
Ray langsung menghampiri Vani dan melupakan Gangster di sana. dia terlihat sangat khawatir dengan keadaan Vani saat itu
"Vani! bertahanlah!" Ucap Ray panik pada Vani yang sedang pingsan
"Ray lukanya" Teriak Citra dari kejauhan yang juga sedang bertarung melawan Gangster lain
"Oh iya"
"Srekkk..."
Ray menyobek bajunya dan melilitkan kain bajunya ke perut Vani yang terkena tusukan pisau untuk menghentikan pendarahannya
Saat Ray sedang memberikan pertolongan pada Vani, Gangster di belakang Ray hendak menyerang Ray
"Bugg"
Jorhan datang dan menendang keras Gangster itu hingga terpental jauh. Ray mendengar suara dan menoleh kebelakang nya
"Terimakasih Jorhan" Ucap Ray
"Sama sama. Serahkan sisanya padaku, kamu bawa Vani ke Rumah sakit" Ucap Jorhan sambil melawan Gangster yang masih bertahan
Ray mengangkat Vani dan hendak membawanya kembali menuju markas. Di tengah perjalanan, dia melewati Jack yang sedang beristirahat setelah melawan Gangster. Jack yang melihat keberadaan Vani langsung terkejut
("Kenapa bisa ada disini?!") batin Jack
"Ray, apa yang terjadi?"
"Bantu aku! Vani tertikam pisau. Dia perlu di bawa ke rumah sakit secepatnya, Kamu bawa mobilnya"
"Oke!" Jack dan Ray membawa Vani ke markas. Sesampainya di markas, mereka menaikkan Vani ke mobil dan membaringkannya di kursi mobil. Jack berlari masuk kedalam markas untuk mengambil kunci mobil, Setelah itu dia keluar dan masuk ke dalam mobil untuk menyetir
"lebih cepat Jack!" seru Ray
"oke" Jack melajukan mobilnya dengan cepat agar mereka cepat tiba di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Ray membopong Vani keluar dan meminta tolong pada perawat, Sedangkan Jack memarkirkan mobil di parkiran
"Tolong!" Teriak Ray memanggil perawat. bantuan datang, Vani di bawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan. Setelah dari UGD, Vani di rawat di salah satu ruangan rumah sakit. Ray menghampiri dokter yang menanganinya
"Gimana keadaannya dok?" Tanya Ray
"Kamu orang tuanya?" Tanya balik dokter
"Saya masih muda gini di bilang tua?"
"ahaha, Bercanda"
"Yang bener aja! Ada keluarga pasien yang khawatir malah di becandain! Dokter minta di pukul?!"
"Nggak, maaf atas kesalahan saya barusan. Sebenarnya keadaan pasien tidak terlalu parah, hanya luka ringan" Jelas dokter
"Darahnya keluar banyak gitu, luka ringan?"
__ADS_1
"tusukannya lebar tapi tidak terlalu dalam dan tidak mengenai organ dalam tubuh pasien. Lukanya sudah di jahit, tapi belum bisa banyak bergerak. Tadi juga saya cek, di punggung pasien terdapat luka luka yang belum sembuh total. Tolong perhatikan pasien supaya tidak berulah, nanti lukanya bisa kebuka" Jelas Dokter
"huh.. Syukur deh" Ray bernafas lega
"Kamu sudah isi formulir pasiennya di bawah kan?" Tanya dokter
"Dibawah? Enggak dok. Saya isi formulirnya di atas meja. Masa isi formulir di lantai"
"Kamu ngajak berantem?" Ucap Dokter dengan senyum pahitnya
"Hehe, becanda dok"
"saya sudah boleh masuk kan?"
"Iya, kamu bisa temenin dia"
"saya pergi periksa pasien lainnya" Ucap Dokter
"Iya dok. Terimakasih" Ray masuk ke dalam ruangan Vani. beberapa saat kemudian, Jack masuk dengan terburu buru
"Gimana keadaan Vani?!" Tanya Jack
"Yahh.. Begitu lah" Jawab Ray sambil menghela nafas
"Jawab sejujurnya!"
"Okeoke slow Jack. jangan ngegas gitu"
"Vani nggak apa, lukanya juga sudah di jahit"
"Bagus deh. padahal udah di bilangin, disuruh pulang malah nekat" gumam Jack
("perasaan ku lacak dia di perjalanan pulang")
("pintar juga dia, menggunakan temannya sebagai pengalih perhatian")
"Maksudnya Jack? pulang?" Tanya Ray penasaran
("astaga! Keceplosan") batin Jack
"dia kenapa bisa ada di kota ini"
"Kan waktu itu kita udah larang buat ikut"
"Oh.. Itu ya. ahahahaaa.. aku kira kamu tahu kalau Vani di kota ini, trus kamu minta dia balik ke rumah" Ucap Ray sambil tertawa
("Prediksi yang tepat") batin Jack
"Ahahahaa, mana mungkin"
"dia emang susah di atur"
__ADS_1
"tapi berkat dia aku jadi selamat" Ucap Ray dengan senyuman di wajahnya
"Kamu selamat, dia sekarat"
"administrasinya kelar?" Tanya Jack
"Uang Vani kan banyak, ngapain repot" Jawab Ray
("padahal dia sendiri yang di tolong")
"Dia yang sakit, dia juga yang bayar?"
"Yah.. Niatnya kalau aku punya uang sih aku mau bayar"
"Tapi saat ini aku nggak punya uang sepeserpun"
"aku talangin! untuk harga dirimu"
"Wah beneran?! Pahlawan kesorean. Makasih Jack" Ucap Ray senang
"balikin setengah pas kamu punya uang"
"nggak ikhlas nih"
"yakin nolak? kamu pikir jalan keluarnya sendiri" Ucap Jack kalem
"iya deh setuju"
Mendengar suara seseorang, Vani perlahan tersadar. Namun dia langsung berpura pura tidur setelah mengetahui Ray dan Jack disampingnya. dia mencoba menguping pembicaraan Ray dan Jack.
"Vani kenapa bisa sampai sini" Ucap Jack
"entahlah"
"kemungkinan mobil yang tadi kemarin malam itu miliknya" ucap Ray
"hmm.. nggak tau"
("tapi tahu")
"btw Jack, tadi pagi kamu nggak ikut beli makanan. Kamu kemana? Di Markas juga ga ada" ucap Ray
("M*mpus kau Jack, alasan apa yang kau gunakan kali ini haha!") batin Vani
"Aku lihat lihat museum sebelah" ucap Jack santai
"Loh? di kota ini kan gaada museumnya"
"Liat di gugel kan bisa, kenapa harus ke museum?" Tanya Jack
"kamu cuma liat museum di gugel?" Tanya balik Ray
__ADS_1
"Bhaks... ahahahaaa" Vani mencoba menahan tawanya namun tidak bisa. pandangan mereka berdua langsung tertuju padanya
"Vani, kamu udah sadar" Ucap Ray sambil berdiri dari duduknya