Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 42


__ADS_3

"Ti--tidak juga, Pa." Zein berucap dengan gelagapan.


"Lalu? Kenapa ekspresi kamu berbeda setelah tahu nama perusahaan yang ingin kita ajak kerja sama itu adalah perusahaan Zaza grup?"


"Tidak ada, Pa. Aku hanya sedikit kaget aja dengan nama perusahaannya. Zaza grup, itukan nama yang sangat simpel dan gampang," kata Zein berbohong pada papanya.


"Sudah. Jangan bahas soal yang tidak penting seperti itu, Zein. Sekarang, papa ingin kamu berangkat ke tanah air secepatnya. Kalau bisa, besok kamu harus berangkat."


"Apa, Pa? Aku?"


"Iya, kamu. Siapa lagi coba?"


"Tapikan, Pa. Kenapa bukan papa aja yang berangkat ke tanah air? Sesekali kan papa harus merasakan bagaimana udara segar di tanah air, Pa."


"Zein, jangan banyak omong kosong. Selama ini juga kamu yang selalu menjalankan bisnis keluar negeri. Lagipula, kamu itu paling sering bolak-balik ke tanah air. Jadi, kenapa sekarang kamu jadi aneh begini? Kesalahan apa yang telah kamu perbuat sehingga kamu merasa takut untuk pulang ke tanah air, hah?" tanya papanya sambil mencari kebenaran dari kata yang ia ucapkan barusan.


"Ya Tuhan, papa. Aku gak bikin kesalahan apa-apa, kenapa papa malah ngomong gitu sama aku."


"Lalu? Kenapa kamu takut untuk pulang?"


"Aku gak takut, Pa. Aku cuma menawarkan sama papa, gitu aja di curigai."


"Papa gak mau tahu, besok kamu harus berangkat ke tanah air. Dapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan Zaza grup. Jika belum dapat, jangan pulang."


Setelah bicara seperti itu, papa Zein langsung beranjak dari tempatnya. Ia tidak menunggu Zein menjawab perkataannya lagi baru pergi.


"Eh, papa."


"Uh, sebenarnya, ini bukan masalah besar jika aku tidak berbohong pada Zia soal siapa aku sebenarnya. Bagaimana jika Zia marah padaku karena aku membohonginya dengan identitas palsu. Mati aku. Bukan hanya tidak mendapatkan kontrak kerja sama, aku juga mungkin akan kehilangan kepercayaan Zia."


"Aduh ... kok bisa jadi ribet begini. Aku baru saja memulai perjuangan ku untuk mencuri hatinya perempuan cantik itu, eh malah harus berhadapan dengan tugas penting yang papa berikan," kata Zein lagi sambil mengusap kasar wajahnya.


Suara ketukan kembali terdengar di pintu masuk ruangan Zein. Hal itu membuat Zein harus melupakan sebentar masalah berat yang sedang melanda pikirannya.


"Masuk!" Zein bicara dengan suara lantang sambil kembali menduduki kursi kerjanya.

__ADS_1


Seorang perempuan masuk ke dalam dengan sangat hati-hati. Ia membawa sebuah berkas di tangannya.


"Maaf tuan muda, bos besar mengutus saya ke sini untuk menyampaikan perintah baru dari bos besar untuk tuan muda."


"Aduh, apa lagi yang papa punya untuk menyulitkan hari-hariku sekarang," kata Zein bicara sedikit berbisik. Karena ia sedang bicara pada dirinya sendiri.


"Katakan! Apa lagi yang papa inginkan dari aku sekarang?"


"Bos besar membatalkan niatnya menyuruh tuan muda berangkat besok."


"Wuah ide bagus itu. Tumben papa memikirkan keluh kesah yang aku rasakan. Bagus-bagus," kata Zein sedikit bahagia.


"Ia Tuan muda. Bagus, karena bos besar ingin tuan muda berangkat hari ini juga."


"Apa!"


Zein kaget dengan apa yang asisten papanya katakan. Awalnya, ia bahagia karena dalam pikiran Zein, mungkin papanya sedang menunda keberangkatan sampai beberapa hari ke depan. Taunya bukan menunda, tapi malah mempercepat.


"Ada apa tuan muda? Kenapa tuan muda begitu kaget? Padahal kan, barusan tuan muda kelihatan begitu lega dengan apa yang saya katakan," ucap asisten yang papanya dengan wajah tak mengerti.


"Oh, maafkan saya tuan muda. Saya hanya menjalankan perintah dari bos besar saja. Ini semua keperluan yang tuan muda butuhkan. Di sini juga ada tiket penerbangan yang akab berangkat tiga jam dari sekarang," kata asisten tersebut sambil menyerahkan apa yang ia bawa tadi.


"Oh, terima kasih. Letakkan saja di situ," kata Zein sambil menunjuk sisi depan meja.


"Sama-sama. Sekarang, tugas saya sudah selesai, saya mohon pamit undur diri dulu, tuan muda."


"Ya, silahkan." Zein berucap lemas dan pasrah.


'Papa benar-benar tidak sabaran. Tiga jam dari sekarang? Bagaimana bisa aku menyiapkan semuanya. Aduh, dia papa aku atau bukan sih?' Zein bicara dalam hati sambil mengeluh.


Namun, dia tetap mengikuti apa yang papanya inginkan. Karena selama ini, papa Zein adalah orang yang penuh pertimbangan. Jika ia menginginkan sesuatu, sesuatu tersebut sudah ia pertimbangkan masak-masak sebelum ia memutuskan apa yang harus ia lakukan.


_____


"Pak Restu, ada wakil dari perusahaan asing yang ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan kita. Wakil tersebut sedang berada di ruang rapat sekarang," kata sekretaris Restu.

__ADS_1


"Apa! Wakil dari perusahaan asing? Setahu aku, kita tidak punya janji untuk bertemu dengan wakil dari perusahaan asing, bukan? Mbak Zia juga tidak ada bicara apa-apa soal perusahaan asing yang akan bertamu ke perusahaan kita," kata Restu kebingungan dengan apa yang sekretarisnya katakan.


"Maaf pak Restu, saya juga tidak tahu. Saya juga tidak ada dengar kabar sedikitpun dari mbak Zia. Tapi kenyataannya, wakil itu ada di perusahaan kita sekarang."


"Ya ... ya sudah kalo gitu. Kamu kembali ke tempatmu! Urus apa yang perlu diurus. Biar aku yang hubungi mbak Zia untuk membicarakan soal ini."


"Baik pak Restu. Permisi."


"Ya."


Setelah sekretaris itu meninggalkan ruangannya, Restu langsung menghubungi Zia. Yang untungnya, Ziana sedang mengutak-atik ponsel sehingga langsung bisa mengangkat panggilan dari Restu.


"Halo, Res." Terdengar suara Zia dari seberang sana.


"Halo, mbak."


"Ada apa kamu hubungi mbak?"


"Mbak Zia di mana sekarang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


"Aku masih di apartemen sekarang. Kamu mau bicara di mana?"


"Bisakah mbak Zia datang ke kantor sekarang, Mbak? Ada hal mendesak yang harus kita bicarakan."


"Oh, ya sudah kalo gitu. Mbak akan ke kantor sekarang juga."


"Iya mbak. Aku tunggu ke datangan mbak Zia."


Setelah panggilan terputus, Zia langsung beranjak dari duduknya. Ia segera meninggalkan apartemen menuju kantor.


Sementara itu, Laila sedang menuju rumah Sinta. Meskipun ia sudah tahu kalau Sinta bukanlah mama kandung Rama, tapi ia tetap tidak memperdulikan soal itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, bagaimana ia dan Sinta harus tetap berbaikan seperti sebelumnya.


Saat Sinta melihat Laila, Sinta berniat untuk mengusir Laila. Karena ia pikir, kalau dirinya sudah tidak membutuhkan Laila lagi sekarang. Ia juga tidak ingin berhubungan lagi dengan Laila. Karena keperluannya pada Laila sudah habis.


"Mau apa kamu datang ke rumahku? Apa kamu lupa, kalau aku ini bukan mama kandung Rama?" tanya Sinta sebelum mengusir Laila.

__ADS_1


__ADS_2