh, taruh aja" Ucap Penjaga kasir
"Sama, bungkusin ini"
"Berapa?" Tanya Agnes
"empat puluh ribu" Ucap penjaga kasir
"Nih" Agnes memberikan uang pas. Setelah itu Agnes pergi meninggalkan mini market
"What? Dingin amat tuh anak, Beda banget sama temennya. Biarin lah, lagian setiap orang sifatnya beda beda" Ucap penjaga kasir
Agnes keluar dari mini market dan berjalan ke tempat Ray, Jack dan Vani duduk. Dia duduk dan membagikan minuman yang dia bawa
"Nes? Gimana? Penjaga kasirnya enak di ajak ngobrol kan?" Tanya Vani
"Hehe, tadi aku stay cool" Ucap Agnes
"Sok sekali anda ini" Ucap Vani
"Di tempat umum, harus keliatan cool lah" Ucap Agnes
__ADS_1
"Yayayaa, up to you" Ucap Vani
"Pulang yuk, makin malem nih" Ajak Ray
"Ray? kamu nggak ngabarin orang tua kamu dari kemaren kemaren, emang gapapa?" Tanya Vani
"Oh itu, aku udah ijin lewat telpon" Ucap Ray
"Sip deh" Ucap Vani
"Kuy lah pulang" Ajak Vani. Mereka berempat menaiki mobil
"Jack! Kita ke rumahmu dulu yang paling deket. Trus abis itu aku yang nyetir" Ucap Vani
"Beneran kamu yang nyetir?" Tanya Jack
"Tenang aja, aku dah sembuh kok" Ucap Vani
"Oke, kalau kamu yakin" Ucap Jack. Jack melajukan mobil Vani kerumahnya. Setelah beberapa saat, mereka sampai di depan rumah Jack, Jack dan Vani turun dari mobil
"Makasih ya! Kalian semua" Ucap Jack
"Yokay!" Ucap Vani sambil menaiki mobilnya
"Bye Jack" Ucap Agnes. Vani melajukan mobilnya meninggalkan rumah Jack
"Ke rumahku dulu Van, deket" Ucap Agnes
"Aku serasa jadi supir beneran" Ucap Vani
"Jangan kebut kebutan Van. Nggak kapok apa?" Ucap Ray
"Jalanan kosong Ray, tenang aja. Toh tanganmu kan masih satu" Ucap Vani bercanda
"Yang bener aja Van, kamu mau ngilangin tangan kananku juga?" Ucap Ray
"Becanda mamank" Ucap Vani. Setelah itu, mereka sampai di rumah Agnes. Agnes turun dari mobil dan masuk kerumahnya. Vani kembali melajukan mobilnya dan pergi menuju rumah Ray
"Terakhir rumah kamu deh" Ucap Vani
"Terakhir rumahmu sendiri" Ucap Ray
"hehe iya juga" Ucap Vani
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Ray. Ray turun dari mobil Vani
"Masuk dulu yuk, Yukki udah lama nggak ketemu kamu" Ajak Ray
"Yukki masih bangun jam segini?" Tanya Vani
"Dia mah tidur nya malem" Ucap Ray
"Semua orang rata rata tidur malem lah" Ucap Vani
"Masuk ayo, mamaku punya cake enak" Ucap Ray
"Wih beneran? Bungkus dong" Ucap Vani sambil turun dari mobil. Vani berjalan mendekat ke Ray
"Maa... Maamaa" Teriak Ray dari pintu depan
__ADS_1
"Ray ya?" Ucap seseorang dari dalam rumah. Setelah itu mama Ray membuka pintu dan dia terkejut melihat Ray bersama Vani. Mama Ray menatap Vani dengan tatapan tajam yang penuh dengan kekesalan dan dendam