
Satu minggu kemudian, Rama datang ke kantor Zia. Ia berasalan ingin membicarakan soal kerja sama dengan Zia, padahal sebenarnya, dia datang hanya ingin bertemu dengan Zia.
"Ada apa mas? Kenapa kamu datang ke kantorku sekarang?" tanya Zia sambil menutup laptopnya.
"Aku hanya lewat tadi Zi. Karena udah lewat, aku memilih mampir sekalian. Aku yakin, kamu pasti ada di kantor," kata Rama sambil menarik kursi untuk duduk.
"Oh, aku pikir ada hal penting yang membawa kamu datang ke kantorku sekarang."
"Hmm ... gak ada. Tapi, apakah kamu sudah makan siang sekarang, Zia? Jika belum, bagaimana jika kita makan siang bersama. Sekalian aku mampir, kan tidak ada salahnya jika kita makan siang bersama."
"Makan siang bersama apanya mas? Sekarang baru jam sepuluh. Mana ada makan siang jam sepuluh pagi seperti ini. Lagipula, aku tidak bisa makan siang bareng kamu. Karena Zein sudah duluan mengajak aku makan siang. Aku sudah janjian dengan Zein kemarin."
"Zein? Kamu setuju makan siang dengannya?" tanya Rama dengan perasaan kesal.
"Ya. Aku setuju untuk makan siang bareng Zein. Ada apa memangnya mas?" tanya Zia dengan wajah tanpa salah.
"Ya ... ya tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit kecewa aja. Kamu terima tawaran dia untuk makan bersama. Sementara kamu tolak ajakan aku. Padahal, aku adalah mantan suami kamu."
"Kamu mantan suami aku, mas. Tapi dia, calon masa depan aku. Sudah pasti aku lebih memilih calon masa depan dari pada mantan masa lalu," ucap Zia tegas ingin menyakiti hati Rama.
"Mak--maksud kamu? Zein .... "
"Ya, Zein calon masa depan aku. Kenapa mas? Ada yang salah?" tanya Zia mantap.
"Ti--tidak ada Zia. Apa kamu yakin untuk menerima dia di hati kamu sekarang, Zia? Apa kamu benar-benar melupakan semua kisah manis yang kita lewati selama ini?"
"Mas, aku tidak ingin mengenang kisah manis antara aku dan kamu. Karena kisah manis yang kita lalui, itu berbarengan dengan kisah pahit. Yang sangking pahitnya, aku sendiri sudah tidak bisa merasakan bagaimana lagi rasa manis saat bersama kamu waktu itu."
"Zia. Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang telah aku perbuat. Apakah tidak ada kata maaf sedikitpun buat aku?"
"Memaafkan bukan berarti menerima kembali, Mas Rama. Aku memang memaafkan kamu atas apa yang telah kamu lakukan padaku. Tapi maaf, aku tidak bisa mengulang kembali kisah cinta berduri yang kamu miliki untuk aku. Karena cinta berduri itu sungguh sangat menyiksa aku."
__ADS_1
"Aku tahu. Aku salah dan tidak ada tempat lagi di hati kamu. Tapi, asal kamu tahu Zia, aku masih sangat mencintai kamu saat ini. Aku juga akan tetap mencintai kamu sampai kapanpun. Selagi nyawa masih ada dalam tubuh ini, selagi itulah aku akan tetap mencintai kamu. Meskipun cinta itu kamu anggap cinta berduri yang duri-durinya menyakiti hatimu. Tapi, aku menikahi Laila juga karena kamu."
"Apa maksud kamu menikahi Laila karena aku? Jangan coba-coba mencari alasan untuk membela dirimu mas."
"Aku tidak membela diri Zia. Aku berkata benar. Aku menikahi Laila karena kamu. Aku tidak ingin mama menyakiti hati kamu dengan meminta cucu padamu. Makanya, aku bersedia menikah dengan Laila dan memberikan mama cucu dari pernikahan aku itu."
"Kamu takut mama minta cucu padaku kenapa? Apa karena aku tidak layak menjadi mama dari anak-anakmu? Sampai kamu menikahi perempuan lain hanya untuk memberikan mamamu cucu. Benar-benar di luar logika aku alasan kamu ini mas. Apa kamu tidak punya alasan lain yang lebih masuk akal?" tanya Zia kesal.
Mendengar jawaban Zia barusan. Ada yang mengganjal dalam benak Rama. Ia tidak mengerti kenapa Zia malah bicara seperti itu padanya. Zia bicara seolah-olah dia tidak ada kekurangan sama sekali. Zia bicara seolah-olah kalau dirinya mampu memberikan anak untuk Rama.
"Zia .... " Rama membatalkan niatnya ingin mengatakan tentang ia tahu kalau Zia tidak bisa punya anak.
"Ada apa mas Rama? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan padaku."
"Tidak ada. Ya sudah kalau kamu tidak ingin makan siang bersamaku. Aku akan pergi sekarang," kata Rama sambil bangun dari duduknya.
"Iya." Zia menjawab singkat sambil membuka kembali laptopnya yang tadi ia tutup.
Rama melihat Zia lagi dengan hati penuh harap. Tapi pada kenyataannya, ia harus merasakan kekecewaan karena harapannya itu. Jangankan mencegah kepergiannya, melihat saja Zia tidak.
'Maafkan aku mas Rama. Aku tidak bisa membuka hati lagi untuk kamu. Rasa sakit ini terlalu membekas, sehingga aku tidak sanggup lagi untuk memberikan kamu kesempatan kedua. Meskipun dengan alasan yang sangat masuk akal sekalipun. Tetap saja, aku tidak bisa,' kata Zia dalam hati sambil menatap pintu ruangannya yang telah tertutup rapat.
Sementara Zia sedang termenung, Rama yang berada di luar di kejutkan dengan kehadiran Zein.
"Kamu? Mau apa kamu ke sini?" tanya Rama pada Zein.
"Lho, kok pak Rama malah tanya aku mau apa ke sini. Jelas aku ke sini karena aku ingin bertemu Zia. Harusnya itu, aku yang nanya pada pak Rama, ada perlu apa pak Rama datang ke kantor Zia?" Zein bertanya balik.
Seakan tidak punya kata-kata untuk diperdebatkan, Rama memilih meninggalkan Zein tanpa menjawab perkataan Zein satu patah katapun.
Melihat Rama tidak menjawab apa yang ia katakan, Zein merasa aneh. Ia terus menatap Rama dengan tatapan tak percaya. Tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.
__ADS_1
"Sepertinya, dia sudah kalah," kata Zein pada dirinya sendiri.
"Tapi tidak. Aku tidak boleh bahagia dulu karena Zia masih belum bisa aku dapatkan. Hari ini, aku harus mendapatkan Zia seutuhnya. Tidak boleh menunda lagi," ucap Zein lagi sambil menarik napas, kemudian mengetuk pintu ruangan Ziana.
"Masuk!" ucap Zia dari dalam ruangan.
Zein masuk ke dalam. Dengan wajah penuh bahagia, ia berjalan maju sambil terus tersenyum.
"Zein, kamu kenapa?" tanya Zia agak aneh setelah memperhatikan wajah Zein beberapa lama.
"Tidak ada. Kenapa memangnya?" Zein bertanya balik.
"Kamu agak aneh hari ini jika aku lihat-lihat."
"Aneh? Aneh kenapa? Perasaan aku biasa aja deh."
"Ya aneh aja. Hari ini kamu kelihatan bahagia banget Zein. Padahal, beberapa hari yang lalu, aku selalu melihat kamu murung setelah putusan pengadilan untuk Riska."
"Ya, aku sudah bisa menerima apa yang terjadi. Sekarang, sebenarnya ada yang membuat aku bahagia, sekaligus membuat aku merasa sangat takut," kata Zein sambil menarik kursi lalu duduk di hadapan Zia.
"Apa itu?" tanya Zia penasaran.
"Nanti akan aku katakan saat kita sedang makan siang. Sekarang, aku datang untuk menjemputmu. Bisakah kita berangkat sekarang?"
"Sekarang?" tanya Zia sambil melihat jam di tangannya.
"Iya. Sekarang."
"Lho, bukannya hari baru mau jam sebelas ya Zein."
"Gak papa kalo mau pergi sekarang. Jam sebelas udah masuk waktu makan siang. Lebih cepat lebih baik," ucap Zein seperti mengarah pada pembicaraan yang lain.
__ADS_1