Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 26


__ADS_3

Setelah membantu Laila berbaring di atas ranjang. Rama meninggalkan kamar itu. Ia berjalan cepat menghampiri Zia yang masih duduk di sofa ruang keluarga.


"Zia, aku ingin bicara."


"Bicara apa?"


"Apa kamu tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi di antara kita semua? Terutama bersalah pada Laila?"


"Asal kamu tahu, aku ajak Laila ke sini, tin


Zia mencoba tersenyum saat mendengarkan pertanyaan dari Rama. Hatinya merasa geli dengan pertanyaan itu.


"Bersalah? Pada Laila? Kenapa aku harus merasa bersalah pada Laila, mas?"


"Kamu telah membuat Laila kehilangan anaknya. Sekarang, kamu malah menyakiti dia dan kamu mengusir dia pergi dari rumah ini. Zia, asal kamu tahu, semua ini tidak murni kesalahan dari Laila. Tapi ini juga kesalahan aku. Aku yang salah, Ziana."


"Apa, mas? Kamu menyalahkan aku karena kalian kehilangan anak kalian? Sampai kapan kamu terus menyalahkan aku, hah! Sampai kapan juga kamu selalu menuduh aku yang menyakiti Laila. Aku tidak pernah menyakiti dia, tahu gak!" kata Zia sambil tertawa namun matanya menjatuhkan buliran bening.


"Kamu bilang tidak menyakiti dia. Lalu, barusan itu apa?"


"Apa! Apa barusan? Kamu gak tau siapa istri siri mu, mas. Seburuk apa dia, sejahat apa dia di belakang kamu, kamu gak tahu. Yang kamu tahu hanyalah, nuduh aku lagi dan lagi."


"Aku gak akan nuduh kamu jika gak ada bukti, Zia. Semua bukti itu jelas mengarah ke kamu. Bagaimana aku gak nuduh kamu, hah!"


Zia tertawa terbahak-bahak. Lalu, ia mengigit tangannya untuk menahan rasa sakit dalam hati akibat tuduhan dan perlakuan Rama yang sungguh menyakitkan hatinya.

__ADS_1


"Baik. Jika kamu tetap nuduh aku menyakiti perempuan yang kamu sayang itu. Aku akan tunjukkan siapa dia. Bukankah di rumah ini ada cctv. Kamu bisa lihat, siapa yang menyakiti siapa," kata Zia putus asa.


"Baik."


Mendengar apa yang Zia dan Rama bicarakan. Laila yang sedang menguping pembicaraan di depan pintu kamar, merasa sangat panik. Ia takut jika Zia dan Rama melihat cctv, maka kebohongannya akan terbongkar.


Ia tidak ingin Rama tahu kebohongannya itu. Jika Rama tahu, maka dia tidak akan punya muka lagi di depan Rama.


Laila mondar-mandir dengan panik. Ia berusaha memikirkan cara agar bisa menggagalkan Rama dan Zia melihat rekaman cctv.


"Aduh, gimana caranya agar mas Rama dan Zia tidak melihat rekaman cctv itu. Jika mas Rama sampai lihat, aku bisa abis," kata Laila sambil mengigit satu tangannya, sedangkan yang lain, ia letakkan di pinggang.


Laila terus memikirkan cara untuk menggagalkan Rama dan Zia. Hingga pada akhirnya, sebuah ide melintasi benak Laila. Laila tersenyum bahagia ketika ide itu muncul.


"Ya, aku akan lakukan ide ini. Aku yakin kalau mas Rama pasti lebih mementingkan aku dari mbak Zia. Kamu terlalu pintar Laila. Uh, gemesnya," kata Laila bicara pada dirinya sendiri.


Mendengar teriakan itu, Rama ingin segera masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Laila. Namun, dengan cepat Zia menahan tangan Rama.


"Ada apa Ziana? Cepat lepaskan tangan aku! Aku ingin melihat keadaan Laila sekarang juga."


"Tolong dengarkan apa yang aku katakan, Mas Rama. Biarkan Laila sebentar. Aku akan perlihatkan siapa dia yang sesungguhnya."


"Zia, jangan buat kesalahan lagi. Tolong, jangan bikin aku merasa semakin bersalah pada Laila. Jika terjadi sesuatu pada Laila, maka rasa bersalah itu akan semakin besar, Ziana."


"Kamu gak akan merasa bersalah jika kamu ikut aku dan melihat rekaman cctv yang ada di rumah ini. Kamu mungkin akan menyesal karena telah merasa bersalah pada Laila, istri siri mu itu."

__ADS_1


"Tapi .... "


"Mas Rama! To--lo--ng aku, mas. Aduh! Sakit sekali! Kepalaku sakit, mas." Laila semakin kuat berteriak. Teriakan itu memang sangat sama persis dengan teriakan orang yang sedang kesakitan.


"Maaf Ziana, aku gak bisa ikut dengan kamu. Aku gak ingin berbuat kesalahan yang akan membuat aku semakin dihantui rasa bersalah lagi dan lagi," kata Rama sambil melepas tangannya yang Zia pegang.


Rama memilih Laila dari pada mendengarkan apa yang Zia katakan. Ia berjalan cepat menuju kamar utama untuk melihat Laila. Ia meninggalkan Ziana dengan seribu luka juga rasa kecewa.


'Mas Rama. Akhirnya kamu membuktikan kalau kamu lebih memilih Laila dari aku. Dua tahun usia pernikahan kita, kalah dengan usia pernikahan kemarin sore. Aku sungguh tidak percaya apa yang terjadi hari ini,' kata Zia bicara dalam hati.


Zia hanya bisa menatap sedih punggung Rama yang menghilang di balik pintu kamar utama tersebut. Sangking kuatnya rasa sakit itu, sampai-sampai ia tidak merasakannya lagi. Air mata juga rasanya tidak mau jatuh lagi. Sepertinya, stok air mata sudah kering.


'Baiklah. Sepertinya, ini petunjuk yang mengharuskan aku meninggalkan mas Rama. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah berharap lagi sama kamu, Mas. Aku akan gugat cerai kamu. Tunggu saja,' kata Zia dalam hati.


Sementara itu, Laila yang tahu kalau Rama telah memilih dia, melanjutkan sandiwara yang ia mainkan. Laila pura-pura kesakitan hingga berkeringat, tahunya itu air yang ia percikkan sesaat sebelum Rama membuka pintu.


"Laila!" Rama berucap kaget saat melihat Laila yang sedang kesakitan.


"Sakit, Mas. Tolong aku. Ini sakit sekali."


"Kita ke dokter sekarang."


"Tidak mas. Jangan bawa aku ke mana-mana. Atau sakit ini semakin parah lagi."


"Ya udah kalo gitu, aku akan panggilkan dokter datang ke rumah agar dokter bisa periksa keadaan kamu," kata Rama sambil menghubungi dokter pribadi keluarga mereka.

__ADS_1


'Aduh, mati aku. Bagaimana jika dokter itu benar-benar datang dan ngomong kalau aku tidak sakit apa-apa? Aku juga bisa habis kalo gini caranya,' kata Laila dalam hati dengan perasaan panik.


Ia terpaksa membiarkan Rama menghubungi dokter, karena tidak mungkin untuk ia mencegahnya. Rama bisa curiga jika di mencegah Rama yang ingin menghubungi dokter.


__ADS_2