CHEF CINTA

CHEF CINTA
Cinta Pindahan


__ADS_3

"Cinta antar ya nek!" ucap Cinta yang menawarkan dirinya.


"Wah, terima kasih nak, nenek sangat mengharapkannya. Ayo kita jalan ke arah sana!" ucap si nenek sambil terus berjalan dan Cinta mengikutinya.


Tibalah mereka di depan sebuah rumah yang sedikit menjorok ke belakang, dimana di depannya terdapat sebuah kios kecil yang di tutup rapat.


"Apa ini rumah nenek?" tanya Cinta yang penasaran seraya menebarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Benar, ini rumah nenek dan nenek di rumah sendirian. Apakah kamu mau tinggal bersama nenek?" tanya si nenek yang memandang Cinta dengan penuh harap.


"Anak cucu nenek ada dimana?" tanya Cinta yang penasaran.


"Mereka memilih tinggal di luar negeri dan anak perempuanmu ikut suaminya yang dinas di luar kota." jawab si nenek sembari membuka pintu rumahnya.


"Apa mereka tidak pulang nek?" tanya Cinta yang ikut masuk setelah si nenek menyilahkan Cinta untuk masuk.


"Mereka pulang kalau hari raya saja, jadi kamu mau kan temani nenek?" jawab sekaligus tanya si nenek yang kemudian melangkahkan kaki ke dapur dan membawa satu botol air putih dan dua buah gelas.


"Ya saya mau saja nek, kebetulan saya mau cari tempat tinggal. Soalnya tempat kos saya yang kemarin jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal saya nek!" jelas Cinta seraya menerima botol dan gelas dari tangan si Nenek.


"Oh, baguslah kalau begitu. Nenek kan jadi ada temannya. He .he..!" ucap si nenek sambil terkekeh.


Cinta menuangkan air ke dalam dua gelas itu dan dia mengambil salah satu gelas yang berisi air tersebut dan kemudian meminumnya.


"Iya, nek jadi kita saling membutuhkan. Cinta butuh tempat tinggal dan nenek butuh ada yang menemani." ucap Cinta seraya tersenyum.


"Betuk-betul itu, kita saling membutuhkan!" seru si nenek yang juga meminum air putih yang di tuangkan oleh Cinta, dan masih dengan mengulas senyumnya.


"Nama saya Mutiara Cinta nek, nenek siapa namanya?" tanya Cinta sembari mengulurkan tangannya.


"Saya Mulasih, panggil saja nenek Asih. Kamu bisa tidur di kamar samping kamar nenek, di sebelah sana!" ucap si nenek seraya menunjuk ke arah yang di maksudnya.


"Oiya, nek!" ucap Cinta sembari melihat kearah yang di tunjukkan si Nenek Asih itu


"Ayo kita lihat kamarnya, pasti kamu suka." ucap Nenek Asihbitu yang kemudian bangkit dari tempat dia duduk dan melangkahkan kaki menuju ke sebuah kamar yang nampaknya dahulunya kamar putri si Nenek.


Tak berapa lama mereka sampai di kamar yang maksud oleh nenek Asih.


Kamar itu adalah kamar putri nenek Asih yang pergi mengikuti suaminya.


Cinta melihat kamar tersebut dan mengingatkan dirinya akan kamarnya yang telah lama dia rindukan.


"Nek, benarkah saya boleh tinggal dan tidur disini?" tanya Cinta yang memastikan.

__ADS_1


"Iya Cinta, anggaplah nenek sebagai nenek kamu. Dan nenek akan menganggap kamu sebagai cucu nenek sendiri." ucap Nenek Asih sembari menepuk bahu kiri Cinta.


"Kalau begitu, Cinta pamit mau mengambil barang-barang Cinta. Sekalian cinta pamit pada pemilik kos lama Cinta" ucap Cinta seraya menatap Nenek Asih.


"Baiklah, tapi kamu janji cepat kemari ya?" pinta nenek Asih yang juga membalas tatapan Cinta.


"Iya Nek, Cinta janji akan datang kemari dengan secepatnya." balas Cinta sembari mengulas senyumnya.


Cinta bangkit dari duduknya dan pamit pada nenek Asih.


"Assalamu'alaikum...!" salam pamit Cinta seraya melambaikan tangannya.


"Wa'alaikumsalam..!" jawab nenek Asih seraya membalas lambaian tangan Cinta.


Cinta melangkahkan kaki keluar dari rumah nenek Asih dan dia menyusuri sepanjang jalan perkampungan dan menuju ke jalan raya.


"Aku naik angkutan umum saja, aku tak ingin merepotkan cak Teguh lagi" ucap Cinta dalam hati.


Cinta berdiri di tepi jalan raya menanti angkutan jurusan terminal Joyoboyo yang lewat.


Tak berapa lama, angkutan jurusan terminal Joyoboyo telah terlihat dari kejauhan,


Cinta segera berdiri dan melambaikan tangannya, dan angkutan itu pun berhenti tepat dihadapan Cinta.


"Terminal Joyoboyo ya Cak?" tanya Cinta.


Cinta masuk ke dalam angkutan itu, dan duduk di kursi yang masih kosong.


Setelah satu jam lamanya, akhirnya angkutan itu masuk ke terminal Joyoboyo.


"Terakhir...terakhir....Boyo..Boyo.. Boyo..!" teriak sopir angkutan itu.


Dan semua penumpang turun, termasuk Cinta.


Setelah memberi ongkos pada sopir angkutan itu, Cinta melangkahkan kakinya menuju ke tempat kosnya.


untuk mempersingkat langkahnya, Cinta melewati gang-gang kecil di perkampungan sekitar terminal Joyoboyo.


Dan tak berapa lama, dia telah sampai di tempat kosnya.


Cinta mendatangi rumah pemilik tempat kos Cinta dan dia mengutarakan keinginannya untuk pindah dari tempat itu,


"Assalamu'alaikum, pak ma'af jika saya mengganggu." ucap Cinta dengan hati-hati.

__ADS_1


"Tumben kemari, memangnya ada apa Ning Cinta?" tanya si pemilik tempat kos Cinta itu yang penasaran.


"Saya mau pindah kos cak" jawab Cinta seraya menatap wajah pemilik tempat kos.


"Pindah kos? memangnya kenapa dengan tempat kos kamu itu?" tanya pemilik kos itu yang penasaran.


"Tempat kerja saya yang baru lumayan jauh dari tempat kos ini, jadi saya sudah dapat yang lebih dekat dengan tempat kerja saya cak!" jelas Cinta.


"Oh, kalau begitu terserah kamulah, tapi kamu kan belum sampai habis masa tinggalnya di tempat kos kamu ini?" ucap pemilik kos itu.


"Iya, tidak apa-apa Cak. Daripada nanti kalau berangkat kerja kesiangan terus!":balas Cinta.


"Kalau begitu ya terserah kamu saja, kamu kok yang merasakannya. Kalau aku sih yang mana ada uangnya saja! he..he..!" ucap pemilik tempat kos,


"Permisi cak!" ucap pamit Cinta yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke tempat kosnya.


Cinta membuka pintu, dan masuk ke kamar kosnya.


"Aku akan pindah dari tempat kos ini, begitu banyaknya kenangan di tempat kos ini" gumam Cinta dalam hati sembari mengumpulkan semua barang-barangnya.


Tiba-tiba ingatan Cinta kembali ke masa saat pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya.


Waktu itu hanya ada uang dua ratus ribu rupiah di dalam dompet Cinta.


🗓️Flashback on.


Beberapa jam kemudian mobil itu sudah berada di kawasan Surabaya.


Mobil itu berhenti di pinggir sebuah terminal yang dekat dengan kebun Binatang.


"Nah Cinta, kamu turun di sini. Dan selamat menikmati tempat barumu!" seru Hendro saat mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti.


"I..iya paman." jawab Cinta.


Dengan berat hati, Cinta membuka pintu mobil dan keluar dari mobil


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2