
"Baik saya terima dan bisa tunjukkan di mana dapurnya?" tanya Cinta yang berusah membuat hatinya tenang dari rasa gugupnya.
"Ayo ikut saya!" kata gadis itu dan mereka melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur. dan Cinta melihat beberapa menu makanan yang disediakan di restoran Mirama itu.
Cinta memasak beberapa menu makanan itu disamping chef restoran Mirama dan ketiga orang tadi mengawasi Cinta seperti juri di acara kompetisi memasak dengan dua juri laki-laki dan satu juri perempuan yang tayang di televisi.
Yang membedakan adalah karena pesertanya yang hanya Cinta sendirian.
Cinta memasak menu yang ada dalam daftar tersebut dengan hati- hati dan beberapa jam kemudian Cinta telah menyelesaikan menu makanan itu.
Akhirnya ketiga juri tersebut mencicipi menu masakan buatan Cinta.
Ketiganya saling pandang dan menganggukkan kepala mereka.
"Nama kamu tadi siapa?" tanya perempuan yang menjadi Juri dalam mengincipin masakan Cinta.
"Cinta nama saya Mutiara Cinta, nama panggilan saya Cinta." jawab Cinta seraya menundukkan kepalanya.
"Saya Damira" ucap gadis yang ada dihadapan Cinta seraya mengulurkan tangannya.
Cinta menerima uluran tangan itu dan dan keduanya saling mengulas senyumnya.
"Saya Rama" ucap Pemuda yang bersama Starla dan berkacamata, yang juga mengulurkan tangannya.
"Kalau saya Tanaka, kamu asli mana?" kata dan sekaligus tanya laki-laki bertubuh tegap dan berambut panjang sebahu namun selalu diikat olehnya.
"Saya asli Solo dan dibesarkan di Jakarta" jawab Cinta sembari menatap ketiga orang didepannya itu.
"Baiklah Cinta, mulai besok kamu boleh bekerja di sini. Dan kami harapkan kamu bisa menambah penambah pengetahuan kamu dengan menu-menu yang lainnya" ucap laki-laki yang bernama Ramaya itu.
"Iya, terima kasih nanti akan saya belajar lebih banyak menu lagi." ucap Cinta dengan menundukkan kepala sebagai tanda hormatnya.
Cinta tak menyangka kalau dirinya akan diterima dan langsung kerja apalagi dengan posisi sebagai Kokie di restoran yang lebih besar dari restoran Bali Ndeso, sedangkan saat awal bekerja di restoran Bali Ndeso Cinta di tempatkan hanya dibagian cuci piring.
Setelah itu Damira, Ramaya dan Tanaka memperbolehkan Cinta untuk pulang dan kembali lagi bekerja di keesokan harinya.
Cinta melangkahkan kaki keluar dari restoran Mirama.
Gadis itu sengaja berjalan kaki, dan tidak memanggil Teguh untuk menjemputnya.
Selama dia melangkahkan kakinya, Cinta terus berpikir.
"Apa aku sebaiknya mencari tempat kontrakan ya, jadi bukan kos lagi. Selain mencari tempat yang lebih dekat, aku butuh tempat untuk memasak. Karena kalau di tempat kos, aku tak mungkin bisa mengembangkan diri aku untuk belajar memasak!" ucap Cinta dalam hatinya.
Cinta terus melangkahkan, bertanya ke setiap orang yang dia temui.
__ADS_1
"Ma'af apakah d sekitar tempat yang?ada rumah yang dikontrakkan?" tanya Cinta pada setiap orang yang Cinta temui.
"Tolong...jambret! Jambret...!" seru seorang wanita tua yang berteriak-teriak meminta tolong.
Cinta berlari mendekati nenek itu yang menangis dengan histeris.
"Nek, nenek kenapa?" tanya Cinta yang penasaran.
"Tas Saya nak, dijambret orang!" jawab si nenek itu masih dalam keadaan kacau.
"Ke arah mana nek, jambret itu larinya?" tanya Cinta yang penasaran.
"Ke arah sana!" jawab nenek itu sembari menunjukkan ke arah mana jambret itu berlari membawa tas miliknya.
Setelah tahu arah si penjambret itu pergi, Cinta lantas berlari mengejar jambret itu.
Beberapa menit Cinta berlari, akhirnya dia melihat seorang laki-laki uang berlari dengan tergesa-gesa menjauh dari arah Cinta.
Cinta terus mengejar laki-laki itu yang membawa sebuah tas bermerk, yang kemungkinan itu milik si Nenek tadi.
"Hei tunggu!" seru Cinta dan si penjambret itu tetap berlari dan Cinta terus mengejarnya.
Tiba-tiba laki-laki itu berhenti, dan laki-laki itu berbalik arah yang semula membelakangi Cinta saat ini berhadapan dengan Cinta.
"Plok..! plok...! plok...! plok..!"
Cinta melihat keadaan dirinya saat ini, dimana dirinya sedang dikepung dua laki-laki di depan dan di belakangnya.
"Ya Allah, mereka menjebakku rupanya!" seru Cinta yang kini bersikap hati-hati dan tetap waspada, jika terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Laki-laki dihadapan Cinta menyerang, seketika Cinta mengelak ke samping kanan dan kiri.
Pada saat ada kesempatan, Cinta memegang tangan lawannya dan memukul pada bagian perut si penjambret itu.
"Bugh...!"
"Uuughh...!"
Penjambret itu mengalami kesakitan yang luar biasa.
"Sialan! lumayan juga kau perempuan!" gerutu laki-laki yang berada di belakang Cinta.
Cinta berbalik, karena dia tahu laki-laki itu hendak melawannya.
Laki-laki itu memukul Cinta dengan membabi-buta dan Cinta melakukan hal yang sama menghindari pukulan-pukulan itu dengan mengelak ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
Dan kembali Cinta ada kesempatan untuk memegang tangan lawannya dan memukul pada bagian perut si laki-laki itu.
"Bugh...!"
"Uuughh...!"
Laki-laki itu pada saat ini juga mengalami kesakitan yang luar biasa.
Dua orang laki-laki terkapar tak berdaya, dan Cinta mengambil tas dari laki-laki pertama yang memang yang mengambil tas milik si nenek tadi.
"Dasar kalian ini ya! masih banyak pekerjaan yang halal. Sukanya kok sama pekerjaan yang di sukai Syetaan!" seru Cinta yang kemudian berlari meninggalkan kedua penjambret itu.
Cinta segera menghampiri si nenek yang terduduk lemas di trotoar jalan raya yang tadi dilewati oleh Cinta tadi dan sudah dikelilingi banyak orang.l
"Nek, apakah tas ini benar milik nenek?" tanya Cinta sembari memposisikan dirinya duduk bersimpuh sejajar dengan si nenek yang telah di jambret itu.
Nenek itu yang semula menutup wajahnya dengan telapak tangannya, kemudian membuka telapak tangannya dan menyeka air matanya dengan jari telunjuk tangan kanannya.
"Eh, benar ini tas saya. Terima kasih ya nak!" ucap si nenek itu yang menerima tasnya dari Cinta.
"Nek, coba nenek cek ulang isinya masih ada atau tidak" ucap Cinta dan si nenek mengangguk mengerti. si nenek kemudian membuka tas dan memeriksa semua semua isi-isinya.
"Iya, masih komplit nak. Terima kasih ya" ucap si nenek sembari mengusap punggung tangan Cinta.
"Wah, untung ada nona ini nek, jadi masih rejeki nenek!" seru beberapa orang yang kemudian membubarkan diri mereka masing-masing.
Kemudian Cinta membantu si Nenek itu berdiri.
"Nenek kenapa jalan sendirian?" tanya Cinta yang penasaran.
"Cucuku dan anak-anakku sudah menetap di luar kota, aku sendirian di kota ini nak!" jawab si nenek itu yang membenarkan kacamatanya yang tak tadi sempat terlepas.
"Cinta antar ya nek!" ucap Cinta yang menawarkan dirinya.
"Wah, terima kasih nak, nenek sangat mengharapkannya. Ayo kita jalan ke arah sana!" ucap si nenek sambil terus berjalan dan Cinta mengikutinya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF CINTA ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...