
Mendengar kata-kata yang polisi itu ucapkan. Tubuh Sintya sepertinya sudah tidak punya kekuatan lagi. Sintya terjatuh di lantai marmer rumah sakit akibat kakinya tidak sanggup menahan berat tubuhnya.
"Tidak mungkin. Ini pasti tidak nyata. Aku pasti hanya bermimpi sekarang. Mbak Laila pasti masih hidup. Ya, aku yakin itu," kata Sintya bicara pada dirinya sendiri dengan air mata yang jatuh perlahan.
Kenyataan tidak sama seperti yang diharapkan.
Takdir sudah tertulis jauh sebelum manusia dilahirkan. Nasib, tidak akan berubah hanya dengan tangisan. Begitu juga semua yang terjadi dengan Laila dan Riska. Meskipun Sintya menangisi semua yang telah terjadi, nasib mereka tetap tidak akan berubah. Laila dan Riska tetap tidak akan hidup kembali.
Sintya yang tidak kuat menahan rasa bersalah, juga terus-terusan dihantui oleh penyesalan atas kematian Laila dan Riska. Kini tidak kuat menahan dirinya lagi. Ia membiarkan hati dan pikirannya dikuasai kesedihan juga rasa bersalah. Pada akhirnya, kesedihan dan rasa bersalah itu sepenuhnya menguasai diri Sintya, hingga dia harus tinggal di rumah sakit jiwa sekarang.
Sintya terus mengatakan rencana jahatnya yang gagal sehingga dia harus kehilangan sang kakak yang sangat ia sayang. Di rumah sakit jiwa, Sintya terus menangis dan mengatakan, dialah penyebab kematian kakaknya.
Di sisi lain, Lola sedang berusaha mencuri hati dan cinta Restu. Dengan menemani Restu di rumah sakit, juga membantu Restu mengurus semua yang Restu butuhkan. Lola berharap, ia berhasil mendapatkan apa yang ia kejar selama ini.
"Ola, makasih banyak atas bantuan juga waktu yang kamu berikan padaku selama kita berteman. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikan kamu padaku, selain dengan kata terima kasih banyak," kata Restu sambil memegang tangan Lola.
"Tidak perlu berterima kasih juga tidak perlu membalas semua yang aku lakukan padamu, Restu. Aku sangat senang bisa membantu kamu. Sebagai sahabat, tidak ada kata balas budi jika sahabatnya membantu. Iya kan?"
'Restu. Aku tidak ingin balasan atas apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin kamu peka akan perasaanku yang sedang aku sembunyikan sejak pertama kita bertemu. Aku ingin sekali, punya hubungan lain selain sahabat,' kata Lola dalam hati sambil termenung memikirkan perasaannya sendiri.
"Lola. Sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu. Tapi .... "
"Tapi apa Restu?" tanya Lola penasaran.
"Jika aku katakan, kamu janji tidak akan marah dan benci padaku. Bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah, aku janji tidak akan marah juga benci padamu. Tapi ... aku tidak bisa janji sepenuhnya. Jika itu perkataan yang menyakiti hatiku, bagaimana aku bisa menahannya?"
"Ya sudah kalo gitu, aku tidak jadi mengatakan apa yang ingin aku katakan. Karena aku takut, kata-kata ini menyakiti hatimu."
"Kalau gitu, aku akan lebih marah lagi jika kamu tidak mau mengatakan apa yang ingin kamu katakan padaku. Kamu ingin buat aku mati penasaran karena memikirkan apa yang ingin kamu katakan? Cepat! Katakan sekarang atau aku benar-benar marah!" kata Lola penuh penekanan.
"Baiklah-baiklah, jangan emosi seperti itu. Nanti wajahmu yang cantik dan manis itu bisa memudar."
"Gombal aja. Ayo cepat katakan! Kamu jangan buat aku penasaran terlalu lama. Kamu harus tahu kelemahan yang aku punya. Aku adalah manusia yang paling tidak sabaran."
"Baiklah nyonya tidak sabaran, aku akan katakan apa yang ingin aku katakan padaku."
"Ola, besok aku akan keluar dari rumah sakit ini. Berkat bantuan yang kamu berikan padaku, aku bisa cepat sembuh dan cepat keluar dari rumah ini. Pertama, aku ingin ucapkan kata terima kasih banyak padamu. Dan kedua ... aku ingin tanya padamu, bisakah kita mengubah status sahabat menjadi .... "
"Menjadi apa?" tanya Lola cepat.
"Menjadi pasangan," ucap Restu dengan perasaan gugup.
"Apa!" Lola kaget bukan kepalang. Perasaan kaget yang bercampur dengan senang membuat ia berkata sedikit berteriak.
"Aku minta maaf aku minta maaf. Aku tidak bermaksud lancang. Tapi .... "
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar alasan lagi."
"Lola .... "
__ADS_1
"Restu aku terima keputusan kamu ..... " kata Lola sambil menghambur ke dalam pelukan Restu.
Lola melupakan kalau Restu masih belum sembuh total. Karena perasaannya sekarang sangat bahagia, ia langsung saja memeluk Restu. Karena pelukan itu, Restu harus meringis karena kesakitan pada tangannya.
"Aagghhh."
"Aduh, maaf-maaf. Aku tidak sengaja Restu. Yang mana sakit? Coba aku lihat," kata Lola sangat panik sambil berusaha melihat tangan Restu.
"Tunggu di sini aku akan panggilkan dokter," kata Lola lagi sambil beranjak.
Namun, niat Lola harus tertahan bersama langkah kakinya yang terhenti karena tangannya Restu pegang. Lola memalingkan wajahnya untuk melihat Restu yang sedang memegang tangannya.
"Ola, jangan panik. Aku gak papa. Aku tidak butuh dokter karena aku sudah punya perawat yang lebih telaten dari dokter. Ola, tetaplah di sini. Kita lanjutkan cerita kita barusan," kata Restu dengan tatapan penuh kasih.
"Benarkah kamu baik-baik saja, Restu. Aku takut jika apa yang aku lakukan malah menyakiti kamu. Aku minta maaf karena telah menyakiti tangan kamu. Aku lupa kalo kamu lagi sakit, karena aku terlalu bahagia dengan apa yang kamu katakan."
"Aku malahan kaget tahu gak. Jantung ini terasa hampir mau copot karena tingkah kamu itu. Bisa-bisanya kamu permainkan aku dengan ekspresi itu," kata Restu sambil memasang pura-pura kesal.
"Aku tidak mempermainkan kamu. Hanya saja, aku juga kaget dengan pernyataan kamu itu. Ternyata, apa yang aku harapkan selama ini, benar-benar jadi kenyataan. Cinta ini ternyata tidak bertepuk sebelah tangan," kata Lola dengan perasaan sangat bahagia sampai ia menitikkan air mata.
Mendengar kata-kata tulus yang Lola ucapkan, Restu tidak bisa menahan diri. Ia langsung menarik Lola ke dalam pelukannya. Sama seperti apa yang Lola rasakan, ia juga merasakan perasaan yang sama. Rasa bahagia karena telah menemukan seseorang yang tulus mencintainya. Mengisi kekosongan hati setelah cinta berduri yang ia lalui.
Di depan pintu kamar, dua pasang mata sedang menatap ke dalam. Mereka juga ikut bahagia atas apa yang Restu dan Lola rasakan. Mereka adalah Zein dan Zia.
Zein dan Zia yang awalnya ingin masuk ke dalam, membatalkan niat mereka saat mendengarkan pembicaraan Lola dan Restu beberapa saat yang lalu. Tepat ketika Restu mengatakan, ia menanyakan ingin mengubah status mereka dari teman menjadi pasangan. Saat itulah, langkah keduanya terhenti. Mereka memilih diam mendengarkan pembicaraan Restu dan Lola karena tidak ingin mengganggu.
__ADS_1