Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 58


__ADS_3

"Agggghhhh."


Riska melempar semua barang yang ada di dekatnya. Ia benar-benar kesal saat tahu, kalau Zein tidak menerima dia untuk bekerja di kantor Zia.


Perasaan kesal, kecewa, dan benci, menyelimuti hati Riska saat ini. Ia marah, benar-benar marah dengan sikap Zein yang tidak memihak padanya.


Masih terdengar jelas di telinga Riska saat ini, ucapan Zein yang mengatakan kalau dirinya tidak bisa menerima Riska bekerja di kantor Zia.


"Maaf Ris, aku tidak bisa menerima kamu bekerja di kantor Zia."


"Kenapa! Apa karena Zia tidak menerima aku? Makanya kamu juga menolak aku untuk menjadi wakil perusahaan mu."


"Oh, bukan. Bukan karena Zia. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan yang aku buat ini."


"Lalu apa? Karena siapa lagi kalau bukan karena dia? Aku yakin sekali, kamu tidak menerima aku karena Zia yang tidak setuju. Iya kan Zein?"


"Riska, sudah berapa kali aku katakan, dia tidak ada sangkut pautnya dengan keputusan ini. Aku tidak menerima kamu karena papa tidak menginginkan aku menempatkan kamu sebagai wakil perusahaan kami."


"Ap--apa? Kenapa om bisa setega itu padaku?"


"Aku ... aku tidak tahu. Maaf, aku harus kembali ke apartemen ku."


Riska menggenggam erat tangannya sambil menatap diri di cermin. Ingatan tentang perbuatan Zein padanya barusan, kini menjadi rekaman yang terus saja memutar di benaknya.


"Tega sekali kamu membohongi aku, Zein. Aku pikir, aku masih punya tempat di hati kamu. Walau hanya sebatas sahabat, tapi aku sudah sangat bahagia. Tapi pada kenyataannya, kamu jahat!" Riska berteriak dengan suara keras. Ia benar-benar kecewa.


Setelah Zein meninggalkan apartemennya, Riska merasa tidak puas hati, ia langsung mengikuti Zein untuk menanyakan sesuatu. Saat Zein baru saja ingin melangkah menuju lift, ponselnya berbunyi. Zein dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.


Dari panggilan itulah Riska tahu kalau Zein sudah berbohong padanya. Karena yang sedang menelpon Zein itu adalah papanya, dan Zein juga membicarakan soal penempatan Riska juga bercerita tentang Zia.

__ADS_1


Mengetahui semua kenyataan itu membuat hati Riska sangat hancur. Ia pun kembali ke apartemennya.


"Kamu jahat Zein. Sangat jahat. Kamu dengan mudahnya mengganti aku yang sudah menjadi sahabat masa kecil kamu dengan perempuan baru kamu kenali beberapa waktu yang lalu. Tega sekali kamu padaku," kata Riska sambil tertunduk sedih dengan air mata mengalir deras.


Bunyi deringan di ponsel Riska, membuat Riska tersadar dari kesedihannya. Ia usap air mata yang jatuh di kedua pipinya, lalu mengambil ponsel yang ada di atas kasur.


Di sana tertera nama Laila dengan tulisan huruf besar juga emoji monyet.


"Mau apa lagi dia?" tanya Riska pada dirinya sendiri sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.


Dengan perasaan malas, Riska menggeser layar ponsel untuk mengangkat panggilan dari Laila.


"Halo." Riska berucap dengan suara serak.


"Halo. Kamu di mana sih? Bagaimana? Apa rencana kamu buat masuk ke kantor Zia berhasil?" tanya Laila dengan penuh semangat.


"Tidak. Aku tidak berhasil. Aku gagal."


"Diam lah. Jangan banyak omong lagi. Aku sudah katakan tidak berhasil, itu tanda aku tidak berhasil. Kamu tidak perlu banyak omong lagi. Tapi, kamu tenang saja, meskipun aku tidak berhasil bekerja di kantor Zia. Aku pastikan, kalau rencana yang kita miliki akan berjalan dengan lancar."


"Apa kamu yakin, hah? Jika kamu tidak bekerja di perusahaan itu bagaimana bisa kita menjalankan rencana yang kita punya. Kamu yang benar saja," kata Laila lemah tak bersemangat.


"Kamu lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan, meskipun aku tidak berhasil bekerja di kantornya si Zia itu."


"Terserah kamu sajalah. Aku tidak ingin ambil pusing lagi sekarang. Aku juga tidak ingin terlalu berharap karena aku yakin, kamu pasti tidak berhasil."


"Jangan banyak omong. Lihat saja nanti."


Panggilan pun terputus. Riska kembali menatap dirinya di depan cermin. Bedanya, jika tadi ia menangis, sekarang ia tertawa licik dengan wajah agak menyeramkan.

__ADS_1


"Jika kamu tega padaku, Zein, maka aku akan lebih tega lagi. Akan aku hancurkan kerja sama kalian. Aku juga akan menghancurkan perusahaan Zia lebih dari apa yang Laila rencanakan sebelumnya. Aku tidak akan hanya mencuri file penting perusahaan kalian, tapi juga akan mencuri semua harta yang Zia miliki. Akan aku pastikan Zia jadi gembel dengan kejaran hutang yang melilit," kata Riska sambil tersenyum licik.


Esok harinya, Riska mendatangi perusahaan yang bersaing dengan perusahan Zia. Meskipun perusahaan itu terbilang sangat kecil, tapi Riska yakin kalau perusahaan itu mau ia ajak bekerja sama dalam misi menghancurkan perusahaan Zia.


Ia datang langsung menemui pimpinan dari perusahaan tersebut. Kebetulan, pimpinan dari perusahan itu adalah seorang laki-laki. Dengan begitu, ia akan lebih mudah untuk berbicara dengan pimpinan perusahaan itu.


"Selamat pagi, ada perlu apa anda ingin bertemu dengan saya?" tanya pimpinan perusahaan tersebut.


"Pagi, pak. Saya datang ke sini untuk menawarkan kerja sama dengan bapak."


"Dari perusahaan mana anda berasal? Mana berkas-berkasnya? Saya ingin melihat terlebih dahulu."


"Maaf sebelumnya pak, saya tidak berasal dari perusahaan mana-mana. Saya datang ingin menawarkan kerja sama untuk menghancurkan perusahaan yang sedang bersaing dengan perusahaan bapak."


"Perusahaan yang bersaing dengan perusahaan saya? Zaza grup maksud kamu?" tanya pimpinan tersebut terlihat agak kaget.


"Ya pak. Anda tepat sekali. Bagaimana? Apa bapak tertarik untuk menerima tawaran saya, pak?"


"Anda punya nyali memang luar biasa. Tidak punya perusahaan, tapi mau menghancurkan sebuah perusahaan besar. Sangat-sangat luar biasa. Tapi maaf, saya tidak tertarik untuk bekerja sama dengan anda."


"Apa! Anda tidak tertarik dengan tawaran saya?"


"Ya."


"Kenapa? Apa alasannya? Apa anda takut dengan Zia? Maksud aku dengan perusahaannya."


"Anda tidak punya perusahaan, makanya anda tidak tahu apa alasan saya. Saya tidak takut dengan mbak Zia, karena mbak Zia bukan orang jahat. Kenapa saya harus takut?"


"Meskipun Zia bukan orang jahat, tapi perusahaan kalian itu selalu kalah dengan perusahaan Zia. Apa bapak tidak ingin menyingkirkan perusahaan yang selalu menjadi penghalang kemajuan dan keberhasilan dari perusahaan bapak?"

__ADS_1


"Aku akan bersaing dengan persaingan yang sehat. Satu hal yang kamu harus tahu, persaingan yang tidak sehat akan membawa perusahaan kami pada ambang kehancuran. Lagipula, perusahaan Zia bukan kecil yang mudah dirobohkan. Sementara, kamu yang tidak punya perusahaan, tidak akan paham dengan apa yang aku katakan."


__ADS_2