
"Cinta..!" panggil Gala, namun Cinta tak menggubrisnya.
"Cinta tunggu!" panggil Gala lagi. Dan lagi Cinta tak menggubrisnya.
"Bila satu langkah lagi, kau di pecat!" seru Gala dan kata itu mampu membuat langkah cinta terhenti.
"Aih..! dasar, mentang-mentang orang kaya, seenaknya saja main pecat-pecat jika tidak suka!" gerutu Cinta.
"Ya terserah aku lah!" balas Gala seraya tersenyum.
"Bukankah seharusnya ada berita tentang acara olah raga ya? Iya Om Juna kan sedang tanding hari ini?" gumam dalam hati Cinta.
"Bolehkah aku nonton televisi?" tanya Cinta yang memohon.
"Cuma nonton televisi kan? Tonton saja!" ucap Gala seraya memakan makanannya.
"Tuan galak, dimana remotnya?"
tanya Cinta kesal.
"Katanya cuma nonton televisi? ya tonton saja televisi itu!" seru Gala sembari tersenyum.
"Tapi aku kan mau lihat acaranya tuan galak!" seru Cinta kesal.
Gala tak pedulikan omongan cinta, dia tetap menikmati makanannya.
Karena kesal cinta nekat melangkahkan kaki ke pintu ruang kerja Gala itu.
"Aku sangat merindukan Om Juna, hanya dia satu-satunya keluargaku" ucap Cinta dalam hati.
"Cinta, apa kamu mau di pecat ya!" seru Gala dan Cinta tak menggubrisnya.
Dia tetap membuka pintu dan keluar dari ruangan Gala.
"Apa dia kesal padaku ya? gawat kalau dia benar dia marah dan keluar dari restoranku. Siapa yang akan memasak nantinya!" gumam Gala yang kemudian berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari ruangannya.
Sedangkan di luar ruangan, ternyata keadaan sudah beres.
Semua karyawan dan karyawati sudah bersih-bersih dan membereskan restoran Bali Ndeso.
Sementara Cinta telah mengambil tas, dia teringat kalau ada mata kuliah jam delapan malam.
"Sekarang masih jam setengah lima sore, apa lebih baik aku pulang saja dulu ya?" ucap Cinta yang kemudian bersama yang lainnya pergi meninggalkan restoran Bali Ndeso.
"Cinta!" panggil Gala waktu sudah berada di dapur.
Gala melihat semua ruangan sudah bersih dan semua karyawan dan karyawatinya juga sudah pulang.
"Cinta! ah.. bodoh, jika dia benar-benar tak kembali bagaimana?" ucap Gala yang merutuki dirinya sendiri.
"Tuan Gala, anda tidak pulang?" tanya Bejo yang merupakan tukang parkir sekaligus keamanan di restoran Bali Ndeso.
"Tidak, aku di sini sampai berangkat kuliah nanti." jawab Gala.
"Oiya, kalau kamu mau sholat atau apa, pintu depan jangan di kunci ya! Aku sedang menunggu seseorang kalau saja dia mengurungkan niat dia!" pesan Gala.
__ADS_1
"Baik tuan" jawab Bejo dan dia kembali ke luar restoran untuk sekedar melihat keadaan.
Gala kemudian melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruangannya.
Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Cinta.
Entah takut kehilangan Cinta sebagai pengganti chef Alleno, atau takut tak akan bertemu cinta lagi jika memang benar Cinta keluar dari restoran.
"Ahh.. Cinta, andai aku tahu rumah kamu? betapa bodohnya aku!'' racau Gala yang terus merutuki dirinya sendiri.
"Aku tunggu Cinta disini, semoga saja dia kembali. Dan aku akan minta maaf padanya!" ucap dalam hati Gala.
Gala kemudian membereskan ruangannya, dan setelah itu dia menyalakan televisinya.
Ada acara pertandingan olah raga tingkat nasional, dan nampak atlit beladiri idolanya sedang tampil.
Gala tak mengetahui bahwa yang dia tonton saat ini adalah Arjuna, Om nya Cinta.
Perlahan-lahan hawa kantuk melanda Gala, dan kini kedua mata Gala terpejam dan Gala sedang tertidur.
Sementara itu dengan Cinta yang sudah sampai di kamar kosnya.
Setelah mandi dan sholat Maghrib, Cinta mengganti pakaian dan bersiap untuk kembali ke restoran Bali Ndeso.
Dimana dia biasa janji bertemu dengan Gala saat mau berangkat kuliah.
Cinta membuka dan menutup pintu kamar kosnya.
Ada tetangga kos Cinta yang lewat dan menyeletuk.
"Eh, bodyguard? apa maksudnya?" tanya Cinta penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Ojol Teguh! saya sarankan ya, kamu itu masih gadis, ngapain juga bareng sama Teguh yang nota Bene duda punya anak satu!" ucap wanita itu sama Cinta.
"Maaf ya Ning saya sama cak Teguh itu nggak ada apa-apa, cuma sebatas teman saja!" jelas Cinta.
"Teman..heh, tapi kok mesra! " seru wanita itu dengan melemparkan senyum sinisnya.
"Terserah apa anggapan Ning, yang jelas aku tidak ada apa-apa dengan Cak Teguh!" ucap Cinta yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat kosnya dengan perasaan kesal.
Cinta terus berjalan di sepanjang trotoar dibawah terangnya lampu-lampu merkuri di pinggir jalan.
Tak berapa lama sampailah dia di depan restoran tempatnya bekerja.
Gadis itu tak sengaja melihat tiga orang yang memakai pakaian serta penutup kepala yang semuanya serba hitam, secara mengendap-endap berusaha membuka mobil yang Cinta kenal.
"Hei ada maling, apa tuan Galak tidak pakai alarm mobilnya ya?" gumam dalam hati Cinta.
"Mas Bejo di mana sih!" seru dalam hati Cinta
Dan kini Cinta memberanikan diri menghampiri ketiga orang itu.
"Ma'af ya! kalian sedang melakukan apa sih?" tanya Cinta yang pura-pura tidak tahu.
"Hei, ada cewek gaess!" seru salah satu orang bertopeng itu.
__ADS_1
"Sayangnya mukanya cacat! he...he..!" seru yang lainnya.
"Ah, nggak apa-apa, yang penting dia harus memuaskan kita malam ini!" seru orang bertopeng yang ketiga.
"Apa maksud kalian?" seru Cinta yang kini dalam posisi bersiaga.
"Mau kami kau harus temani kami tidur malam ini!" seru mereka yang kemudian mengepung Cinta.
"Kata Om Juna, kalau menghadapi musuh itu harus bersikap tenang. Jadi kamu harus tenang ya Cinta!" gumam Cinta dalam hati untuk menghibur dirinya sendiri.
Gadis itu kini mengambil posisi kuda-kuda, dengan tatapan bergantian melirik ketiga lawannya itu.
"Hei, kamu bersandiwara ya? berlagak punya bela diri segala!" celetuk salah satu dari mereka.
Cinta tak menggubrisnya, dia tetap dalam posisi kuda-kudanya dan melirik ketiga laki-laki bertopeng itu satu persatu.
Satu persatu dari mereka menyerang Cinta, dan Cinta meladeni dengan dengan tehnik pukulan, tendangan dan tangkisan yang diajarkan oleh Arjuna.
"Hiaat...!"
"Bagh.. bugh...bagh..bugh...!"
"Aagh...!"
Satu dari ketiga orang bertopeng itu terkena pukulan Cinta di bagian perutnya.
"Wah, ternyata aku bisa mempraktekkannya!" seru dalam hati cinta seraya tersenyum.
"Kurang ajar!" umpat salah satu dari dua orang itu, dan mulailah dia menyerang Cinta.
Dan adu jurus pun terjadi.
Hiaat...!"
"Bagh.. bugh...bagh..bugh...!"
"Aagh...!"
Lagi orang bertopeng itu terkena pukulan tangan kanan Cinta tepat di pipi kirinya.
"Bedebah! kurang ajar!" seru satu orang yang tersisa itu yang kemudian dia mengeluarkan sebuah belati.
"Sial, dia pakai senjata tajam!" gumam dalam hati Cinta yang mulai bersikap hati-hati.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1