Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 75


__ADS_3

"Ya Tuhan ... aku melupakan mbak Zia," kata Restu sambil menepuk dahinya pelan.


"Apa ... apa maksud kamu?" tanya suara itu terdengar berbeda dari sebelumnya.


"Aduh, maksudku, aku melupakan bos ku. Aku sedang vidio call dengan bos ku saat kamu memanggil aku barusan." Restu terdengar berusaha menjelaskan agar gadis itu tidak salah paham dengan apa yang ia katakan.


"Be-benarkah?" tanya gadis itu sepertinya masih tidak yakin dengan penjelasan Restu.


"Ayo masuk! Aku akan perlihatkan padamu siapa bos ku. Mungkin, mbak Zia masih menunggu aku di sana."


"Bos kamu perempuan?" tanya gadis itu dengan nada sedang cemburu.


"Ya, bos ku perempuan. Namanya Ziana. Ayo masuk! Kamu pasti akan senang jika aku perkenalkan kamu dengannya."


Dengan langkah berat, gadis itu masuk mengikuti Restu. Restu begitu bahagia saat melihat Zia masih sabar menunggu dirinya kembali.


"Mbak Zia. Maaf ya, aku main tinggal gitu aja tadi. Perkenalkan, ini Sisil sahabatku," kata Restu langsung menarik gadis yang ia ajak masuk tadi.


"Ini ... ini bos kamu?" tanya Sisil duluan saat melihat Zia yang masih memakai gaun pernikahan.


"Hai Sisil. Salam kenal, aku mbaknya Restu." Zia memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.


"Ha--hai mbak. Sa--salam kenal. Aku ... aku sahabatnya Re--Restu," kata Sisil begitu gelagapan karena ia sangat gugup sekarang. Karena apa yang ia tebak ternyata salah besar.


"Kamu sahabat, apa pacar sih?" tanya Zein yang tiba-tiba muncul menambah kekagetan Sisil.


"Hmm ... mbak Zia, pak Zein, sepertinya kita harus mengakhiri panggilan ini. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan sekarang. Maaf udah ganggu waktu kalian. Selamat pengantin baru buat kalian berdua. Semoga samawa dan selalu bahagia," kata Restu menyela dengan cepat.


"Iya Res, makasih banyak atas ucapannya. Kamu segera nyusul ya. Bawa tuh calon pulang," kata Zia sebelum mereka akhirnya mengakhiri panggilan via WA tersebut.


Restu masih sempat berpesan pada Zia dan Zein sebelum ia memutuskan panggilan itu. Ia meminta Zia memberikannya keponakan secepat mungkin.

__ADS_1


Permintaan itu membuat suasana kamar pengantin menjadi hening dan dingin kembali. Zia yang masih belum terbiasa dengan kehadiran Zein, ia masih merasa canggung dengan kebersamaan mereka ini.


"Ze--Zein." Zia memanggil Zein dengan gugup.


"Zia. Jangan kamu dengarkan apa yang Restu katakan. Jika kamu masih merasa gugup dan masih belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran aku sebagai suami kamu, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan semua itu. Aku tahu, kamu pasti butuh waktu untuk terbiasa dengan kehidupan baru ini," kata Zein berusaha membuat Zia merasa senyaman mungkin.


"Kamu lupa siapa aku, Zein?" tanya Zia dengan tatapan menggoda.


"Tidak. Aku tidak lupa siapa kamu Ziana. Kamu Ziana Aprilia, istri aku," kata Zein terpancing oleh tatapan yang Zia berikan.


Akhirnya, tatap-tatapan itu memberikan efek yang luar biasa buat keduanya. Meskipun masih sore dan lelah melayani para tamu masih sangat terasa, keduanya tidak memperdulikan semua itu. Mereka menjalankan kewajiban sebagai sepasang suami istri sekarang juga.


______


"Pa, kok anak-anak gak keluar untuk makan malam ya?" tanya mama Zia merasa sedikit cemas.


"Biarkan aja, Ma. Jika mereka lapar, mereka juga pasti akan datang ke sini," kata Willi sibuk dengan aktifitasnya yang sedang memperhatikan makanan yang terhidang di atas meja makan.


"Eh, Ma. Jangan!" Papa Zia mencegah Saras dengan cepat.


"Lho, kenapa, Pa?" tanya Saras bingung.


"Jangan ganggu mereka mama. Apa mama tidak paham juga apa yang papa maksudkan tadi. Biarkan saja mereka di kamar mereka. Jika mereka lapar, maka keduanya akan keluar untuk makan. Mama lupa ya? Zein dan Zia itu pengantin baru. Mereka mana butuh makan makanan yang kita makan saat ini, Ma." Willi berusaha membuat Saras memahami apa yang ia maksud tanpa harus menjelaskan secara terang-terangan apa yang terjadi.


Karena sudah sama-sama pernah melewati masa-sama indah itu, Saras paham apa yang Willi katakan. Ia tersenyum sambil kembali duduk ke kursinya.


"Papa, ayo makan. Nanti, kita berdua bisa istirahat setelah makan. Mama akan pijitin papa biar segar. Mama yakin, papa pasti kecapean seharian ini melayani tamu-tamu kita," ucap Saras dengan nada manja.


"Mama paling tahu apa yang papa rasakan, juga apa yang papa inginkan. Ayo makan sekarang! Biar kita bisa istirahat segera," ucap Willi sambil tersenyum manis.


Zia tersadar saat adzan isya sedang berkumandang. Suara adzan yang nyaring sekaligus perut yang keroncongan memaksa Zia membuka matanya. Ia melihat sekeliling dengan malas.

__ADS_1


Di sampingnya, Zein terbaring dengan mata yang masih tertutup rapat. Zia dengan badan lelah, dengan malas mengambil ponsel untuk melihat jam. Matanya terbelalak saat melihat jam di ponsel tersebut.


"Ya Tuhan, jadi ini bukan adzan maghrib melainkan adzan isya," ucap Zia sambil bangun mendadak.


"Ada apa, sayang?" tanya Zein sontak memanggil Zia dengan panggilan sayang.


"Zein, ini sudah malam. Ayo bangun! Apa kamu gak mau mandi untuk menyegarkan diri?" tanya Zia sambil meletakkan tangannya di pipi Zein.


Karena saat ini, Zein masih tidak membuka matanya. Meski bibirnya berkata-kata, tapi matanya sedikitpun tidak terbuka sejak tadi.


"Apa! Sudah malam?" tanya Zein agak kaget.


Ia juga bangun mendadak saat mendengarkan Zia mengatakan kalau hari sudah malam.


"Iya Zein. Ini sudah sangat malam ternyata. Sudah berada di waktu isya sekarang. Aku pikir, kita masih berada di waktu maghrib tadi saat aku dengar adzan berkumandang."


"Ya Tuhan, apa kata mama dan papamu saat kita tidak keluar kamar untuk makan malam bersama? Aduh .... " Zein terlihat sedang menyesali apa yang terjadi.


"Tidak perlu memikirkan apa yang papa dan mama pikirkan tentang kita. Karena mereka bukan anak gadis yang tidak memahami apa yang terjadi."


"Kamu benar Zia. Bagaimana jika kita tidak perlu keluar kamar lagi malam ini? Bagaimana jika kita lanjutkan saja keindahan yang telah kita lakukan tadi sore. Aku ingin merasakan keindahan itu lagi sekarang," kata Zein sambil tersenyum dengan tatapan nakal ke arah Zia.


"Zein. Jangan macam-macam. Kamu ingin buat aku pingsan kelaparan di kamar ini?" tanya Zia kesal.


"Kamu lapar, sayang?" tanya Zein manja.


"Zein." Zia agak merasa risih dengan panggilan itu.


"Hm ... iya sayang. Ada apa?" tanya Zein tidak menghiraukan apa yang Zia rasakan. Padahal ia tahu betul kalau Zia sedang risih.


"Tidak ada. Biarkan aku pergi ke kamar mandi sekarang. Karena aku sudah sangat gerah sekarang," kata Zia mengalihkan pokok pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2