Cewek Berandal SMA

Cewek Berandal SMA
CBS_38


__ADS_3

Setelah dokter memeriksa Ray, Dokter memberi tahu hasil pemeriksaannya pada Vani dan Jack di sana


"keadaannya normal, mungkin dia histeris karena baru saja sadar" Jelas dokter


"huffh.. Syukurlah"


"apa semua pasien yang baru sadar histeris begini dok?" tanya Jack


"Nggak juga, mungkin dia sedang berada di mode lebay" jawab Dokter


"dokter bisa aja" Ucap Jack


"Woy Jack, bantu aku kesitu" panggil Vani yang masih tergeletak di lantai


"Oh iya lupa" Jack menghampiri Vani dan membantunya berdiri. dia menuntun Vani berjalan ke samping Ray yang masih saja histeris


"Woy! Ray! tenanglah!" seru Vani


"Kenapa! Kenapa pengelihatanku!! Aku nggak bisa liat apa apa!! Semua... Hitam!" teriak Ray panik


"Jelas lah nggak bisa liat! Matamu diperban b*go!" Ucap Vani dengan ekspresi datar


"Dok, sebenarnya kenapa dengan Ray? Apa dia mengalami gangguan pengelihatan juga?" Tanya Jack


"Iya dok! Kenapa matanya di perban begitu" sambung Vani


"Kenapa dok! Kenapa dengan mata saya!" sambung Ray histeris


"Sebenarnya, Begini keadaanya" Dokter itu membuka perban di mata Ray secara perlahan


"Buka matamu perlahan.." sambungnya. Ray membuka matanya secara perlahan


"Dok!! Kenapa, Mata saya...."


"Kenapa saya bisa melihat!!" Ucap Ray terkejut


"Njerr, makhluk biadab" Ucap Vani dengan muka datar


"Hm.. kok bisa liat si? Biasanya kalau di perban gitu kan. abis di buka perban, matanya pasti buta kalau nggak sakit"


"betul juga" sambung Jack


"kalian nggak senang mata temen kalian baik baik aja?" tanya Dokter


"Saya yang tanya dok! kenapa mata Ray di perban?" Tanya balik Jack


"di samping mata kiri Ray ada luka yang lebar dan perlu di perban" Jelas dokter


"Trus kenapa matanya ikut diperban?" Tanya Vani


"Karena pas itu saya coba perban menyamping tapi perbannya terus lepas"


"Jadi saya punya inisiatif perban secara horizontal supaya perbannya nggak gampang lepas" Jelas dokter


("ga gitu juga njerr") batin Vani

__ADS_1


"jaga teman kalian ya. saya mau periksa yang lain" Ucap dokter sambil keluar dari ruangan Ray


"Untung kamu nggak papa" Ucap Vani lega


"Nggak papa gimana? Tangannya hilang satu!"


"jangan sampai dia sadari itu" Bisik Jack pada Vani


"aku mau minum" pinta Ray


"Iya" Vani mengambil minuman di atas meja. Jack membantu Ray untuk bangun dan duduk. Setelah itu Vani memberikan minum pada Ray. Ray menerima minuman itu dengan tangan kanannya, dia masih belum menyadari tangan kirinya yang hilang


"Terima kasih" Setelah meminum air itu, Ray mengembalikan gelas itu ke Vani. Vani meletakan kembali gelas itu ke atas meja


("kalau dia sadar tangan kirinya ga ada gimana?!") batin Vani


"Oh ya Ray, kamu baik baik aja kan?"


"iya sepertinya" Ucap Ray sambil tersenyum


"Lihat kamu sendiri, lukamu jadi tambah banyak. badanmu banyak perban"


"Aku nggak apa, justru kamu yang kenapa napa" ucap Vani


"Jack, kenapa kamu dari tadi pegangin Vani. Lepas tanganmu, jangan cari kesempatan dalam kesempitan" Ucap Ray yang tidak senang melihatnya


"Lepas? Oke" Jack tersenyum dan melepas pegangannya


"Bugg!!"


"kasihan, sini ku bantu" Ucap Jack sambil membantu Vani berdiri


"Kenapa dilepas si?!" tanya Vani kesal


"Lah, Ray yang minta kan?" jawab Jack


"Kakimu kenapa?" Tanya Ray


"Bukan masalah, bentar lagi aku pasti udah bisa jalan kok, bahkan lari" Ucap Vani sambil tersenyum


"Oh ya Ray, sebenarnya.."


"Srakkk..." Vani membuka selimut yang menutupi tangan kiri Ray. Ray menoleh ke arah tangan kirinya dan terkejut hebat


"HAH?!" kedua mata Ray mengembang dan mulai berkaca kaca


"ta.. taanganku! Mana tanganku?! kenapa bisa?!" ucap Ray panik ketika dia tidak melihat tangan kirinya. Dia memegangi lengan kirinya dengan tangan kanannya


"eh?!.. akh.. Tanganku kemana?!" Ray menangis histeris


"Jawab aku! Vani, Jack! akhh.. Sialan!" Ray melempar lemparkan barang barang di dekatnya


"AAAAKH.."


"Bugg..."

__ADS_1


Ray mencoba turun dari ranjang, namun dia terjatuh ke lantai. dia merasa putus asa karena kejadian itu


"Ray!" Teriak Vani sambil menghampiri Ray yang terduduk di lantai, dia langsung mendekap Ray dengan erat dan ikut menangis bersamanya


"Maaf... hiks Maaf Ray, maaf..."


"Ini semua salahku, gara gara aku... Kamu.. Tangan kirimu.. diamputasi"


'degg' mendengar penjelasan Vani membuat emosi Ray meningkat


"Lepass!" teriak Ray. Ray melepas paksa pelukan Vani dan mendorongnya menjauh dari dirinya


"bugg" Vani terdorong dan tubuhnya membentur tembok


"Ini semua salahmu! selama ini kamu hanya memikirkan dirimu sendiri!"


"kamu bahkan tidak memikirkan keselamatan orang disekitarmu!" teriak Ray dengan emosi yang meluap luap


"Ray!!" Panggil Vani di tengah tangisnya


"Jangan sebut namaku! Kamu! pergi dari sini!"


"Mukamu memuakkan!!" teriak Ray


"Deg.." Vani tertegun dan tangisannya terhenti. dia mengalihkan pandangannya dan mencoba berdiri. Tanpa pikir panjang, dengan jalan yang pincang dia berjalan keluar dengan menyusuri tembok


"Van, mau kemana dengan keadaan seperti itu?" Tanya Jack sembari mengejar jalannya


"Tetap disitu! Jangan ikuti aku!" ucap Vani tanpa menoleh


Jack hanya terdiam melihat Vani melangkah keluar dari Kamar Ray. dia membantu Ray kembali ke atas ranjang rumah sakit


"Ray, nggak seharusnya kamu bilang begitu padanya"


"kamu tahu?! cewek itu labil!" ucap Jack


("kenapa aku mendorongnya?")


("kenapa aku menyakiti perasaannya?")


("Ray, apa sejahat itukah dirimu?")


("apapun yang terjadi. jangan pernah menyakiti perasaan wanita") batin Ray menyesal


"Akh.. Jack! kejar Vani, aku mohon" pinta Ray


"Baiklah" Jack berlari keluar dari kamar Ray dan mencari keberadaan Vani


Sementara itu, entah bagaimana caranya naik. Vani sudah sampai di atap rumah sakit. Dengan rasa penyesalannya, Dia berdiri dan menangis seorang diri di tengah hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. dia merasakan dinginnya air hujan dan angin sore yang berhembus menerpanya


("Kalau aja Ray nggak ketemu aku, tangannya pasti selamat dan dia nggak bakal menderita")


("Gedung ini tinggi juga ya, kalau terjun mungkin nyawaku bisa melayang")


("Dan juga, hufh.. hari ini terasa lebih dingin dari pada hari hari biasanya")

__ADS_1


dengan pikiran kosongnya, Vani melangkah perlahan mendekat ke pinggiran gedung


__ADS_2