
Delapan kakak kelas bersama Vani, Agnes, Awani dan Putri menggabungkan kemampuan mereka untuk membuat Azka kembali Ceria. Dari pagi, mereka bolos kelas dan terus mengikuti kemanapun Azka pergi. Azka merasa resah setelah di buntuti cukup lama, dia memergoki mereka semua
"Kenapa kalian terus mengikuti bapak!" Tanya Azka kesal
"Kata siapa kita ngikutin bapak? Orang kita mau ke perpustakaan. Ya kan?" Ucap Vani
"Iya pak, bapak pd amat" Ucap Kakak kelas
"Dari pagi, bapak ngajar di kelas sepuluh F, kalian ada di ujung lorong. Bapak pindah ke kantin, kalian juga ada di sana. Bapak ke toilet, kalian di depan pintu. Sekarang bapak di sini, kalian juga disini! Apa namanya kalau kalian nggak ngikutin bapak?" ucap Azka
"Yee, ini kan tempat umum. Bebas dong kita mau kemana aja" Ucap Agnes
"Iya pak, Lagian mana buktinya kita ngikutin bapak? Atau jangan jangan bapak yang ngikutin kita ya?" Ucap Vani dengan ekspresi
"Ada masalah apa si kalian semua sama bapak? Kalian dendam gara gara sering bapak hukum?" tanya Azka
"Iya pak, Kami dendam!" Ucap Agnes
"Pak Azka kelihatannya udah nggak murung lagi nih"
"Kalau kita berantem, bapak bakal misahin kan?" Tanya kakak kelas
"Bapak lagi males ngeladenin kalian. Kalau mau berantem, terserah kalian. biar nanti guru kiler yang urus kalian" Ucap Azka
"Pak Azka manggil sesama guru bukan namanya? Tapi guru killer? Wah wah.. Harus di laporin nih" Ucap Putri
"Lah, emang namanya guru Kiler! Kiler bukan killer" Ucap Azka
"Apa bedanya pengucapan kiler sama killer?" Tanya Awani
"Sama sama kiler" Ucap Vani. Saat itu Azka melangkah pergi meninggalkan mereka tanpa sepengetahuan mereka
"hmm.. jadi nama guru killer itu kiler ya" Ucap Vani
"Iya, kalian baru tau? Dia itu nggak killer killer amat"
"cuman gara gara namanya itu, dia di panggil guru killer" Jelas kakak kelas
"Sia sia dong aku takut pas lagi jam dia" Ucap Vani
"eh? aku belum pernah ikut pelajarannya guru kiler. Dia ngajar mapel apa?"
"Dia ngajar bahasa" Jawab Agnes
"bahasa? Paling nggak suka. Nilai terburukku di situ" Ucap Vani
"Iya, terakhir nilai bahasamu sembilan puluh lima, sangat mengecewakan" Ucap Agnes
"Sembilan puluh lima nilai terendah?" tanya kakak kelas terkejut
__ADS_1
"Iya, nilai Vani rata rata sembilan puluh lima sampe sembilan puluh sembilan" Ucap Agnes
"Kamu bisa ajarin kita belajar? Kita bakal traktir kamu makan. Besok ulangan kenaikan kelas soalnya" Ucap kakak kelas
"Em.. Aku belum tau materinya sih, aku perlu tau materi kelas sebelas" Ucap Vani
"Oke, ayo belajar" Ucap kakak kelas
"Tempat mana yang enak?" Tanya Agnes
"Kantin?" Ucap kakak kelas
"Terlalu ramai" Ucap Awani
"Ke perpustakaan kuy. kalian pasti belum pernah nginjakin kaki di perpustakaan kan?" Ucap Vani
"Iya, mungkin ini jadi yang pertama kali" Ucap Kakak kelas
"Kayak kamu pernah aja" Ucap Agnes
"Ahahaa, kalian bertiga juga belum pernah" Ucap Vani sambil tertawa kecil
"Aku sama Awani udah pernah ke sana" Ucap Putri
"Yang bener? Kapan kejadian langka itu terjadi?" Tanya Agnes terkejut
"Pas di suruh guru mapel ambil buku paket buat pelajaran di kelas" Jelas Awani
"Oh ya, sebelum kita bahas belajar. Kita tadi lagi bahas apa ya?" Tanya Vani bingung
"Entah lah, lupakan masalah yang tadi. Ayo ke perpustakaan" Ajak kakak kelas
Mereka berdua belas beramai ramai pergi ke perpustakaan untuk belajar. Mereka masuk ke perpustakaan dan duduk berkumpul di satu meja. salah satu kakak kelas mengambil buku buku pelajaran dan memberikannya pada Vani
"Aku liat dulu" Ucap Vani. dia mengambil buku yang di bawa kakak kelas dan mengamatinya
"Oh, ini. aku tau"
"Secepat itu?" Tanya kakak kelas terkejut
"Jangan anggap remeh pemahaman materi kita" Ucap Agnes sombong
"Jadi gini... Bla bla bla bla bla" Jelas Vani
"Bla bla bla apaan njerr" Tanya Agnes
"Materinya di sensor awokawok" Ucap Vani
"Yang jelas lah" Ucap Agnes. Setelah itu Vani mengajarkan semua materi yang telah dia pahami. Karena mereka terlalu berisik di perpustakaan, penjaga perpustakaan menghampiri mereka
__ADS_1
"Hust.. Di perpustakaan jangan berisik" Ucap penjaga perpustakaan
"Kalau nggak ngomong, gimana ngajarin materinya" Ucap Vani
"Kalian boleh pinjam bukunya, tapi jangan belajar disini kalau kalian tetap berisik" Ucap penjaga perpustakaan
"Apa fungsinya perpustakaan? Kalau bukan buat belajar?" Tanya Vani
"Kalau kalian mau tetap disini. Diam, jangan berisik" Ucap penjaga perpustakaan
"cari tempat lain aja kuy" Ajak Agnes
"Ayo, Pindah. perpustakaan terlalu sunyi" Ucap kakak kelas
"Kayak kuburan" sambung Putri
Mereka beramai ramai keluar dari perpustakaan itu dan mencari tempat yang nyaman untuk belajar
"Atap aja kuy. tapi kali ini belajar, jangan berantem" Ucap Awani
"Iya deh, demi nilai bagus" Ucap kakak kelas
"Kalian ngotot banget mau belajar, emang ada apa?" Tanya Vani
"Kalau nilai ku nggak naik di ujian kali ini, aku nggak naik kelas dan nanti parahnya aku bakal sekelas sama kalian! kita menolak keras!" Jelas kakak kelas
"Yee anjirr, siapa juga yang mau sekelas sama kalian" Ucap Agnes
"Oh ya, nilaiku kepotong gara gara sering kena skors. Bukannya kalian sering kena skors? Kok nasib kalian beda?" Tanya kakak kelas
"Kami itu beda" Ucap Vani sombong
"Murid berprestasi seperti kita. Mana mungkin sekolah mau ngeluarin kita, lagian kalau mereka ngeluarin kita. Tamat sudah sekolah ini" Ucap Vani sombong
"Maksudnya?" Tanya kakak kelas
"Iq kalian masih terlalu rendah untuk memahaminya" Ucap Agnes
Setelah itu, mereka pergi ke atap. Vani membawa papan tulis kecil yang sebelumnya dia ambil dari ruang guru tanpa meminta izin. Di atap, dia menerangkan pelajaran pada kakak kelasnya. Di tengah mengajar, ada suatu pertanyaan yang mengganjal pikirannya
"Kalian bolos pelajaran cuma mau belajar?" Tanya Vani
"Iya juga, kalian kan tinggal belajar sama guru di kelas" Sambung Agnes
"Dan parahnya kita berempat bolos bukannya have fun malah ngajar kakak kelas" Ucap Awani
"Yah, gimana lagi. Biar kelihatan cool di kelas, kita harus rajin bolos hehe" Ucap kakak kelas
"Alasan macam apa itu" Ucap Vani
__ADS_1
"Lagian belajar di atap lebih enak, cuacanya cerah. dan juga anginnya sejuk, sepoy sepoy hehe" Ucap kakak kelas
Vani menoleh ke atas memandang langit. tiba tiba hujan turun dengan derasnya, mereka panik mengemasi buku buku mereka dan langsung berlarian kocar kacir mencari tempat untuk berteduh