
Setelah itu Cinta mulai memejamkan kedua matanya dan gadis itu terbuai dalam mimpinya.
Keesokan harinya seperti biasanya Cinta bangun dan membuat sarapan untuk dirinya dan nenek Asih.
Selesai membuat sarapan, Cinta mandi dan membersihkan diri demikian pula dengan nenek asih yang juga mandi di kamarnya yang memang tersedia kamar mandinya.
Setelah itu keduanya keluar dari kamar dan hendak sarapan bersama.
Tiba-tiba ada suara sepeda motor berhenti di halaman rumah nenek Asih.
"Tok...tok..tok..!" suara pintu yang diketuk seseorang.
"Siapa pagi-pagi yang bertamu Cinta?" tanya nenek Asih yang penasaran.
"Mungkin kak Iwan nek, bukankah nenek minta penjelasan dari dia soal yang semalam?" tanya Cinta yang mencoba mengingatkan si nenek Asih tentang percakapan mereka semalam.
"Oiya, coba kamu buka pintunya!" seru nenek Asih.
"Iya nek!" sahut Cinta yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu depan rumah nenek Asih.
"Tok...tok...tok...!" kembali pintu di ketuk oleh seseorang.
"Assalamu'alaikum" ucap salam suasra laki-laki dari depan pintu rumah nenek Asih.
"Wa'alaikumsalam" Cinta membalas salam tadi dan membuka pintunya perlahan.
"Klek..klek..ceklek...!" Cinta membuka pintu dan terlihat sesosok pemuda yang tak lain adalah Iwan yang berada di depan pintu rumah nenek Asih tersebut.
"Cinta!" panggil Iwan sembari mengulas senyumnya.
"Kak Iwan, ayo masuk!" ajak Cinta yang membuka pintu lebih lebar, dan Iwan masuk dan melihat ke sekelilingnya.
"Nenek Asih ada dimana?" tanya Iwan yang memandang ke arah Cinta.
"Ada, kami sedang sarapan. Ayo kita sarapan sekalian" jawab dan sekaligus ajak Cinta yang melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan dan diikuti oleh Iwan.
"Assalamu'alaikum nek!" ucap Iwan saat sampai di ruang makan dan menghampiri nenek Asih, kemudian mencium punggung tangan kanan nenek Asih.
"Wa'alaikumsalam, eh nak Iwan ayo sarapan dulu. Setelah itu nenek mau tahu kejelasan dari kamu tentang apa yang dikatakan oleh Cinta!" seru nenek Asih seraya memberi kode pada Iwan untuk duduk dan mengambil sarapannya.
"Kamu juga Cinta, kita sarapan sama-sama!" seru nenek Asih.
"Iya nek!" jawab Cinta yang kemudian mereka bertiga sarapan bersama.
__ADS_1
Selesai sarapan, Iwan kemudian menceritakan tentang Sari yang menjadi tunangannya.
"Saya adalah kekasih Sari dan kami bertunangan sebelum Sari pergi ke luar negeri. Sebelumnya sari bercerita kalau almarhumah ibunya sebelum meninggal berpesan padanya kalau Sari mempunyai seorang nenek di Surabaya." jelas Iwan uang memperlihatkan barang-barang yang dia bawa dari rumahnya, yang merupakan barang-barang Sari untuk membuktikan bahwa sari benar-benar cucu nenek Asih. Ada foto dan benda-benda pemberian nenek Asih yang dibawa oleh Iwan.
"Putriku Tari!" ucap lirih nenek Asih yang didengar oleh Cinta dan Iwan.
"Nenek, bulan depan Sari akan pulang ke Indonesia. Karena kontrak kerja dia telah selesai, ada kemungkinan dia langsung pulang kesini nek" ucap Iwan yang membuat nenek asih sedikit sumringah.
"Betulkah? nenek akan menunggunya" ucap nenek Asih yang menyeka air matanya.
"Kalau begitu, saya dan Cinta mau berangkat kerja dulu ya nek? barang-barang ini biar nenek saja yang simpan" ucap Iwan yang memandang nenek Asih yang terus memandangi foto putrinya, ibu dari Sari.
"Iya, kalian hati-hati ya dalam perjalanan" ucap nenek Asih yang menyeka air matanya.
"Iya nek" ucap Cinta yang mencium punggung tangan kanan nenek Asih dan demikian pula dengan Iwan yang juga mencium punggung tangan kanan nenek Asih.
"Assalamu'alaikum!" ucap salam pamit Cinta.
"Wa'alaikumsalam" balas nenek Asih yang kali oni tak mengantar Cinta dan Iwan keluar rumah.
Cinta dan Iwan melangkahkan kaki keluar rumah dan menuju ke sepeda motor Iwan yang terparkir di depan rumah nenek Asih.
Keduanya naik ke atas sepeda motor tersebut dan kemudian melaju keluar dari halaman rumah. Dengan perlahan menyusuri jalan perkampungan yang mengarah ke restoran Mirama.
Seperti biasanya Cinta diantarkan oleh Iwan, setelah meminta ijin pada Ramaya dan Damira .
Tetap dengan mengendarai sepeda motor sport milik Iwan, Cinta dan Iwan melaju menuju ke gedung tempat dimana ada perlombaan masak tingkat propinsi.
Beberapa menit kemudian Cinta dan Iwan telah sampai di tempat perlombaan memasak.
"Bukankah itu Chef Alleno?" bisik Cinta pada Iwan, Iwan yang penasaran kemudian mencari sesosok chef Alleno seperti yang dikatakan oleh Cinta.
"Benar, itu chef Alleno!" seru Iwan yang terus memandang sesosok laki-laki berusia tiga puluhan itu dengan penasaran.
"Ayo kita hampiri chef Alleno!" ajak Cinta yang melangkahkan kakinya menghampiri sesosok laki-laki yang dimaksudnya.
"Iya" jawab Iwan yang mengikuti Cinta yang sudah mendahuluinya.
"Chef, chef Alleno!' panggil Cinta yang membuat si empu nama menoleh mencari keberadaan orang yang memanggilnya.
"Cinta! aku mencarimu sedari tadi!" seru chef Alleno yang mengulas senyum bahagianya bisa menemukan Cinta.
"Kami baru saja sampai chef!" sahut Iwan yang mensejajarkan dirinya dengan Cinta.
__ADS_1
"Oh, pantas saja aku tak menemukan kalian" ucap chef Alleno.
"Chef kenapa kemari?" tanya Cinta yang penasaran.
"Tahun lalu aku adalah juara bertahan dan aku ingin melawan kamu Cinta, he..he..!" jawab Chef Alleno seraya terkekeh.
"Jadi benar Chef Alleno juara bertahan tahun lalu?" tanya Cinta untuk lebih jelasnya
"Iya, kamu tak percaya?" jawab sekaligus tanya chef Alleno yang penasaran dengan pertanyaan Cinta.
"Bu..bukannya tak percaya, gimana ya? ini berarti Cinta melawan guru Cinta sendiri?" tanya Cinta yang masih belum percaya.
"Tak usah bingung Cinta, banyak yang seperti itu. Mereka melawan para guru mereka, Cinta malah hal ini kamu jadikan cambuk untuk menjadi lebih baik!" nasehat Iwan yang di dimengerti oleh Cinta.
"Baiklah semuanya, perlombaan akan segera dimulai! Persiapkan diri kalian masing-masing!" seru pembawa acara lomba memasak tingkat propinsi itu.
Cinta dan chef Alleno bersiap di meja masing-masing.
"Perhatian semua ya, kalian sebelum memasak harap mengambil lipatan kertas di akuarium mini ini. Dan didalam kertas ini nanti ada menu makanan yang harus kalian buat! jadi semoga kalian beruntung mendapatkan menu makanan yang kalian kuasai, namun bisa juga kalian mendapat menu makanan yang tidak kalian kuasai. Jadi bersiaplah!" seru pembawa acara.
Dan satu persatu para peserta mengambil menu masakan yang akan mereka masak. Tibalah giliran chef Alleno yang mengambil kertas lipat yang bertuliskan menu yang akan dia buat.
Nampak wajah sumringah yang terancar dari wajah chef Alleno. Itu pertanda kalau dia menguasai menu yang akan dia buat nantinya.
Demikian pula dengan Cinta yang mengambil kertas lipat yang ada di akuarium mini tersebut. Jantung Cinta berdesir pada saat membuka lipatan kertas tesebut.
"Menu apa yang aku masak ya?" gumam Cinta yang perlahan-lahan membuka kertas tersebut.
"Hahh...!"
Cinta sangat terkejut pada saat membuka dan membaca tulisan di dalam lipatan kertas tersebut.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1