Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 13


__ADS_3

Mendengar apa yang Rama katakan, hati Zia terasa sakit seperti diiris-iris. Ia tidak menyangka kalau Rama akan berkata seperti itu padanya. Zia tidak percaya, Rama menuduhnya mencelakai Laila. Kejadian ini bukan salah Zia. Ini adalah kecelakaan yang terjadi karena ketidaksengajaan.


"Mas, kamu tuduh aku yang mencelakai Laila?" tanya Zia sambil menahan air mata agar tidak jatuh.


"Bukan aku yang tuduh kamu, Zi. Tapi bukti yang mengatakan kalau semuanya."


"Bukti? Hah, ha ha ha. Kamu langsung bilang bukti tanpa bertanya padaku terlebih dahulu? Kamu terlalu pintar, mas Rama. Aku salut sama kamu," ucap Zia tersenyum namun matanya menjatuhkan buliran bening.


Pembicaraan mereka terhenti ketika Sinta datang. Sinta yang mendapat kabar kalau Laila keguguran, bergegas menuju rumah sakit. Ia sedikit kaget ketika melihat Zia juga ada di ruang rawat inap yang Laila tempati.


"Ram." Sinta melihat Rama dengan tatapan meminta penjelasan.


"Ma, Laila keguguran," kata Rama dengan nada sedih.


"Kamu yang sabar ya, Ram. Mama yakin, Tuhan pasti akan gantikan anak kamu itu dengan anak yang lebih baik. Tenang, sabar," ucap Sinta sambil membelai bahu Rama dengan lembut.


Mendengar perkataan Sinta barusan, Zia sedikit merasa kaget juga tak percaya. Mama mertua yang selama ini ia hormati, ternyata juga tahu soal perselingkuhan suaminya dengan wanita yang sedang terbaring di atas ranjang itu.


"Jadi, mama tahu kalau mas Rama ini punya istri lain selain aku?" tanya Zia dengan nada kecewa dan sedih.


"Kalo aku tahu, kamu mau bilang apa? Apa kamu mau marah-marah sama aku?" tanya Sinta dengan wajah tidak senang.


"Mama ... aku tidak percaya, kalian yang aku sayangi ternyata menusuk aku dari belakang. Mama dan mas Rama sekongkol buat merahasiakan sebuah pengkhianatan yang sangat menyakitkan buat aku."

__ADS_1


"Aku tahu itu menyakitkan. Tapi kamu tidak seharusnya bunuh anak aku, Zia!" kata Rama membentak Ziana.


"Apa! Apa yang kamu katakan barusan, Rama?" tanya Sinta sangat kaget.


Rama terdiam. Dia sebenarnya tidak bermaksud membicarakan soal Zia di depan mamanya. Tapi, ia sangat kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Ia juga sangat marah saat tahu apa yang Ziana lakukan. Ia memang sangat mencintai Zia. Tapi, ia benar-benar di buat kecewa karena perlakuan orang yang ia cintai ini.


"Rama jawab mama! Apa maksud dari perkataan kamu barusan," kata Sinta sambil mengoyang-goyangkan bahu Rama.


"Jangan katakan kalau keguguran yang terjadi pada Laila sekarang karena ulah Zia. Jika itu terjadi, mama tidak akan memaafkan Ziana," kata Sinta sambil menatap tajam ke arah Ziana.


"Ya. Keguguran menantu siri mama itu memang ulah aku. Terus, mama mau bilang apa? Apa mama mau marah-marah padaku?" tanya Zia melawan rasa sakit yang ada dalam hatinya.


"Apa!" Sinta benar-benar marah ketika mendengarkan penuturan Zia. Ia berjalan sambil menatap Zia dengan tatapan tajam karena amarah dalam hatinya sedang meledak. Bak gunung merapi yang sedang memuntahkan lava panasnya.


"Perempuan kurang ajar kamu Ziana! Jangan panggil aku mama karena aku tidak sudi kamu menjadi menantuku!" kata Sinta dengan nada tinggi.


"Kamu!" Kata-kata itu sangat memancing rasa marah dalam. hati Sinta. Ia mengangkat tangannya untuk menampar Zia. Namun, dengan cepat Zia menangkap tangan itu. Lalu melemparkan tangan Sinta sama seperti yang ia lakukan pada Laila.


Sinta yang licik melihat kesempatan dalam kesempitan. Ia melihat sebuah peluang untuk menambah kebencian Rama pada Zia. Ia menjatuhkan diri saat tangannya Zia lemparkan.


"Aduh." Sinta mengeluh kesakitan karena ia terduduk di lantai.


"Mama!" Rama yang melihat kalau Zia telah mendorong mamanya hingga jatuh, segera menghampiri sang mama untuk menolong.

__ADS_1


"Mama gak papa, Ma?" tanya Rama dengan wajah cemas sambil memegang kedua bahu Sinta.


"Sakit, Ram. Kaki mama sangat sakit." Sinta bicara dengan nada kesakitan sambil memegang kakinya.


"Ayo, Ma! Aku bantu mama berdiri," ucap Rama sambil berusaha membantu mamanya.


"Aduh, auh." Sinta benar-benar menjalankan sandiwaranya dengan sangat baik. Ia berpura-pura seperti sedang kesakitan.


"Mas. Aku .... "


"Cukup, Zia! Kamu sudah sangat keterlaluan!" kata Rama memotong perkataan Zia dengan bentakan keras.


"Mas! Dengarkan apa yang ingin aku katakan. Aku tidak mendorong mama kamu," ucap Zia dengan cepat berusaha menjelaskan agar dirinya tidak di salahkan.


"Oh, jika kamu tidak mendorong mama, berarti, mama pura-pura terdorong oleh kamu, lalu jatuh. Begitu?"


"Ya, emang .... "


"Heh, aku tidak buta Ziana. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang kamu lakukan pada mama. Apa tidak cukup buat kamu membalas aku dengan mencelakai anak aku yang ada dalam kandungan Laila? Hah! Sekarang, kamu ingin mencelakai mamaku juga, karena mama telah menyembunyikan pernikahan aku dari kamu."


"Mas."


"Aku kecewa sama kamu, Zia. Benar-benar kecewa. Selama ini, aku sangat merasa bersalah karena aku menikah tanpa persetujuan dari kamu. Tapi ternyata, aku salah telah menyesal. Karena perempuan yang aku cintai ternyata berhati jahat."

__ADS_1


Saat perkataan itu menyentuh telinga Zia. Air mata tidak bisa Zia tahan lagi. Hati yang terluka itu, kini harus merasa dicabik-cabik lagi. Sehingga, rasa sakit itu melebihi kapasitasnya.


Sementara Zia terluka, Sinta tersenyum bahagia penuh kemenangan dalam pelukan Rama. Ia merasa telah berhasil menghancurkan Ziana. Merusak kebahagiaan Zia dengan semua yang sudah ia rencanakan dengan sangat matang.


__ADS_2