CHEF CINTA

CHEF CINTA
Mendaftar lomba memasak 17an


__ADS_3

Setelah membacanya Cinta mulai memasak.


Kembalilah Cinta mengotak-atik ponselnya dan sekalian mencari informasi lomba-lomba memasak.


"Ada nih lomba memasak antar restoran? hm, waktu dan tanggalnya pukul 9 pagi tanggal 20 Agustus dan bertempat di gedung balai kota. Lomba yang ditujukan untuk mengetahui restoran-restoran yang berkualitas dan berkuantitas. Boleh juga nih!" gumam Cinta pada saat membaca sebuah pengumuman di media sosial.


" Eh ada lomba memasak tujuh belasan Agustus di tiap kampung di hampir seluruh kota Surabaya. Wah boleh nih di coba!" kata Cinta yang bersemangat.


"Di kampung A pada Minggu pertama, kampung B di Minggu kedua dan seterusnya. Ini mumpung tiap hari d Minggi lombanya" ucap dalam hati Cinta.


"Ikut sajalah buat mengasah diri, nggak ada salahnya untuk ikut!" gumam dalam hati Cinta.


Tak berapa lama, ada pegawai restoran lagi yang datang dan menyodorkan menu pesanan pelanggan.


Cinta segera membuatnya dalam waktu yang sangat cepat.


Setelah selesai, Cinta membuat Garnish pada makanan tersebut.


Dan akhirnya sudah tiba waktunya untuk pulang karena jam sudah menunjukkan jam pulang tuntuk cinta dan yang lainnya.


"Cinta, bagaimana kesan kamu pada hari pertama masuk kerja ini?" tanya Tanaka pada waktu Cinta keluar dari dapur karena sudah selesai beres -beres dapur bagian dia.


"Ya lumayanlah untuk yang pertama kalinya." Ucap Cinta sembari mengulas senyumnya dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar dari restoran.


Sementara Tanaka masih mengikutinya.


"Oiya kak Tanaka, kak bagaimana kalau aku ikut lomba tingkat daerah ini! Ya kalau menang kan bisa bawa nama restoran, kalau kalah ya hitung-hitung sekedar mengasah kemampuan Cinta!" ucap Cinta dan di mengerti oleh Tanaka.


"Aku setuju sekali, kalau kamu benar-benar mau ikut bisa aku daftarkan sekarang juga!" ucap Tanaka.


"Serius kak? mau-mau sekali!" seru Cinta yang semangat.


"Baiklah, sekarang pulang dan istirahatlah.


"Terima kasih kak!" ucap Cinta yang kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan restoran Mirama untuk menuju ke rumah nenek Asih.


Sepanjang jalan Cinta melihat di tiap gang perkampungan, sudah terlihat bendera dan juga umbul-umbul.


"Nggak terasa kalau sudah bulan Agustus. Coba lihat papan pengumuman, mungkin saja ada lomba memasaknya!" gumam dalam hati Cinta.


Dan Cinta melangkahkan kaki menuju ke papan pengumuman dan di lihatnya ada daftar lomba memasaknya.


"Hei, ini nanti malam acaranya! apa masih ada kesempatan untuk ikut ya?" tanya dalam hati Cinta yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke warga yang ada di luar rumah untuk bertanya dimana cara mendaftarnya.

__ADS_1


"Ma'af Bu, dimana ya rumah panitia lombanya? saya mau ikut lomba memasak, apakah masih bisa ikut?" tanya Cinta pada seorang ibu-ibu yang kebetulan keluar rumah.


"Oh bisa masih ada kesempatan untuk ikut, daftar saja di rumah bercat hijau itu ya!" jawab si ibu seraya menunjuk ke arah rumah yang bercat hijau itu.


"Oh, terima kasih" ucap Cinta seraya menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Cinta segera melangkahkan kaki menuju ke rumah yang bercat hijau tersebut dengan mempercepat langkahnya.


"Assalamu'alaikum.." ucap salam Cinta saat sampai di teras rumah, dan tak berapa lama mendapat jawaban dari dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam.." terdengar suara seorang pemuda yang keluar dari dalam rumah setelah membukakan pintu rumah tersebut.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya pemuda tersebut dengan ramah.


"Ma'af kak, apa masnya panitia lomba Agustusan?" tanya Cinta pada saat berhadapan dengan pemuda itu.


"Iya saya panitia lombanya, apa Ning mau ikut lomba?" tanya pemuda itu dengan antusias.


"Iya, tapi saya pendatang baru, baru kemari saya tinggal bersama nenek Asih" jawab Cinta sejujurnya


"Oh, iya tinggal bersama nenek Asih ya? boleh-boleh saja, tapi mau ikut lomba apa?" tanya Pemuda itu dengan penasaran.


"Lomba memasak, apa masih ada kesempatannya?" tanya Cinta yang penasaran.


"Oh, iya! masih-masih ada kesempatan kok, pendaftarannya tinggal hari ini." jawab pemuda itu dengan ramah.


"Menunya nasi goreng untuk lima orang, kompor dan tabung gas sudah disediakan panitia. Yang lainnya silahkan untuk peserta yang menyediakannya sendiri" ucap pemuda itu.


"Oh ok, jam berapa ya?" tanya Cinta.


"Jam delapan malam, ma'af dengan siapa?" tanya pemuda itu yang mengambil buku agendanya.


"Saya Cinta kak!" jawab Cinta seraya menatap pemuda itu yang sedang menulis nama cinta di buku agendanya.


Kemudian pemuda itu memberikan sebuah kartu bertuliskan nomor.


"Ini nomor urut kamu, kalau ada apa-apa carilah nama Iwan itulah namaku." jelas pemuda itu yang tak lain bernama Iwan.


"Oiya, terima kasih! Berarti ba'dha Isya' ya?" tanya Cinta untuk lebih jelasnya.


"Iya tepat, kalau bisa sebelum jam delapan sudah siap semuanya." ucap Iwan seraya mengangguk dengan ramah.


"Baiklah saya pulang lebih dulu untuk mempersiapkan semuanya" ucap Cinta.

__ADS_1


"Iya silahkan!" balas Iwan sembari mengulas senyumnya.


"Assalamu'alaikum..!" ucap salam pamit Cinta.


"Wa'alaikumsalam...!" balas Iwan yang memandan Cinta meninggalkan dirinya sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.


Sementara Cinta melangkahkan kakinya menuju ke rumah nenek Asih.


Tak berapa lama Cinta telah sampai di rumah nenek Asih dan Cinta mendapati nenek Asih sedang duduk di teras ditemani secangkir teh dan juga makanan ringan.


"Assalamu'alaikum nenek!" ucap salam Cinta pada saat masuk ke teras dan menghampiri nenek Asih.


"Wa'alaikumsalam..! Bagaimana kerja kamu Cin?" jawab salama dan tanya nenek Asih seraya meletakkan cangkir tehnya di atas meja.


"Alhamdulillah lancar Nek!" jawab Cinta di sisi lain meja yang ada di dekat nenek Asih.


"Nek, Cinta tadi daftar lomba memasak untuk tujuh belasan. Temanya nasi goreng, Cinta mau mengasah kemampuan Cinta Nek!" ucap Cinta dengan semangat.


"Nenek mendukungmu Cin, kapan mulainya lomba?" tanya tanya nenek Asih yang penasaran.


"Nanti malam nek, Cinta mau mempersiapkan semua yang di perlukan untuk lomba nek" ucap Cinta .


"Iya, ambil saja sayuran dan bumbu sesuai kebutuhan kamu" ucap nenek Asih yang kemudian bangkit dengan membawa cangkir teh, sementara cinta membawa makanan ringan itu dan mereka masuk ke rumah.


Cinta menyiapkan bahan dan peralatan yang akan digunakan nanti saat lomba nanti.


Nenek Asih juga membantu menyiapkan semuanya terutama bahan dan bumbunya.


"Kalau masalah Menang dan kalah adalah hal yang biasa, yang penting pengalaman yang kamu dapatkan" nasihat nenek Asih.


"Iya nek, tujuan Cinta memang seperti itu. Sebelum Cinta ikut lomba yang evennya lebih besar." ucap Cinta.


"Nenek doakan semoga yang kamu cita-citakan bisa tercapai" ucap Nenek Asih.


"Aamiin ya Robbal alaamiin." jawab Cinta dan keduanya saling tersenyum.


....~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel CHEF ,CINTA ini.⁴...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2