
Kemudian Cinta mempersiapkan untuk resep yang ketiga, dan dia mengambil labu kuning sebagai bahan utamanya.
Kali ini Cinta akan membuat sebuah masakan yang sedang hits juga.
Berikut ini resep Klepon Labu Kuning olahan Cinta.
Bahan:
- 450 gram labu kuning yang sudah dikukus, haluskan
- 250 gram tepung ketan putih
- 1/2 sdt garam
- Gula merah secukupnya, untuk isian
- Air (optional)
- Kelapa parut, kukus dengan sedikit garam dan daun pandan
Cara Membuat:
Campurkan tepung ketan dan garam, aduk hingga rata
Masukkan labu yang telah dihaluskan, lalu uleni
Tambahkan air jika diperlukan. Uleni hingga adonan dapat dibentuk.
Ambil adonan sedikit, lalu pipihkan
Isi adonan yang telah dipipihkan dengan gula merah
Bulatkan hingga berbentuk seperti kelereng
Ulangi hingga adonan habis
Didihkan air dalam panci, rebus adonan yang telah dibentuk. Tunggu hingga matang dan mengapung.
Angkat klepon dan tirikan.
Gulingkan klepon pada kelapa parut yang telah dikukus.
Sajikan di atas piring. Klepon labu kuning siap disantap.
Setelah selesai, Cinta mulai menghias masakannya dan menunggu sampai para juri memanggilnya.
"Dan akhirnya lomba memasak antar kelurahan selesai!" seru pembawa acara yang memberitahukan perlombaan telah selesai.
Satu persatu para peserta meletakkan masakan mereka di meja penjurian, termasuk dengan Cinta.
Para juri merasakan satu persatu masakan dari para peserta.
Ada perasaan deg-degan di dada Cinta. Ada perasaan takut dan was-was jika mendengar keputusan juri.
__ADS_1
"Ya Allah semoga hasilnya memuaskan, Aamiin ya Robbal alaamiin." do'a falam hati Cinta.
Akhirnya para juri memutuskan hasil rasa dan melihat kreasi para peserta lomba walau ada sedikit perdebatan yang dialami para juri.
Dan diperolehlah hasil keputusan setelah bermusyawarah bersama.
Pembawa acara telah menyebutkan juara 3 dan 2, dan kini yang ditunggu-tunggu.
Pembawa Acara menyebutkan juara yang sangat dinantikan. Yaitu juara pertama, dan mereka menyebutkan kelurahan dimana Cinta tinggal.
"Dan pemenangnya adalah ... selamat untuk kelurahan Kembang!" seru pembawa acara tersebut.
"A..apa? benar aku menang?" ucap Cinta yang seolah tak percaya itu.
"Cinta, selamat ya!" ucap Iwan yang menghampiri cinta dan mengajak Cinta untuk naik ke panggung bersama juara 2 dan 3.
"Terima kasih, aku sungguh tak menyangka kak!" ucap cinta sembari melangkahkan kaki menuju ke panggung.
Setelah Cinta naik ke atas panggung, acara penyerahan piala dan piagam pun berlangsung.
Dan tentunya Cinta mendapatkan piala, piagam, sejumlah uang dan juga tiket masuk ke lomba tingkat selanjutnya.
"Selamat ya Cinta ata kemenangan hari ini, dan semoga kamu sukses di perlombaan masak yang selanjutnya" ucap Iwan seraya menyalami Cinta yang sudah turun dari panggung.
"Terima kasih kak Iwan, saya sangat berharap bisa sampai ke tingkat nasional. Cinta kepingin ke Jakarta, Cinta kepingin bertemu dengan Om Cinta!" ucap Cinta seraya mengulas senyum.
"Aku do'akan semoga tercapai apa yang kamu inginkan, selama itu tujuan yang baik" ucap Iwan yang membalas senyum Cinta.
"Aamiin ya Robbal alaamiin, terima kasih do'anya kak!" ucap Cinta.
Cinta kemudian mengambil tempat duduk yang nyaman, sementara Iwan melangkahkan kaki menuju ke arah dimana ketua panitia berada.
Beberapa menit kemudian Iwan melangkahkan kakinya menghampiri Cinta, dan mereka melangkah bersama menuju ke tempat parkir. Dimana sepeda motor sport Iwan terparkir.
Keduanya pun naik diatas sepeda motor itu dan melaju ke jalan raya.
"Kak, kita mampir ke masjid sebentar ya?" pinta Cinta.
"Ok, kita memang tidak boleh meninggalkannya" balas Iwan dengan mengulas senyum.
Tak berapa lama sepeda motor sport itu menepi dan berhenti tepat di tempat parkir sebuah Masjid di pinggir jalan.
Setelah berwudlu, mereka menunaikan sholat Dhuhur secara bergantian. Dikarenakan di masjid itu hanya mereka berdua lah yang sedang berada didalamnya.
"Cinta, kita mampir makan dulu ya" ucap Iwan saat mereka selesai menunaikan ibadah sholat Dhuhur di masjid tersebut.
"Makan?" tanya Cinta yang memakai kembali alas kakinya.
"Iya, aku traktir deh, makan bakso mau!" seru Iwan yang sudah menaiki sepeda motornya.
"Bagaimana ya? emm... boleh deh!" balas Cinta yang kemudian naik di belakang Iwan.
"Oke! Cuzz...berangkat ke warung bakso langgananku, pasti kamu suka!" seru Iwan yang menyalakan sepeda motornya.
"Kalau bakso, pasti sukalah! he..be..!" ucap Cinta dan mereka melaju kembali menyusuri jalan raya yang mengarah ke tempat yang akan di tuju oleh Iwan.
__ADS_1
Tak berapa lama, sepeda motor itu menepi dan Iwan memarkirkannya.
"Nah, disinilah tempatnya!" seru Iwan seraya melepas helmnya.
Cinta turun dan tetap membawa piala dan juga piagamnya dalam sebua tas.
Keduanya masuk ke dalam warung bakso dan memesan bakso berikut dengan minumannya.
Tak berapa lama mereka telah selesai memakan bakso dan menghabiskan minuman mereka, dengan sambil bercerita ringan perlombaan.
Kemudian keduanya keluar dari lapak bakso tersebut dan kembali menaiki sepeda motor sport milik Iwan.
"Cinta, kalau ada lowongan pekerjaan boleh donk aku dimasukkan di restoran Mirama!' ucap Iwan seraya memberikan helm pada Cinta.
"Katanya gaji restoran Mirama itu kecil? kenapa kamu mau masuk ke sana sih?' tanya Cinta yang penasaran seraya menerima helm dari tangan Iwan dan memakainya.
"Aku mau cari kerja dekat rumah saja, karena aku dirumah hany berdua sama adikku saja" Iwan yang menjelaskan.
"Baiklah, nanti kalau ada informasi akan aku kabari" ucap Cinta seraya naik ke atas sepeda motor tersebut.
Sepeda motor tersebut melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah kampung mereka.
Dari kejauhan, Iwan melihat ada percekcokan di tengah jalan dan dia berhenti.
"Kenapa berhenti kak?" tanya Cinta yang penasaran.
"Kau lihat didepan sana! ada orang yang sedang bertengkar!' jawab Iwan seraya menunjuk ke arah yang dia maksudkan.
"Sudah jangan urusi urusan mereka! kita lanjut saja jalannya!" seru Cinta dan Iwan menyalakan kembali sepeda motornya.
Ketika sepeda motor itu melaju secara pelan-pelan karena jalanan yang macet di siang hari menjelang sore itu, Cinta tanpa sengaja melihat dua orang yang sedang bertengkar itu.
Sebuah mobil mewah dan sebuah sepeda matic yang sangat familiar di kedua matanya.
"Jangan-jangan itu mereka!'' seru dalam hati Cinta yang kemudian menepuk pundak Iwan, dan menyuruhnya berhenti.
"Berhenti kak! Berhenti..!'" seru Cinta seraya menepuk pundak Iwan beberapa kali.
"Apa sih? tadi katanya jangan perdulikan, itu urusan mereka! kenapa sekarang meminta berhenti sih?" gumam Iwan yang bingung dengan sikap Cinta.
"Kak, aku kenal mereka!" seru Cinta yang sudah turun dari sepeda motor dan segera melepas helm dan memberikannya pada Iwan.
Iwan penasaran dengan apa yang membuat Cinta berubah dalam sekejam itu.
Iwan turun dari sepeda motornya dan mengejar Cinta yang telah mendahuluinya, melangkah menuju ke tempat dimana dua orang yang sedang beradu mulut hingga fisik itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...