Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 65


__ADS_3

"Kelihatannya, dia benar-benar merasa kecewa sama kamu," kata Zein pada Rama sambil melihat Zia yang berjalan semkin jauh meninggalkan mereka berdua.


"Diam. Kamu tidak perlu ikut campur karena kamu tidak akan mengerti dengan kehidupan masa lalu yang sudah kami lewati," kata Rama kesal.


"Oh maaf, aku tidak bermaksud untuk ikut campur soal kehidupan masa lalu kalian. Tapi, izinkan aku mengatakan sesuatu pak bos. Jangan sia-siakan dia saat dia masih milik kamu, karena jika dia sudah berpaling dari kamu, sekeras apapun usaha yang kamu lakukan untuk membawa ia kembali, tidak akan pernah berhasil," kata Zein sambil tersenyum.


Setelah berkata seperti itu, Zein memilih meninggalkan Rama sambil terus tersenyum. Sedangkan Rama, ia terdiam di tempatnya. Benak Rama berusaha mencerna setiap kata-kata yang Zein ucapkan. Meskipun sebenarnya, Rama tidak ingin melakukan hal itu.


Sementara itu, Zia kembali masuk ke dalam ruangan yang di mana Laila sedang tertunduk meratapi nasib buruk yang menimpanya. Zia berjalan menghampiri Laila dengan senyum manis di bibir.


"Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Laila sangat kesal ketika melihat Zia datang. Sambil menyeka air mata, Laila bangun dari duduknya.


"Aku datang ke sini hanya untuk mengingatkan kamu satu hal, Laila. Karena tadi, aku tidak sempat mengingatkan padamu apa yang ingin aku ingatkan. Ya maklumlah, karena terlalu banyak laki-laki yang membela aku, aku jadi lupa apa yang ingin aku katakan padamu sebelumnya."


"Perempuan ular kamu, Zia. Berani sekali kamu menampakkan wajahmu kembali padaku setelah sandiwara yang kamu lakukan padaku barusan," kata Laila sangat marah.


"Dasar perempuan tidak tahu mau," kata Laila lagi.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar barusan kamu ngomong kalau aku adalah perempuan tidak tahu malu? Kamu ingin mengatai aku atau mengatai dirimu sendiri sih sebenarnya Laila?" tanya Zia sambil menatap Laila.


"Kamu juga bilang aku perempuan ular. Tapi sayangnya, kamu tidak menyadari siapa dirimu. Apa yang aku lakukan hari ini adalah pembalasan untuk apa yang kamu lakukan padaku kemarin-kemarin. Apa kamu lupa? Bagaimana kamu memainkan sandiwara mu dengan sangat baik waktu itu? Sekarang, aku mencoba mengikuti sandiwara mu itu. Rasanya, aku tidak salah bukan?"


"Kurang ajar kamu Zia. Lihat saja, aku akan katakan pada mas Rama apa yang telah kamu katakan padaku. Kamu tidak bisa menyamai aku, Zia. Karena sesungguhnya, akulah ratu akting yang sesungguhnya. Kamu tidak akan sanggup menyamai aku, karena aku punya senjata untuk menekan mas Rama."

__ADS_1


"Senjata?" tanya Zia penasaran. Saat itu, Zia melihat kalau Rama sedang berjalan menuju ruang interogasi ini. Tapi sayangnya, Laila tidak melihat karena ia sibuk dengan apa yang ia pikirkan.


"Ya, aku punya senjata untuk menekan mas Rama. Membuat mas Rama merasa bersalah padaku atas apa yang telah kamu lakukan pada calon bayi kami waktu itu. Ha ha ha ... mas Rama pasti akan mendengarkan apa yang aku katakan saat aku menyinggung soal bayi kami yang telah pergi karena ulah kamu."


Zia terdiam memikirkan apa yang Laila katakan. Ia mengingat apa yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu. Ia ingat betul tentang kejadian waktu itu. Di mana kesalahan yang ia lakukan telah merenggut nyawa kecil yang tidak bersalah.


Melihat Zia terdiam dengan wajah bersalah, Laila tertawa bahagia. Ia menatap Zia dengan tatapan penuh kemenangan.


"Kenapa kamu diam Zia? Apa kamu juga merasa bersalah dengan kejadian beberapa bulan yang lalu? Hmm ... aku sarankan agar kamu tidak merasa bersalah. Karena sebenarnya, itu bukan salah kamu," kata Laila mengatakan sebuah kebenaran sangking bahagianya dia saat ini.


"Apa maksud kamu? Aku tidak bersalah?" tanya Zia semakin penasaran.


"Ya, kamu tidak bersalah. Karena sebenarnya, aku sendirilah yang menabrakkan perutku ke meja agar untuk membuat mas Rama .... "


"Laila!" Rama berteriak dengan keras saat mendengarkan apa yang Laila katakan.


"Mas ... mas Rama. Aku .... "


Plak ....


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Laila. Tamparan keras itu bersarang di sana, menciptakan tanda merah di pipi kuning langsat saking kerasnya tamparan itu.


"Perempuan tidak punya hati. Tega-teganya kamu membunuh anak kamu sendiri hanya untuk menjatuhkan orang lain!" kata Rama dengan tatapan marah dan sedih.

__ADS_1


"Mas, semua tidak seperti yang kamu dengar. Biarkan aku menjelaskan semuanya dengan jelas."


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi Laila. Semuanya sudah jelas sekarang. Saat ini juga, aku talak kan Laila."


"Apa! Jangan mas. Tolong jangan lakukan itu padaku. Apa yang kamu dengar tidak sama dengan apa yang terjadi," kata Laila sambil menjatuhkan dirinya ke lantai. Berlutut meminta belas kasihan dari Rama.


"Kamu tidak pantas menyentuh aku lagi. Karena mulai sekarang, aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu tunggu saja surat cerainya di sini. Aku akan antar kan surat itu ke sini untuk kamu tanda tangani."


"Mas, jangan! Tolong aku. Jangan talak aku dan tolong bebaskan aku dari sini, Mas Rama," kata Laila sambil terus memeluk kaki Rama dengan deraian air mata yang semakin deras.


"Kamu tidak pantas bebas. Kamu pantas mendekam di penjara selama-lamanya. Aku tidak akan menolong kamu. Tapi, aku malahan akan menambah tuntutan kamu sekarang."


"Apa maksud kamu mas? Jangan lakukan itu padaku."


"Aku akan tuntut kamu dengan pencemaran nama baik pada Zia. Aku juga akan tuntut kamu dengan pasal pembunuhan. Pembunuhan yang kamu lakukan pada calon bayi aku."


"Mas, jangan mas! Tolong jangan, mas Rama."


"Zia, ayo kita pergi dari sini. Kamu tidak boleh berada di ruangan ini terlalu lama. Nanti, bisa bahaya buat kamu. Karena dia, pasti bisa melakukan apa saja untuk menjatuhkan orang lain," kata Rama sambil menarik tangan Zia untuk ia ajak pergi.


"Tapi mas Rama ... apa kamu tidak kasihan sama dia? Dia .... "


"Zia, cukup rasa simpatimu padanya. Setelah apa yang telah dia lakukan padamu, kamu masih punya rasa kasihan? Kamu benar-benar punya hati yang sangat lembut," kata Rama dengan nada lemah lembut.

__ADS_1


"Mas Rama, dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia sama saja, sama-sama perempuan ular," kata Laila dengan nada tinggi.


"Diam! Aku tidak ingin mendengarkan apa-apa lagi dari kamu. Jadi, kamu jangan coba-coba bicara padaku sekarang atau kapanpun. Karena aku tidak sudi lagi bicara sama kamu," ucap Rama dengan nada tak kalah tinggi membentak Laila.


__ADS_2