Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 56


__ADS_3

"Lo udah punya rencana sebelumnya?" tanya Riska agak ragu dengan pilihan yang ia ambil barusan.


"Ya. Aku sudah punya rencana yang sangat luar biasa untuk menjatuhkan Zia. Tapi, rencana ini tidak bisa aku jalankan sendirian. Aku butuh bantuan dari orang lain. Terutama orang seperti kamu yang sangat dekat dengan orang-orang yang Zia kenal."


"Apa rencananya. Kenapa kamu membutuhkan orang-orang yang dekat dengan orang-orang yang Zia kenal?" tanya Riska semakin bingung dan semakin ragu saja.


"Sini." Laila meminta Riska mendekat. Dengan perasaan agak ragu, Riska melakukan apa yang Laila minta. Ia mendekatkan kupingnya pada Laila. Dengan cepat, Laila membisikkan sesuatu.


"Lo yakin ingin menjalankan rencana yang penuh resiko ini?" tanya Riska semakin bingung saja.


"Ya yakinlah. Kamu bayangin aja keberhasilan dari rencana yang aku katakan padamu ini. Kita akan dapat untung besar jika rencana ini berhasil."


"Tapi, resiko dari rencana ini juga sangat besar. Kita bisa masuk penjara jika kita ketahuan."


"Makanya kita harus menjalankan rencana ini dengan hati-hati. Jangan sampai gagal dan harus berhasil. Jangan tinggalkan jejak yang bisa dilacak oleh siapapun."


"Gue kok merasa gak yakin gini ya," kata Riska semakin ragu saja.


"Ya udah kalo kamu gak yakin. Aku gak memaksa kamu untuk setuju dengan rencana ini. Tapi, kamu akan kehilangan kesempatan emas buat menyakiti Zia."


Riska tertegun saat ia mendengar lata-kata Laila barusan. Perlahan benaknya kembali mengingat semua kejadian yang berhubungan dengan Zia. Semua kejadian itu membuat hatinya terasa sangat sakit. Rasa sakit itulah yang membuat ia harus membalaskan perbuatan Zia bagaimanapun caranya.


"Baiklah, aku ikuti rencana kamu," kata Riska pada akhirnya.


"Bagus kalo gitu. Kita akan mulai menjalankan rencana kita sekarang juga."


______


Riska menunggu Zein pulang. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu apartemen Zein. Beberapa saat lamanya, terlihat dari kejauhan, Zein berjalan menuju apartemen.


"Riska." Zein agak kaget ketika melihat Riska berada di depan apartemennya.

__ADS_1


"Zein, aku ke sini untuk minta maaf sama kamu. Aku terus memikirkan semua kesalahan yang telah aku perbuat, dan kesalahan itu menyiksa aku, Zein. Aku mohon, maafkan aku dan jangan pernah tinggalkan aku. Aku ingin kita tetap menjadi sahabat baik selamanya," kata Riska dengan wajah sedih.


"Ris, kamu tidak salah. Untuk apa minta maaf karena aku juga merasa kalau aku sudah keterlaluan. Kita akan tetap menjadi sahabat selamanya. Kamu tenang aja. Tapi ngomong-ngomong, cara bicara mu ini sedikit berbeda dari biasanya."


"Aku ingin berubah Zein. Ingin lebih baik lagi dari biasanya. Aku gak ingin kamu meninggalkan aku karena aku tidak sanggup kehilangan sahabat seperti kamu."


"Dengarkan aku, Riska. Aku gak akan meninggalkan kamu. Kita akan tetap bersahabat sampai kapanpun," kata Zein sambil memegang kedua bahu Riska.


"Janji." Riska mengangkat jari kelingkingnya.


"Ya aku janji," ucap Zein sambil melakukan hal yang sama.


Memori masa kecil kembali memutar dibenak mereka berdua. Semua hal yang mereka lakukan, menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan untuk selama-lamanya.


Riska menghambur ke dalam pelukan Zein. Ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar menuju hatinya. Lilin kecil yang sempat padam karena tertiup angin, kini kembali menyala menerangi relung hati Riska.


"Kamu sudah berjanji padaku, jangan pernah kamu ingkari apapun yang terjadi," kata Riska sambil terus memeluk Zein erat.


"Ya, aku janji. Kamu tenang saja."


______


Satu minggu kemudian, Riska menghubungi Zein sambil menangis sedih. Ia meminta Zein untuk datang ke cafe tak jauh dari apartemen mereka tinggal.


Zein memenuhi permintaan Riska dengan perasaan cemas dan penuh dengan tanda tanya. Karena Riska tidak mengatakan apa yang terjadi, hal itulah yang membuat ia merasa cemas akan keadaan Riska.


Zein berjalan cepat memasuki cafe tempat di mana Riska sudah menunggunya sejak tadi. Saat melihat Riska yang duduk di kursi paling pojok cafe tersebut, Zein segera menuju ke sana.


"Riska."


"Zein." Riska bangun dari duduknya lalu memeluk Zein.

__ADS_1


"Akhirnya kamu datang juga Zein," ucap Riska sambil membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Zein.


"Ada apa, Riska? Katakan padaku, ada apa sebenarnya! Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Zein semakin cemas.


"Kamu tahu bukan kalo aku tinggal sendirian? Setelah nenek meninggal, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku harus bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhanku sendiri. Tapi sekarang, kerjaan yang aku harapkan, kini sudah tidak ada lagi."


"Maksud kamu apa?" tanya Zein kebingungan.


"Zein, aku dipecat dari kantor tempat aku bekerja. Aku tidak punya kerjaan lagi sekarang. Jika aku tidak punya kerjaan, maka aku juga akan mati kelaparan," kata Riska semakin kuat saja menangis.


"Ya Tuhan, aku pikir soal apa tadi, Ris. Kalo soal itu harusnya kamu tidak perlu membuang-buang air matamu untuk menangis."


"Apa maksud kamu?" tanya Zein bangun dari pelukan Zein.


"Kalo soal kerjaan, kamu tidak usah pusing. Kamu tidak perlu bekerja, aku akan tangung semua kebutuhan kamu mulai dari sekarang."


"Apa! Kamu udah gak waras lagi sekarang ya Zein. Apa kamu lupa siapa aku? Aku ini Riska, teman kamu. Apa kamu lupa seperti apa sifat teman masa kecil mu ini, hah!" Riska terlihat kesal sekarang.


"Hei, jangan marah-marah seperti itu dong, mak. Aku tau siapa kamu, tapi hanya itu ide yang aku punya sekarang. Menjamin semua kebutuhan kamu sampai kamu mendapatkan pekerjaan yang baru. Aku rasa, itu tidak masalah."


"Tidak masalah apanya? Aku tidak suka makan minum dari hasil orang lain. Aku tidak bisa menerima apapun milik orang lain. Aku harap kamu tidak lupa bagaimana sifat aku, Zein."


"Aku tidak lupa Riska. Hanya saja, aku tidak punya cara lain untuk membantu kamu."


"Aku sudah tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu pasti tidak bisa bantu aku. Aku harus cari kerjaan secepatnya, sekarang juga," ucap Riska bergegas ingin meninggalkan Rama.


"Hei, tunggu! Mau ke mana kamu sekarang?"


"Aku ingin cari kerjaan. Kamu tidak bisa bantu aku."


"Aku ingin bantu kamu tapi kamu malah menolak. Sekarang, katakan bagaimana aku harus membantu kamu."

__ADS_1


"Zein, aku ingin pekerjaan. Bisakah kamu memberikan aku pekerjaan yang cocok dengan aku. Maksudku, pekerjaan kantoran yang cocok dengan apa yang aku harapkan."


"Ris, kamu lupa kalau perusahaan aku itu tidak di sini. Tapi di luar negeri. Aku bisa saja memberikan kamu pekerjaan kantoran yang seperti kamu harapkan itu. Tapi bukan di sini, melainkan di luar negeri. Jika kamu ingin keluar negeri untuk bekerja di kantorku, maka aku bisa atur posisi yang sesuai untuk kamu di sana."


__ADS_2