
Setelah orang tua Zia selesai memberikan doa restu pada Zein dan Zia sebagai pengantin hari ini, kini giliran mama dan papa Zein pula yang akan memberikan doa restu pada Zein dan Zia.
"Zia sayang, mama titipkan Zein padamu ya nak. Tolong jaga dia sama seperti mama menjaganya. Menyiapkan semua keperluan yang ia butuhkan di rumah. Menjadi teman curhat jika ia sedang merasa gundah. Menjadi penyemangat jika ia sedang lelah. Mama percayakan semua itu padamu, Zia. Mama yakin, kamu bisa menggantikan tugas mama untuk berada di samping Zein selama-lamanya," kata mama Zein pada Zia.
"Aku tidak bisa berjanji bisa memenuhi semua yang mama katakan. Tapi, aku akan berusaha melakukan semua itu sepenuh hatiku, sekuat tenagaku, dan sebisa yang aku mampu."
"Mama yakin kalau kamu bisa melakukan tugasmu lebih baik dari yang mama lakukan untuk Zein. Mama percaya dengan kemampuan yang kamu miliki, nak," kata mama Zein sambil memegang pipi Zia dengan lembut, lalu menarik Zia ke dalam pelukannya.
"Tugas mama sekarang telah mama pindahkan ke tangan kamu Zia. Jadilah istri yang terbaik buat anak mama," kata mama Zein lagi sambil terus memeluk Zia dengan tangisan yang tidak bisa ia bendung.
"Zein, kamu anak kebanggan papa. Sekarang, kamu sudah menjadi seorang suami. Tugas kamu adalah menjaga istrimu dengan baik juga selalu membahagiakan istrimu. Bena lah keluarga kamu dengan sebaik mungkin. Doa terbaik selalu papa berikan untuk rumah tangga kalian berdua," kata papa Zein sambil menepuk pelan pundak anaknya.
"Terima kasih banyak, Pa atas semuanya. Zein akan selalu ingat pesan papa," kata Zein sambil menghambur ke pelukan papanya.
Setelah acara selesai, untuk pertama kalinya, Zein memasuki kamar Zia. Kamar pengantin milik mereka berdua.
Tidak ada orang lain di kamar itu selain mereka berdua. Zia terlihat malu-malu saat Zein mengikutinya masuk ke kamar beberapa saat yang lalu.
Meskipun sebelumnya, ia sudah pernah melewati hal ini dengan Rama saat pertama kali mereka menikah. Namun, tetap saja, Zia merasa malu saat bersama dengan Zein.
"Zi--Zia ... ini kamar kamu, maksudku, kamar kita?" tanya Zein dengan perasaan sangat gugup.
"Iya. Ini kamar kita."
"Bagus kamarnya," ucap Zein sekedar menghangatkan suasana yang terasa begitu dingin.
"Iya ... ini aku sendiri yang mengaturnya." Zia berucap jujur.
__ADS_1
"Wuah, pantas saja kamar ini terlihat sangat indah. Ternyata kamu yang mendekor nya."
"Iy .... " Belum sempat Zia menyelesaikan kata-katanya, bunyi panggilan masuk mengalihkan perhatian mereka berdua.
Zia langsung melihat layar ponselnya. Di sana tertera nama Restu yang sedang memanggil melalui WA. Panggilan vidio call itu segera Zia angkat.
"Restu." Zia langsung memanggil Restu setelah ia menjawab panggilan vidio call via WA tersebut.
"Mbak Zia. Mbak cantik sekali hari ini. Sayang, aku tidak bisa melihat mbak Zia secara langsung," kata Restu bicara dengan nada sedih sambil menatap wajah Zia yang ada dilayar ponselnya.
"Maafkan aku ya mbak. Aku tidak ada di samping mbak Zia saat mbak Zia melewati hari bahagia ini," kata Restu lagi.
"Restu, harusnya mbak yang minta maaf sama kamu. Karena tugas yang mbak berikan, kamu jadi tidak bisa hadir di hari bahagianya mbak," ucap Zia dengan perasaan menyesal.
"Ini semua karena Zein," kata Zia lagi.
"Ya karena kamu yang ingin nikah cepat-cepat, jadinya aku gak bisa narik ucapan ku pada Restu. Tugas yang aku berikan padanya, tidak bisa aku tarik kembali karena dia tidak mungkin meninggalkannya," ucap Zia malah berdebat dengan Zein.
"Ya itu bukan salah aku dong."
"Lalu, salah siapa?"
"Itu salah Restu. Kenapa dia begitu taat dengan apa yang kamu perintahkan. Jika aku jadi Restu, aku sudah pulang tanpa harus menyelesaikan semua pekerjaanku yang kamu tugaskan."
"Ya Tuhan ... kenapa aku yang malah di salahkan sih pak Zein?" tanya Restu tak terima. Karena sejak tadi, ia hanya diam sambil tersenyum saja mendengarkan perdebatan hangat Zein dan Zia.
"Ya ... aku tidak mungkin menyalahkan kanjeng ratu, kan Restu. Kamu harus ngerti yah," kata Zein setengah berbisik pada Zein yang berada di kejauhan.
__ADS_1
"Oke-oke, baiklah. Aku mengerti pak Zein. Aku akan coba mengerti walau sebenarnya itu sangat sulit."
"Kalian ya .... " ucap Zia sambil menarik Zein agar tidak menghalangi pandangannya.
"Hmm ... Restu, kapan kamu pulang?" tanya Zia mengubah pembicaraan.
"Mungkin lusa mbak. Ada apa? Mbak Zia kangen aku ya?" kata Restu mencoba memancing kecemburuan Zein.
"Restu, aku yakin kamu lupa kalau suaminya ada di sini. Sepertinya, kamu sangat betah di luar negeri. Aku akan pastikan, kamu selamanya tidak akan pulang ke tanah air jika kamu suka memancing api dengan daun kering," ucap Zein pura-pura kesal.
"Aku hanya bercanda pak Zein. Jangan di ambil hati," kata Restu sambil tersenyum geli.
"Restu! Restu! Apa anda ada di dalam Restu!"
Terdengar dengan sangat jelas suara seorang gadis yang berada di luar kamar hotel Restu. Dengan cepat, Restu menjawab panggilan itu.
"Ya Sintya. Tunggu sebentar," ucap Restu sambil bangun dari duduknya. Ia meninggalkan laptop miliknya di sana. Tanpa pamit terlebih dahulu pada Zia dan Zein.
Melihat Restu yang sepertinya sangat mengutamakan perempuan yang memanggilnya barusan, Zein dan Zia saling tatap. Lalu kemudian mereka sama-sama tersenyum.
Zein dan Zia sehati dalam menebak apa yang Restu rasakan pada gadis yang memanggilnya barusan. Ada tamam bunga yang sedang mekar sekarang. Zein dan Zia sangat yakin akan hal tersebut. Di tambah lagi suara obrolan antara Restu dan gadis itu bisa Zein dan Zia dengar dengan sangat jelas. Hal itu semakin menguatkan dugaan mereka tentang siapa gadis itu bagi Restu.
Setelah beberapa menit mengobrol, Restu baru ingat kalau dia telah meninggalkan Zia tanpa pamit terlebih dahulu.
"Ya Tuhan ... aku melupakan mbak Zia," kata Restu sambil menepuk dahinya pelan.
"Apa ... apa maksud kamu?" tanya suara itu terdengar berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1