
Zein memasang wajah cemas karena ia takut Zia akan marah padanya karena kebohongan yang ia perbuat. Tapi, ia sudah menguatkan hati untuk tanggapan terburuk yang akan Zia berikan padanya. Karena Zein sudah memikirkan hal ini matang-matang sebelum ia berbicara pada Zia.
"Apa! Kamu bohong padaku soal siapa kamu? Kamu bukan Zein Mardani melainkan Zein Martin? Kenapa kamu bohong padaku soal identitas kamu, Zein? Apa alasannya?" tanya Zia pura-pura kaget padahal sebenarnya, ia sedang bahagia sekarang. Ia bahagia dengan kejujuran yang Zein ucapkan.
"Aku minta maaf Zia. Saat pertama kali kita bertemu, aku merasa kamu wanita terindah yang pernah aku temui. Untuk dekat dengan mu, aku mengarang cerita kalau aku ini Zein Mardani yang hanyalah seorang sopir. Aku tidak mungkin mengatakan padamu siapa aku sebenarnya. Karena aku takut, jika aku katakan kalau aku ini adalah Zein Martin, kamu tidak ingin bertemu dengan aku lagi."
"Apakah hanya itu alasan yang kamu punya untuk menjelaskan kebohongan yang kamu perbuat padaku, Zein?" tanya Zia seolah-olah ia tidak bisa menerima apa yang Zein katakan.
"Ya Zia, memang hanya itu alasan yang aku punya. Tidak ada alasan lain lagi. Aku minta maaf jika alasannya tidak bisa menutupi rasa kecewa yang telah aku perbuat. Tapi ketahuilah Ziana, aku tidak punya alasan lain selain itu. Aku suka padamu," kata Zein secara tidak langsung menyatakan perasaannya pada Ziana.
"Tidak Zein. Kamu tidak boleh suka aku karena .... "
Zia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia tidak sanggup untuk mengatakan kalau dirinya seorang janda, bukan gadis. Ia yakin kalau sebenarnya, Zein pasti masih belum tahu apa statusnya saat ini. Makanya Zein menyukai dirinya. Lagipula, selama ini dia tidak pernah bicara soal identitasnya pada Zein.
Zia takut kalau Zein tahu dirinya seorang janda, maka Zein tidak ingin bertemu dengannya lagi. Karena sesungguhnya, Zia juga suka sama Zein. Ia selalu merasa nyaman saat bersama dengan Zein. Jika tiba-tiba Zein menghilang karena tidak suka dengan statusnya, Zia masih belum siap untuk merasakan kesendirian lagi.
"Zia, apa salahnya aku suka sama kamu. Kita sama-sama bebas bukan? Kita sama-sama sendiri, tidak ada yang memiliki. Jadi tidak salah kalau kita saling suka sekarang."
"Tidak. Kamu tidak boleh suka padaku Zein."
"Kenapa tidak boleh Zia? Jelaskan padaku apa alasannya!"
"Maaf, aku tidak bisa menjelaskan apa alasannya. Karena aku belum siap untuk kehilangan lagi."
__ADS_1
"Kamu gak akan kehilangan Ziana. Katakan saja apa alasannya!"
"Maaf aku tidak bisa. Aku harus pergi sekarang," kata Zia sambil mengambil tasnya yang berada di atas kursi.
"Zia tunggu! Kita belum selesai bicara, Zi." Zein berusaha mencegah kepergian Zia dengan mengejar Zia yang ingin meninggalkan taman tersebut.
Karena tidak punya cara lain untuk menahan Zia agar tidak meninggalkannya, Zein menarik Zia ke dalam pelukannya.
"Zia jangan pergi," ucap Zein lirih sambil memeluk Ziana erat.
Zia tidak menolak. Ia membiarkan Zein memeluk tubuhnya dengan erat. Pelukan itu mampu menenangkan hati Zia yang terasa sangat gundah sekarang. Statusnya menjadi penghalangan rasa cinta yang kini telah mekar indah dalam hati.
Di sana, sepasang mata sedang menatap sedih ke arah Zia dan Zein. Pemilik dari mata itu tidak bisa menahan buliran bening untuk tetap bertahan di matanya.
"Kasihan sekali kamu ya. Pacar kamu sedang bahagia bersama perempuan lain, kamu jadi penonton kebahagiaan mereka dengan deraian air mata," kata Laila sambil tersenyum melihat penderitaan Riska.
Mendengar kata-kata itu, Riska segera mengusap air mata yang jatuh melintasi pipinya. Ia menarik napas panjang, lalu memutar tubuh untuk melihat Laila.
"Kenapa lo ada di sini? Lo ikutin gue?"
"Nggak. Siapa yang ngikutin kamu sih? Ih, gak ada kerjaan banget aku ngikutin kamu. Ogah banget."
"Cih, dasar perempuan tidak tahu malu. Udah ketahuan ngikutin orang, tapi gak mau mengakui," kata Laila kesal.
__ADS_1
"Hei, aku gak ngikutin kamu. Gak dengar apa yang aku katakan. Aku nggak ngikutin kamu. Kamu kesal sama pacar kamu, jangan lampiaskan kekesalan kamu itu padaku. Lampiaskan langsung pada orang yang telah merebut pacar kamu tuh, si Zia. Jangan ke aku," kata Laila sambil menunjuk ke arah Zia yang masih tetap berada dalam pelukan Zein.
"Dia bukan pacar gue. Tapi dia sahabat gue. Sahabat masa kecil yang selalu ada buat gue, sekarang udah berubah jauh sejak kehadiran Zia. Gue gak bisa lihat Zein melupakan gue hanya karena perempuan yang baru ia kenal. Hati gue sakit sekali rasanya saat melihat Zein mengabaikan gue dan lebih memilih orang yang baru ia kenal dari pada gue," kata Riska sambil menjatuhkan air mata. Ia tidak kuat untuk menahan air mata itu agar tidak jatuh.
"Wuah, benar-benar perempuan perebut milik orang lain ternyata si Zia. Gak suami orang, gak sahabat orang, semuanya ia rebut. Benar-benar gak habis pikir aku sama si Zia ini," kata Laila mencoba menjalankan rencananya menghasut Riska.
"Maksud kamu apa?" tanya Riska penasaran.
"Hm ... aku kenal siapa Zia itu. Perempuan janda, perebut pacar, sahabat, suami orang lain."
"Apa! Zia janda?" tanya Riska benar-benar kaget.
"Iya. Zia itu janda. Kenapa? Kamu gak tahu ya kalo dia itu seorang janda?"
"Tidak. Aku sama sekali gak tahu status Zia ini. Tunggu! Apa ini benar-benar fakta atau lo hanya mengada-ada saja?"
"Ya ampun, apa sih yang ada dalam pikiran kamu itu hah! Ya jelas fakta lah apa yang aku katakan. Emangnya, wajah aku ini wajah tukang bohong apa? Lagipula, untuk apa aku bohong sama kamu, hah! Gak ada untungnya aku bohong sama kamu," kata Laila bicara dengan nada meyakinkan Riska.
Riska terdiam. Ia menatap tajam Laila, lalu melihat ke arah Zia dan Zein.
'Kalau benar apa yang perempuan ini katakan. Aku harus peringatkan Zein siapa dia sebenarnya. Aku yakin, Zein pasti tidak tahu status Zia yang sesungguhnya. Dengan begitu, aku yakin Zein akan menjauh dari Zia jika ia tahu Zia bukanlah seorang gadis melainkan seorang janda,' kata Riska dalam hati sambil terus menatap Zein dan Zia.
'Kena kamu sekarang perempuan sombong. Aku yakin, setelah ini, kamu pasti akan mengajak aku bekerja sama. Jika pun kamu tidak ajak aku kerja sama, tapi kamu pasti akan mau mendengarkan apa yang aku katakan,' kata Laila juga berkata dalam hati sambil melihat Riska dengan senyum manis di bibirnya.
__ADS_1