Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 22


__ADS_3

Laila tersenyum puas saat ia mendapat pembelaan dari Rama. Ia menatap Imah dengan tatapan mengejek.


'Kamu pikir kamu bisa melawan aku? Kasihan sekali kamu pembantu. Makanya, jadi pembantu itu jangan sok tahu. Juga jangan terlalu berani ikut campur urusan majikan. Kan kena sendiri akibatnya,' kata Laila dalam hati.


Selesai sarapan, Rama bergegas berangkat ke kantor. Karena hari sudah semakin siang. Ia harus buru-buru sampai karena ada rapat penting yang harus ia hadiri beberapa menit lagi.


"Hati-hati ya, Mas," ucap Laila yang mengantarkan Rama sampai depan pintu.


"Ya. Kamu hati-hati di rumah. Ada apa-apa, cepat hubungi aku. Nanti, aku akan kasi tau mama buat datang ke sini untuk nemani kamu."


"Gak perlu, mas. Aku gak papa sendirian di rumah. Lagipula, aku gak sendirian juga kan? Ada bik Imah yang akan menemani aku di rumah."


"Ya sudah kalo gitu. Aku berangkat dulu."


"Ya mas. Hati-hati," kata Laila sambil melambaikan tangannya.


Baru beberapa saat mobil Rama meninggalkan rumah, mobil Restu datang. Laila yang baru saja ingin masuk ke dalam, membatalkan niatnya. Ia menunggu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya.


Restu turun dari mobil, kemudian, ia membuka pintu mobil untuk Zia. Dengan langkah anggun, Zia turun dari mobil itu. Laila sedikit kaget saat melihat Zia pulang. Sebenarnya, ia berharap kalau Zia itu tidak pulang lagi ke rumah ini. Dengan begitu, ia memenangkan pertempuran tanpa adanya perlawanan.


"Wuah, kamu sepertinya senang banget saat melihat aku kembali. Kamu kangen sama aku, ya?" tanya Zia sambil berjalan mendekati Laila.

__ADS_1


"Mas Rama gak ada di rumah. Ngapain kamu pulang?" tanya Laila kesal.


"Hah! Kamu tanya aku ngapain aku pulang? Gak salah dengar kah kupingku ini?"


"Ups, aku lupa. Pelakor itu selain urat malunya putus, dia juga mati rasa," kata Zia sambil tersenyum mengejek.


"Mau apa kamu sebenarnya, Zia! Kamu ingin menyakiti aku lagi? Gak puas kamu bikin aku kehilangan anak aku, hah!" Laila bicara sambil membentak. Tak lupa, air mata ia jatuhkan sebagai pelengkap sandiwaranya ini.


"Laila. Perebut suami orang. Dengar baik-baik, aku tidak pernah menyakiti kamu. Apa yang terjadi itu murni kecelakaan. Bukan salah aku jika kamu kehilangan anak kamu."


"Zia! Kamu enak sekali ngomong seperti itu. Kamu belum pernah merasakan kehilangan karena kamu memang tidak akan pernah merasakannya. Kamu itu perempuan man*dul yang tidak bisa memberikan mas Rama keturunan. Jadi, kamu iri padaku."


"Apa! Kamu bicara apa barusan?" tanya Zia kaget bukan kepalang.


Ziana terdiam memikirkan apa yang Laila katakan barusan. Bukan karena ia malu, tapi karena ia tidak percaya dan tidak mengerti dengan apa yang ia dengar.


'Mas Rama bilang aku man*dul? Yang benar saja kamu mas. Selama ini, kamu yang bilang kalau kita belum siap untuk memiliki anak. Karena aku dan kamu sama-sama sibuk. Kamu meminta aku menunda niat untuk memiliki momongan. Tapi kenapa kamu bilang sama istri sirimu, aku yang tidak bisa punya anak. Gila. Kamu gila benar-benar gila dan gak punya hati mas Rama. Aku baru tahu siapa dirimu yang sesungguhnya sekarang,' kata Zia dalam hati.


Melihat Zia terdiam, Laila merasa puas. Ia pikir, dirinya telah berhasil menyakiti dan memukul mundur lawan tempurnya. Laila tersenyum untuk keberhasilan itu. Lalu, ia berniat melanjutkan peperangan dengan menyerang lagi lawannya.


"Duh, pasti sedih banget kan ya? Jika aku jadi kamu, aku pasti gak sanggup hidup di dunia ini lagi. Aku pasti udah .... " Laila menggantungkan kalimatnya, ia berjalan mendekati Zia yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Bunuh diri." Laila berbisik di telinga Zia sambil tersenyum.


Setelah berbisik. Ia kembali ke tempatnya lagi. Ia menatap Zia penuh kemenangan. Hatinya bahagia karena sudah merasa berhasil menyakiti hati Zia lagi dan lagi.


Melihat Laila yang senang atas penderitaan yang ia dapatkan. Zia merasa dirinya tidak boleh lemah. Ia tidak bisa melawan Zia dengan emosi. Memang saat ini hatinya terasa sakit, bahkan sangat sakit. Namun, rasa sakit itu tidak boleh ia perlihatkan pada Laila. Jika ia perlihatkan, Laila pasti akan semakin bahagia.


Zia tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah Laila. Ia melakukan hal yang sama seperti yang Laila lakukan. Berbicara di telinga Laila dengan senyum manis.


"Sayangnya, aku bukan kamu pelakor. Aku masih punya kesadaran dalam diri ini. Aku masih bisa memilih mana yang baik dan mana yang nggak baik. Tidak seperti kamu. Udah tahu nggak baik, eh, malah kamu usahakan membaik-baikan juga. Itu namanya, gak punya rasa."


"Kamu!" Wajah bahagia Laila tiba-tiba berubah menjadi kesal.


"Sssttt. Kamu bisa marah juga ya? Aku pikir kamu benar-benar gak punya rasa tadi. Aku pikir, urat marah kamu juga ikut putus. Eh ternyata nggak."


"Wuah, selain kamu gak punya urat malu, ternyata kamu juga gak sadar diri toh, pelakor. Kamu gak punya baju ya? Sampai-sampai, baju aku kamu pakai," ucap Zia sambil mencubit lengan baju yang Laila kenakan.


"Udah suami aku kamu ambil. Baju aku juga kamu pakai. Memang benar-benar gak sadar diri kamu ternyata. Tapi ... aku rasa kamu cocok kok, memakai baju aku. Kan itu barang bekas aku. Kamu cocok kok memakai barang-barang bekas, apalagi barang-barang bekas aku," kata Zia sambil tersenyum manis penuh kemenangan.


"Ziana! Dasar ******* kamu!" kata Laila sambil mengangkat tangannya. Ia bersiap-siap untuk menampar Zia karena ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


Zia dengan cepat menahan tangan Laila. Untuk sesaat, Zia menatap tajam mata Laila yang penuh dengan amarah juga kebencian.

__ADS_1


"Ya Tuhan, jangan main kasar dong. Kamu gak takut apa, tangan kamu sakit jika kamu tampar aku?" Zia berucap sambil menurunkan tangan Laila perlahan.


"Kamu itu baru selesai keguguran, Laila. Apa kamu gak takut keguguran lagi? Kali ini, kamu bukan keguguran anak, melainkan keguguran nyawa."


__ADS_2