
Kenyataan dari apa yang ia lihat ini membuat hati Riska terasa sakit. Ia tidak percaya kalau Zein datang ke kota ini, namun tidak mengabari dirinya terlebih dahulu.
"Zein, itu kamu? Kenapa kamu tidak mengabari aku kalau kamu ada di kota ini, Zein? Apa sekarang, aku tidak penting lagi bagi kamu?" tanya Riska pada dirinya sendiri.
Dengan air mata yang tidak terasa melintasi kedua pipinya, Riska terus menatap Zein dan Zia yang semakin menjauh meninggalkan lantai dua.
"Kamu kok tega banget sih, Zein. Kamu lupakan aku karena dia," kata Riska semakin merasakan sakit di hatinya.
Zein sama sekali tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Riska. Dia juga tidak bermaksud untuk mengabaikan Riska sebenarnya. Hanya saja, dia sedang sibuk dengan tugas yang papanya berikan, sekaligus rasa bahagia yang ia dapatkan saat bersama Zia.
Zein dan Zia sampai di restoran. Baru aja Zia mau duduk, sebuah notifikasi pesan lewat WA masuk ke ponselnya. Zia langsung melihat ponselnya.
Ternyata, itu dari Restu. Ia mengatakan kalau dia tidak bisa datang. Karena ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan. Wajah Zia terlihat agak kecewa saat membaca pesan tersebut. Zein yang melihat perubahan wajah Zia, langsung menanyakan karena penasaran.
"Ada apa Zia? Kenapa kamu kelihatannya sedang kecewa sekarang?"
"Restu tidak bisa ikut makan malam bersama dengan kita. Ia bilang, ada hal yang harus ia kerjakan. Jadi, kita hanya makan malam berdua aja."
"Oh. Ya udah, kamu gak perlu kecewa seperti itu. Kalo malam ini Restu gak bisa ikut, masih ada lain waktu. Lain kali kita akan makan malam bersama-sama lagi," kata Zein mencoba menghibur Zia.
Ziana menganggukkan kepala menyetujui apa yang Zein katakan. Meskipun sebenarnya, ia sangat menginginkan Restu ikut makan malam bersama sekarang, tapi mau bagaimana lagi, orangnya sendiri tidak bisa datang.
Jika Zia merasa kecewa dengan ketidakhadiran Restu, lain halnya dengan Zein. Ia benar-benar bersyukur jika Restu tidak bisa datang. Dengan begitu, ia akan bisa menikmati makan malam berdua dengan Zia saja.
_____
__ADS_1
Zein terbangun dari tidurnya saat mendengarkan ketukan di pintu. Ia bangun dengan malas sambil menyeret kakinya menuju pintu untuk melihat siapa yang telah merusak mimpi indah yang seharusnya masih ia dapatkan meskipun hari sudah sangat pagi, alias pagi menjelang siang.
"Siapa sih? Ganggu aja," kata Zein sambil berjalan menuju pintu.
Saat ia membuka pintu, wajah sahabatnya terlihat dengan jelas berada di hadapannya. Zein mencoba tersenyum pada Riska yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hei, gue pikir siapa tadi? Ternyata lho toh mak-mak," kata Zein sambil tersenyum pada Riska.
"Kapan lo datang Zein? Kok tumben banget datang gak ngabarin gue dulu," ucap Riska dengan terus menatap tajam ke arah Zein.
"Oh maaf-maaf. Gue datang kemarin. Ada urusan bisnis yang mengharuskan gue datang ke sini. Jadi maaf, gue gak sempat ngabarin lo kalo gue datang ke sini."
"Lo datang beneran ada urusan bisnis atau .... "
"Zia. Mau berangkat sekarang?" tanya Zein sambil mengabaikan Riska.
"Ya, Zein. Aku mau berangkat sekarang. Kamu jadi pulang ke luar negeri pagi ini?"
"Jadi deh kayaknya. Kamu kan tahu kalo aku harus segera pulang untuk melapor, jadi aku memang di haruskan untuk kembali dulu. Tapi sebenarnya, aku masih belum mau kembali ke sana. Mengingat .... "
"Mengingat apa, Zein?" tanya Zia sambil berjalan mendekat.
"Mengingat aku baru datang ke sini. Males banget pulang ke sana cepat-cepat."
"Oh gitu. Kamu kan bisa kembali lagi nantinya."
__ADS_1
Oh iya lupa, ada Riska juga di sini. Selamat pagi Ris," kata Zia saat ia benar-benar berada di tengah-tengah Zein dan Riska.
"Pagi." Riska menjawab dengan kata-kata malas.
"Ya udah, aku berangkat duluan Zein, Riska. Maaf gak bisa ngobrol lama-lama karena aku biru-buru."
"Iya gak papa. Hati-hati di jalan," kata Zein sambil melambaikan tangan pada Zia. Sedangkan Riska, ia hanya diam sambil menatap Zein dan Zia dengan tatapan tajam.
Setelah Zia benar-benar menghilang dari pandangan mereka, Zein masih saja tersenyum dengan terus melihat ke arah tempat yang telah Zia lalui. Hal itu menambah rasa sakit hati yang ada di hati Riska. Dengan wajah kesal, ia ingin meninggalkan Zein tanpa mengucapkan kata pamit terlebih dahulu. Namun, dengan cepat Zein menghentikan niat Riska tersebut dengan menahan tangan Riska.
"Eh, lo mau ke mana biru-buru? Jangan bilang kalo lo juga ada urusan pagi ini sehingga harus buru-buru pergi tanpa ngomong apa-apa dulu sama gue," kata Zein sambil memegang tangan
Riska.
"Lo gak butuh gue lagi, kenapa gue harus ngomong apa-apa sama lo, Zein. Lo udah punya orang baru dalam hidup lo sekarang. Lo gak butuh teman lama yang udah tidak berharga kayak gue ini. Jadi, untuk apa gue harus tetap berada di sini sedangkan gue gak di butuhkan sama sekali."
"Lo ngomong apa sih Ris? Lo itu teman gue dari kecil hingga sekarang. Bahkan selamanya, kita akan tetap jadi teman baik. Jadi tolong jangan banyak omong. Udah, ayo masuk. Masakin gue sarapan karena gue akan pulang ke tempat gue pagi ini," kata Zein langsung menarik tangan Riska setelah ia selesai bicara. Ia tidak menunggu Riska berkata setuju dengan apa yang ia lakukan.
"Zein." Riska berusaha menolak namun tidak bisa. Satu hal yang bisa ia lakukan hanyalah, pasrah dan mengikuti apa yang Zein inginkan.
"Jangan banyak omong. Masak sekarang atau gue ngambek sama lo mak-mak."
Gue harus beres-beres sekarang. Karena gue ambil penerbangan pagi," kata Zein sambil beranjak meninggalkan Riska di dapur.
'Lo benar kalo kita akan tetap selamanya menjadi teman, Zein. Untuk itu, aku gak akan biarkan siapapun merebut kamu dari aku. Gak akan pernah. Aku akan pertahankan kamu selamanya. Kau hanya perlu aku di sini. Teman masa kecil yang akan menemani kamu selamanya,' kata Riska dalam hati sambil menatap kepergian Zein meninggalkannya untuk beres-beres.
__ADS_1