
Laila bangun sambil menggeliat. Ia tersenyum saat melihat sekeliling. Ia bangun dengan wajah ceria.
"Ternyata, semalam itu kenyataan. Aku gak mimpi ternyata," kata Laila sambil tersenyum.
"Tapi, di mana mas Rama?" tanya Laila lagi sambil melihat sekeliling kamar itu.
"Ah, sudahlah. Tidak perlu memikirkan di mana mas Rama. Aku yakin, dia pasti berada di luar. Sekarang, yang lebih penting adalah, aku harus menikmati semua ini. Menikmati kemewahan yang aku dapatkan di rumah ini," ucap Laila sambil tersenyum bahagia.
Ia melihat lemari yang sangat besar. Lalu, ia membuka lemari itu. Betapa kagetnya Laila saat melihat isi dari lemari yang ia buka barusan.
"Wuah, ini lemari Zia ternyata. Banyak banget baju dalam lemari ini. Mana bajunya pada bagus-bagus semua lagi," kata Laila sambil melihat isi lemari tersebut dengan takjub.
Laila mengambil salah satu baju yang paling menarik di matanya. Ia membawa baju itu ke depan cermin. Menempelkan baju itu pada badannya.
"Duh, cantiknya aku. Kayaknya, baju ini memang di buat untuk aku. Hmm .... "
Laila memikirkan sesuatu. Ia membawa baju itu ke kamar mandi. Sambil terus tersenyum-senyum bahagia, ia menutup pintu kamar mandi tersebut.
Ketika Rama masuk ke dalam kamar, Laila masih berada di kamar mandi. Tahu kalau Laila berada di kamar mandi, Rama tidak memanggilnya. Ia malahan sibuk mencari dasi yang ingin ia pakai di dalam lemarinya.
"Cari apa, Mas?" tanya Laila sambil berjalan mendekat dengan membawa handuk di tangannya.
"Cari .... " Rama menggantungkan kata-katanya saat melihat Laila yang sedang memakai baju Zia.
"Kenapa, mas? Ada yang aneh?" tanya Laila seolah tak merasa berbuat salah apapun.
"Kamu, kenapa kamu pakai baju ini?" tanya Rama dengan wajah tidak suka.
"Kenapa, Mas? Apa aku gak pantas pakai baju seperti ini? Apa cuma mbak Zia aja yang pantas pakai pakaian sebagus ini?"
"Bukan, bukan gitu, Laila. Aku gak bilang kalau kamu gak pantas pakai baju itu. Kamu cocok kok pakai pakaian seperti ini. Tapi, inikan baju Zia."
"Kenapa kalo bajunya mbak Zia, Mas? Apa ada yang salah kalo aku pinjam bentar bajunya? Tubuh aku dengan tubuh mbak Zia itu sama aja kok mas. Ya walaupun kami beda usia sedikit."
__ADS_1
"Bukan gitu Laila. Aku gak suka kamu pakai pakaian Ziana."
"Kenapa, Mas! Kamu gak suka aku pinjam bajunya Zia karena kamu masih sayang sama dia! Kamu pikir cuma dia yang cocok buat memakai baju seperti ini?" tanya Laila dengan nada tinggi.
"La, bukan gitu."
"Cukup, mas. Aku tahu siapa aku. Aku ini hanya gadis desa yang tidak cocok untuk memakai pakaian sebagus pakaian yang Zia pakaikan. Aku .... "
"Laila-Laila, aku gak bilang seperti itu. Kamu harus tenang ya. Kamu cocok kok mengenakan baju ini. Bahkan, kamu itu cocok dengan memakai baju apapun," ucap Rama berusaha menenangkan Laila dengan memegang kedua bahu Laila, juga menatap mata Laila dengan perasaan penuh cinta.
"Kamu bohong, Mas," kata Laila mulai tenang.
"Gak, La. Aku gak bohong."
"Lalu, kenapa kamu kelihatannya tidak suka aku pakai baju ini."
"Ini baju Zia. Aku gak suka kamu pakai baju Zia karena aku masih sanggup beli baju lebih bagus dari pada baju Zia ini untuk kamu."
"Iya. Kamu bebas mau beli baju sebagus apapun yang kamu suka. Kamu bebas mau belanja sebanyak apapun, Laila. Tunggu sebentar," kata Rama sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Ini." Rama menyerahkan kartu ATM pada Laila.
"Apa ini, Mas?" tanya Laila sambil mengambil kartu itu.
"Ini ATM. Kamu bisa gunakan kartu ini saat kamu ingin belanja apapun yang kamu inginkan."
"Te--terima kasih banyak, mas Rama. Aku sayang sama kamu mas. Sekali lagi, terima kasih banyak," kata Laila sambil menghambur ke dalam pelukan Rama sangking bahagianya.
"Ya, sama-sama. Kamu bisa berbelanja jika kamu merasa bosan di rumah."
"Iya mas. Tapi .... "
"Tapi apa, Laila?" tanya Rama sambil menatap wajah Laila.
__ADS_1
"Tapi aku gak mau belanja sendirian, Mas. Gak enak jika belanja sendirian. Kamu temani aku, ya," ucap Laila sambil tersenyum penuh harap.
"Aku sibuk, Laila. Jika kamu ingin di temani saat berbelanja, ajak mama aja ya. Mama pasti mau nemani kamu belanja. Lagipula, kalian sama-sama perempuan. Pasti akan bahagia jika berteman sesama perempuan."
"Ya udah deh kalo gitu. Nanti aku tanya mama," kata Laila berubah murung karena kecewa.
"Hei, jangan kecewa seperti itu. Aku akan temani kamu jika aku gak sibuk, oke."
"Iya. Aku gak kecewa kok, mas."
"Ya udah. Sekarang, kita keluar, terus sarapan. Aku udah gak punya banyak waktu lagi, hari sudah semakin tinggi soalnya," ucap Rama sambil melihat jam di tangannya.
"Ya udah kalo gitu, ayo!"
Laila bergelayut manja di lengan Rama sambil berjalan keluar dari kamar. Mereka berjalan beriringan menuju meja makan. Di sana, bik Imah sedang menyiapkan sarapan buat para penghuni rumah.
Saat melihat Laila yang datang dengan memakai baju milik Zia. Bik Imah merasa tidak senang. Ia juga tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak menegur apa yang ia lihat.
"Nyonya muda kok pakai bajunya nyonya Zia," ucap Imah dengan tatapan tajam.
Mendengar apa yang Imah katakan, Laila merasa sangat kesal. Seorang pembantu saja berani menegur apa yang ia lakukan. Tapi, rasa kesal dan marahnya itu ia tahan demi nama baiknya di depan Rama.
"Mas." Laila menatap Rama meminta Rama membelanya. Ia memasang wajah sedih dan takut sambil menarik baju Rama.
"Bik Imah gak usah ikut campur dalam urusan rumah tangga aku. Tugas bik Imah hanya melayani kami, bukan ikut campur dengan kehidupan pribadi kami," kata Rama memarahi bik Imah.
"Tapi tuan Rama, itu baju kesukaan nyonya Zia. Bagaimana jika nyonya Zia marah kalo tahu baju kesayangannya dipakai sama nyonya muda?"
"Bik Imah, cukup! Apa bibi tidak dengar apa yang aku katakan? Jangan ikut campur jika bibi masih mau bekerja di sini," kata Rama membentak Imah.
Bik Imah kaget bukan kepalang. Nyalinya tiba-tiba menciut dan ia pun tertunduk takut sekaligus sedih.
"Ma--maaf tuan Rama. Maafkan saya," ucap bik Imah dengan gelagapan.
__ADS_1