CHEF CINTA

CHEF CINTA
Mengenal Sushi


__ADS_3

Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya ke kamar, sembari memasukkan uang dari hadiah lomba itu ke dalam dompetnya.


Setelah membersihkan diri, Cinta kemudian berwudlu dan lanjut menunaikan sholat Isya'.


Beberapa menit kemudian Cinta telah selesai sholat dan dia membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Rasa kantuk dan lelah yang menguasainya terlalu kuat. Perlahan-lahan dia menutup kedua matanya dan akhirnya Cinta masuk ke dalam alam mimpinya.


...****...


Keesokan harinya seperti biasa Cinta berangkat kerja setelah rutinitas dia setelah bangun tidur.


Cinta tetap berjalan kaki menuju ke tempat kerjanya yaitu restoran Mirama.


Dan tak berapa lama dia telah sampai di restoran itu.


"Selamat pagi..!" sapa Cinta seperti biasanya.


Dan tak ada jawaban serta penyambutan dari teman-teman satu tempat Cinta yang kurang begitu menyenangkan diterima Cinta.


Gadis itu menghela nafasnya dan terus melangkahkan kakinya menuju ke tempat kerjanya dibdapur bagian belakang.


Setelah menyiapkan semua peralatan dan bahan-bahan untuknya memasak menu restoran .


"Cinta, Aku kemarin sudah menemui panitia lomba memasak tingkat daerah dimana yang ikut seluruh restoran di kota ini!" ucap Tanaka pada saat menghampiri Cinta.


"Benarkah, terus kakak daftarkan restoran ini?" tanya Cinta yang penasaran.


"Iya, dan perlu kamu tahu kalau restoran tempat kamu bekerja dulu juga mengirimkan chefnya untuk berlomba!" seru Tanaka dengan semangat.

__ADS_1


"Kalau disana mengirimkan chef, berarti mereka libur dong? setahuku chef mereka hanya satu orang, yaitu chef Alleno?" tanya Cinta yang penasaran.


"Entahlah, yang jelas mereka ikut mendaftar. Jadi kamu yang semangat ya! Bantu kami mengembalikan kejayaan restoran Mirama ini!" pinta Tanaka yang penasaran.


"Terus Tema atau menu yang dilombakan apa ya kak?" tanya Cinta yang penasaran.


"Yang pertama masakan Jepang yang dilombakan sushi, masakan tanah air yang dilombakan adalah Soto dan masakan restoran masing-masing. Untuk masakan restoran ini, ciri khas restoran kita adalah masakan barat lidah pribumi. Aku suka spageti buatan kamu, dan nampaknya selera pelanggan kita juga sama denganku, Spageti" ucap Tanaka.


"Baiklah saya mengerti kak!" ucap Cinta.


"Kamu yang semangat ya Cinta!" seru Tanaka dengan mengepalkan tangannya.


"In syaa Allah kak, tapi apakah saya boleh memakai masker?" tanya Cinta seraya menatap ke arah Tanaka.


"Untuk apa?" tanya Tanaka yang penasaran.


"Nanti kak Tanaka juga akan tahu!" jawab Cinta seraya mengulas senyumnya.


"Siap kak! Cinta akan usahakan yang terbaik!" seru Cinta dengan gaya seperti perwira polisi yang sedang hormat pada komandannya.


"Kau ini ya! aku suka gaya kamu!" seru Tanaka yang kemudian berlalu.


Cinta megulas senyumnya seraya memandang kepergian Tanaka.


Ketika belum ada pesanan dari pelanggan, Cinta memanfaatkan dengan membaca tentang masakan jepang terutama Sushi yu yang mandinya sebagai bahan lomba.


📚📚📚


Sejarah

__ADS_1


Konon kebiasaan mengawetkan ikan dengan menggunakan beras dan cuka berasal dari daerah pegunungan di Asia Tenggara. Istilah sushi berasal dari bentuk tata bahasa kuno yang tidak lagi dipergunakan dalam konteks lain; secara harfiah, "sushi" berarti "itu (berasa) masam",[3] suatu gambaran mengenai proses fermentasi dalam sejarah akar katanya. Dasar ilmiah di balik proses fermentasi ikan yang dikemas di dalam nasi ialah bahwa cuka yang dihasilkan dari fermentasi nasi menguraikan asam amino dari daging ikan. Hasilnya ialah salah satu dari lima rasa dasar, yang disebut umami dalam bahasa Jepang.


Nigirizushi dikenal di Jepang sejak zaman Edo. Sebelum zaman Edo, sebagian besar susyi yang dikenal di Jepang adalah jenis oshizushi (susyi yang dibentuk dengan cara ditekan-tekan di dalam wadah kayu persegi).[5] Pada zaman dulu, orang Jepang mungkin kuat makan karena susyi selalu dihidangkan dalam porsi besar. Susyi sebanyak 1 kan (1 porsi) setara dengan 9 kan (9 porsi) susyi zaman sekarang, atau kira-kira sama dengan 18 kepal susyi (360 gram). Satu porsi susyi zaman dulu yang disebut ikkanzushi mempunyai neta yang terdiri dari 9 jenis makanan laut atau lebih.


Pada zaman Edo periode akhir, di Jepang mulai dikenal bentuk awal dari nigirizushi. Namun ukuran porsi nigirizushi sudah dikurangi agar lebih mudah dinikmati. Ahli susyi bernama Hanaya Yohei menciptakan susyi jenis baru yang sekarang disebut edomaezushi.[5] Namun ukuran susyi ciptaannya besar-besar seperti onigiri. Pada masa itu, teknik pendinginan ikan masih belum maju. Akibatnya, ikan yang diambil dari laut sekitar Jepang harus diolah lebih dulu agar tidak rusak bila dijadikan susyi.


Sampai tahun 1970-an susyi masih merupakan makanan mewah. Rakyat biasa di Jepang hanya makan susyi untuk merayakan acara-acara khusus, dan terbatas pada susyi pesan-antar. Dalam manga, sering digambarkan pegawai kantor yang pulang tengah malam ke rumah dalam keadaan mabuk. Oleh-oleh yang dibawa untuk menyogok istri yang menunggu di rumah adalah susyi. Walaupun rumah makan kaitenzushi yang pertama sudah dibuka tahun 1958 di Osaka, penyebarannya ke daerah-daerah lain di Jepang memakan waktu lama. Makan susyi sebagai acara seluruh anggota keluarga terwujud pada tahun 1980-an sejalan dengan makin meluasnya kaitenzushi.


Keberhasilan kaitenzushi mendorong perusahaan makanan untuk memperkenalkan berbagai macam bumbu susyi instan yang memudahkan ibu rumah tangga membuat susyi di rumah. chirashizushi atau temakizushi dapat dibuat dengan bumbu instan ditambah nasi, makanan laut, tamagoyaki dan nori.


Jenis


Susyi pada umumnya digolongkan berdasarkan bentuk nasi, antara lain nigirizushi, oshizushi, chirashizushi, inarizushi, dan narezushi.


Nigirizushi


Makanan laut segar (pada umumnya mentah) diletakkan di atas nasi yang dibentuk dengan menaruh nasi di telapak tangan yang satu dan membentuknya dengan jari-jari tangan yang lain. Nori sering dipakai untuk mengikat neta agar tidak terlepas dari nasi. Lauk yang diletakkan di atas susyi juga bisa dalam keadaan matang seperti tamagoyaki atau belut unagi dan belut anago yang sudah dipanggang.


Pada mulanya, edozushi adalah sebutan untuk susyi yang menggunakan hasil laut Teluk Tokyo, tetapi sekarang sering digunakan untuk menyebut nigirizushi. Di Hokkaido yang terkenal dengan hasil laut, istilah namazushi ( susyi mentah) dipakai untuk susyi dengan neta mentah. Istilah ini dipakai untuk membedakannya dari susyi asal daerah lain yang sering merebus lebih dulu  neta  seperti  udang yang mudah kehilangan kesegarannya.


Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan sushi adalah beras. Beras yang digunakan untuk membuat sushi Jepang merupakan beras Jepang yang berbentuk bulat. Nasi dari beras Jepang ini memiliki tekstur yang lengket dan berbeda dengan beras lokal yang ada di Indonesia.


....~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2