CHEF CINTA

CHEF CINTA
Undangan Buat Cinta


__ADS_3

"Oiya benar juga!" ucap Risky dan mereka pun saling tertawa bersama.


"Kalian kemari bukan hanya memberitahukan hal tadi kan?" tanya Cinta yang mencoba menebaknya.


"Eh, tahu juga kamu Cin kalau kami ada maksud lain datang menemui kamu" ucap Risky yang tersenyum kecil.


"Kami meminta kamu untuk membantu chef Alleno dalam hajatan di rumah orang tua tuan Gala" jawab Nila yang menatap Cinta.


"Hajatan? kenapa aku, kenapa enggak menyewa chef atau catering terkenal saja?" tanya Cinta yang penasaran.


"Cinta..cinta..! sadar nggak sih kalau kamu itu sudah terkenal!' seru Risky yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"A..aku terkenal? aku nggak paham?!" ucap Cinta dengan polosnya.


"Begini ya Cinta sahabatu yang polos bin entahlah! kamu itu kan sudah ikut lomba berapa kali, dan rata-rata kamubitu juara pertama. Maka banyak media yang mengunggah foto-foto kamu!" jelas Nila gemas.


"Hanya saja, mereka tidak tahu jati diri kamu yang sebenarnya. Jadi hati-hati saja di jalan nanti kalau bertemu dengan wartawan surat kabat maupun media sosial. Siap-siap dicecar banyak pertanyaan! ha..ha..!" ucap Risky sembari tertawa.


"Oh begitu ya?" ucap Cinta yang mulai was-was.


"Sudah tenang saja! Oiya, kami sangat mengharapkan kesediaan kamu membantu chef Alleno Minggu depan di rumah Tuan Gala. Bagaimana kamu bisa kan?"' tanya Nila yang penasaran.


"Iya, akan Cinta usahakan!" ucap Cinta.


"Kalau begitu, kami undur diri. Jangan lupa ya Cin, Minggu depan" ucap Risky yang kemudian bangkit dari duduknya dan kemudian mengulurkan tangannya pada Cinta.


Cinta menyambut uluran tangan Risky dan diikuti dengan Nila.


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ke luar restoran Mirama.


"Assalamu'alaikum!" ucap pamit Risky dan juga Nila bersamaan yang sudah naik ke sepeda motor dan Nila melambaikan tangan pada Cinta.


"Wa'alaikumsalam!" balas Cinta yang membalas lambaian tangan sahabatnya.


Setelah kedua sahabatnya berlalu, Cinta masuk ke restoran Mirama dan melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


Saat di dapur dia melihat Iwan sedang menyiangi sayuran.


Tiba-tiba Damira datang dengan yergesa-gesa menghampiri Cinta.


"Cinta!" panggil Damira dengan nafas terengah-engah.


"Ada apa kak?" tanya Cinta yang penasaran.


"Tadi katanya ada teman kerja kamu di tempat kerja yang lama ya?" tanya Damira yang penasaran.


"Iya, memangnya ada apa kak?" jawab sekaligus tanya Cinta.

__ADS_1


"Apa kamu akan kembali pada mereka?" tanya Damira yang penasaran.


"Iya kak, Minggu depan aku bersama mereka lagi" jawab Cinta yang berarti lain di pikiran Damira.


"Saya mohon Cinta, kamu jangan kembali pada mereka!" racau Damira yang kemudian memeluk Cinta dengan eratnya.


"Hukk...Hukk..hukk...!" Cinta yang belum siap menerima pelukan erat Damira pun terbatuk-batuk.


"Eh, ma'af Cinta. Aku terlalu khawatir jika kamu pindah kerja. Karena kamulah restoran Mirama berjaya lagi" ucap jujur Damira yang kedua matanya berkaca-kaca.


"Tu..tunggu, apa kak Damira pikir Cinta keluar dari restoran Mirama?" tanya Cinta yang penasaran.


"I..iya, apa aku keliru?" jawab sekaligus tanya Damira yang kebingungan.


"Aku memang akan berkumpul dengan mereka tapi dalam situasi yang berbeda. Aku diundang untuk membantu memasak dalam acara mereka" jelas Cinta.


"Oalah, syukurlah kalau begitu. Aku terlalu takut jika harus kehilangan kamu Cinta!" seru Damira yang bernafas lega.


"He..he..! tenang saja kak, Cinta betah kok di sini!" ucap Cinta dengan mengulas senyumnya.


"Oke kalau begitu, kita kerja-kerja dan kerja! semangat Cinta!" seru Damira yang mulai bisa tersenyum lega.


"Siap kak!" balas Cinta yang kemudian melakukan aktifitas rutinnya.


Satu Minggu kemudian


Pagi itu Iwan datang ke rumah nenek Asih untuk menemui Cinta.


"Wa'alikumsalam, eh nak Iwan mari masuk!" jawab nenek Asih pada saat mengetahui siapa yang datang bertamu.


"Iya nek, Cinta nya ada nek?" tanya Iwan sembari melangkahkan kakinya.


"Oh ada, sebentar ya! kamu duduk saja dulu. Cinta masih ada di kamarnya" jawab nenek Asih seraya menunjuk ke arah sofa tamunya.


"Baik nek terima kasih!" ucap Iwan yang kemudian duduk di sofa sesuai arahan nenek Asih.


"Cinta! ditunggu nak Iwan!" panggil nenek Asih dengan berseru.


"Iya nek! sebentar lagi!" balas Cinta yang saat ini sedang berada di depan cermin.


Berkali-kali Cinta melihat wajahnya dan dia seolah tak percaya.


"Wah, lulur dari chef Alleno benar-benar berkhasiat!" gumam Cinta yang saat ini wajahnya kembali seperti sebelum mengalami kecelakaan.


Cinta kemudian mengambil tas kecilnya dan diisi dengan dompet, ponsel, charge, apron dan kosmetik simpelnya. Kemudian Cinta melangkahkan kaki keluar dari kamarnya.


Gadis itu berjalan dan kemudian menghampiri Iwan yang masih duduk di sofa tamu.

__ADS_1


"Hai Iwan, sudah lama ya?" tanya Cinta yang kemudian duduk di sofa.


"Baru saja, ayo berangkat sekarang!' ajak Iwan yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Ayo!" balas Cinta yang kemudian bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya mencari keberadaan nenek Asih.


"Nek...nenek!" panggil Cinta.


"Ada apa Cinta" jawab nenek Asih yang keluar dari dapur dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat tiga gelas teh manis hangat.


"Lho, nenek kenapa repit-repot buat minum sih?" tanya Iwan yang mengambil alih nampan yang dibawa nenek Asih.


"Nggak apa-apa, ayo minum dulu!" seru nenek Asih yang memberi kode pada Cinta dan Iwan untuk duduk kembali.


Kemudian mereka meminum teh manis hangat itu dan langsung menghabiskannya.


"Nek kami berangkat ya, sudah siang nih! nanti nggak enak sama yang lainnya!" Ucap Cinta.


"Baiklah, hati-hati ya!" ucap nenek Asih seraya bangkit dari duduknya.


"Iya nek, Assalamu'alaikum" salam pamit Cinta seraya mencium punggung tangan kanan Nenek Asih.


"Wa'alaikumsalam!" balas Nenek Asih yang sambil tersenyum.


"Iwan juga ya nek!" ucap Iwan yang juga mencium punggung tangan nenek Asih.


"Iya, jaga cucuku ya nak Iwan!" seru Nenek Asih seraya menepuk bahu Iwan.


"Siap nek!" seru Iwan seraya memposisikan tangannya seperti perwira yang sedang menghadap atasannya.


"Sudah sana berangkat, katanya dah kesiangan!" seru nenek Asih sembari mengulas senyumnya.


"He. he .. iya nek!" ucap Cinta dan Iwan yang bersamaan dan kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke teras rumah.


Langkah kaki Cinta dan Iwan berlanjut menuju dimana sepeda motor sport Iwan terparkir.


Setelah memakai helm, keduanya naik ke atas sepeda motor dan Iwan menyalakan kendaraannya.


Sepeda motor itu pun melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2