
"KAMU! MASIH BERANI MUNCUL DISINI?! SETELAH SEMUA YANG KAMU LAKUKAN KE ANAKKU!" seru Mama Ray dengan marahnya. Vani hanya terdiam mendengarkan kata demi kata yang di lontarkan mama Ray
"Tante? Salah saya apa ya?" tanya Vani kebingungan
"KAMU! MASIH TANYA APA SALAH KAMU?!" Bentak Mama Ray yang tambah emosi
"Maa.. Udah maa" Pinta Ray. Vani melihat Saat satu tangan Ray memegang tangan mamanya dan dia menyadarinya
("Tangan!")
"Tante. Maafin aku tan, aku bener bener nggak se.." ucap Vani yang terhenti
"Maaf aja nggak cukup! Walau kamu minta maaf berkali kali dan walau kamu bayarin pengobatan Ray! Tetep aja tangan Ray nggak bakal Balik! Kamu tau itu!" Bentak Mama Ray
Vani terlihat panik di situasi itu
("Gimana nih.. Mama Ray marah banget")
"MA! Ray udah bisa relain tangan Ray! Mama harusnya dukung Ray!" Ucap Ray
"Ray!! Masuk!!" Perintah mama Ray dengan tegas
"Nggak bisa ma! sebelum mama maafin Vani, Ray selamanya nggak bakal masuk rumah ini" Ucap Ray serius
"KAMU LEBIH BELAIN ORANG YANG CELAKAIN KAMU DARIPADA MAMAMU SENDIRI YANG SUDAH TUJUH BELAS TAHUN BESARIN KAMU!" ucap mama Ray dengan nada keras
"Bukan begitu.." Ucap Ray dengan muka murung
"DAN KAMU! Kamu udah celakain anak tante! Kamu juga udah bohongin tante! Kamu masih di bawah umur, tapi kamu bilang ke tante Udah cukup umur buat berkendara! Tante nggak nyangka, kamu begitu!" Ucap mama Ray yang merasa kecewa terhadap Vani. Vani menundukkan kepalanya
"Dan asal kamu tau! Karena kesalahan kamu! Ray kehilangan mimpi satu satunya jadi tentara"
"Mulai sekarang! Jangan dekati Ray! Kamu pergi dari kehidupan Ray!"
ibu Ray langsung masuk kedalam rumahnya
"Brak" dia menutup Pintu rumahnya dengan keras
Saat itu, Vani masih saja tertunduk. Kedua mata Vani mulai berlinang, dia mencoba menahan tangisnya. Namun hatinya yang merasa sakit, tidak bisa menahan air mata yang mengalir keluar dari mata Vani
__ADS_1
"Hiks... Huhuhuuu..." Vani menangis tersedu sedu. Hati Vani serasa hancur, tidak tau apa yang harus dilakukan olehnya saat itu. Dia hanya diam di tempat dan menangis, dia merasa sangat bersalah dengan semua perbuatan yang dia lakukan. dia sangat amat menyesal dan berharap seandainya waktu bisa terulang. Dia ingin memperbaiki kesalahannya dari awal agar tidak ada orang yang tersakiti karena dirinya
Ray yang berdiri di depan pintu rumahnya, memandang Vani yang berdiri cukup jauh dari dirinya dengan perasaan iba. Ray berjalan mendekatinya dan langsung mendekapnya di pelukannya, dia mencoba menenangkan Vani dengan mengusap usap rambut Vani
"sudah.. Jangan nangis, ini bukan salahmu" Ucap Ray
"Hikss.... Huhuhuuu.. Ini memang salahku! Jangan mencoba membohongiku dengan bilang kalau ini semua bukan salahku!hiks..."
"ku mohon jangan sedih"
"entah kenapa dadaku sakit saat liat kamu nangis, rasanya seperti terkoyak koyak dan hancur" Ucap Ray
"Hikss... Maaf.. Maaf Ray.. Maaf.. Hiks... Huhuhuuu..."
"sudah, Dengerin aku Van. Kamu jangan nangis lagi, Mamaku cuma kebawa emosi. dia nggak berniat marahin kamu" Ucap Ray sambil meletakkan tangan kanannya di pundak Vani. Vani masih saja tertunduk sedih
"Van! Liat aku. Percaya sama aku!" Ucap Ray sambil menatap kedua mata Vani dengan tajam. Saat itu Vani berhenti menangis dan mengusap air matanya dengan kedua tangannya
"Huhh...." Vani menghela nafasnya dan membesarkan kedua matanya
"Oke.. Ray, kamu masuk ke rumah. Jangan coba ngebantah orang tua lagi, Aku pergi!" Ucap Vani sambil berjalan pergi dan menaiki mobilnya. Tanpa tambahan sepatah kata apapun, Vani langsung pergi dari rumah Ray untuk pulang kerumahnya. Sementara Ray masuk ke dalam rumahnya
"A.... huhh...." Vani hanya menghela nafasnya secara berulang ulang
"kringg.. kringg!" Suara telpon rumah berbunyi. dia langsung pergi mengangkatnya
"Hallo?" Sapa Vani
"Ini kakak, Van!" Ucap kakak Vani dari telpon
("kakak?")
"Dengan siapa dimana? Selamat! Anda telah mendapatkan uang anda sendiri sebesar seratus juta rupiah!"
"Ahahahaa, kak! Ada apa telpon malem malem?" Ucap Vani
"Kamu di rumah?" Tanya Kakak Vani dari telpon
"Iya lah, dimana lagi emangnya" Ucap Vani
__ADS_1
"kakak udah izinin kamu di sekolah. Besok kita sama mama papa, liburan" Ucap kakak Vani di telpon
"Tapi kan? Aku udah lama nggak sekolah kak, masa izin terus sih"
"Kamu selama ini nggak sekolah kenapa?" Tanya kakak Vani di telpon
"Eh.. Typo, Aku besok jadi deh. Oh ya, kakak sekarang dimana?" Ucap Vani
"kakak selesai kuliah di sini, rencananya nanti balik ke rumah" Ucap Kakak Vani di telpon
"Rumah mana kak? Di situ juga kan rumah kakak, apa pulang ke negara A atau rumah di negara B?" Tanya Vani
"Rumah makan!" Ucap kakak Vani di telpon
"Negara B lah. Kakak juga ditugasin sama papa nerusin perusahaan papa di negara B dan sekalian ngawasin kamu" Ucap kakak Vani di telpon
"Waduh, nggak bisa bebas nih.." Ucap Vani dengan nada pelan
"Kamu bilang apa barusan? Kakak nggak kedenger"
"Eh.. Bukan apa apa! Besok pagi pagi banget, aku ke rumah kakak deh"
"Kakak bukan pulang kesitu, kakak mau ke apartemen aja. deket kantor"
"Oke deh. oh ya, mama sama papa sekarang lagi kesini?"
"Iya, mereka pasti juga pulang ke rumah deket kantor"
"Oh.. Rumah mama sama papa kan deket kantor, apartemen kakak juga deket kantor. Kenapa kakak nggak tinggal di rumah mama aja?" Ucap Vani
"Beda kantor adekku. Kamu udah berkali kali kesana kemari, masa masih gatau aja" Ucap kakak Vani di telpon
"Ahahhaa, mana aku inget. lima tahun lalu kan aku baru sepuluh tahun, mana tahu"
"Kamu pasti udah besar ya. Jadi kangen adekku yang kecil"
"Jadi? Nggak kangen sama aku yang sekarang nih? Oke.. Kak.. oke... Aku nggak jadi ikut!"
"Hehe, nggak apa kalau kamu ikut, palingan cuma ngabisin uang"
__ADS_1
("Njerr, kakak lucknut") batin Vani