Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 32


__ADS_3

Seakan mengerti apa yang Zia maksud, Zein dengan cepat menyambut perkataan Zia.


"Oh iya aku lupa. Kenalin, dia sahabat aku, Riska. Riska, ini Ziana."


Zein memperkenalkan mereka berdua. Ziana mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Riska. Riska melakukan hal yang sama.


"Riska."


"Ziana."


"Riska ini sahabat aku. Dia tinggal di lantai dua apartemen ini. Sebetulnya, aku ingin tinggal di lantai dua juga. Tapi sayang, bos aku itu malah beli apartemen di lantai tiga. Jadinya, aku terpaksa tinggal di lantai tiga," kata Zein menjelaskan pada Zia.


"Oh, gitu. Jadi, apartemen ini punya bos kamu ya Zein?"


"Ya iyalah, Zi. Kamu pikir punya aku apa?" tanya Zein dengan senyum manis.


"Sopir kayak aku mana bisa beli apartemen sendiri, Zi."


"Sopir?" tanya Riska tak percaya dengan apa yang Zein ucapkan.


Riska menatap Zein dengan tatapan tajam. Zein membalas tatapan itu. Selama beberapa saat, mereka berdua saling tatap juga saling kode-kodean. Zia merasa ada yang tidak beres, namun ia tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan dua orang yang baru ia kenali ini.


Merasa diperhatikan Zia, Zein segera sadar kalau apa yang ia lakukan bisa membuat Zia curiga padanya. Dengan cepat, ia berusaha mencairkan suasana kembali.


"Ee ... Zi, kayaknya aku harus kembali. Lain kali aku bolehkan, bertamu ke apartemen kamu?" tanya Zein berusaha mencairkan suasana.


"Iya, boleh."


"Oke siap. Kalo gitu, aku dan Riska pamit dulu. Selamat malam."


"Malam." Zia menjawab singkat.


Zein memberi kode pada Riska untuk pamit pada Zia. Riska memahami apa yang sahabatnya kode kan. Dengan cepat, ia berpamitan pada Zia, lalu mereka pun beranjak meninggalkan apartemen Zia.


Zia melihat mereka yang berjalan semakin menjauh. Bukannya masuk ke apartemen samping Zia, mereka malah meninggalkan lantai tiga.

__ADS_1


Ziana tidak ingin ambil pusing dengan Zein dan Riska. Ia menutup kembali pintu apartemennya dan kembali memikirkan masalah yang sedang ia hadapi.


Sementara itu, Zein dan Riska berhenti di cafe bawah. Mereka memilih ngobrol di cafe karena tidak enak jika mereka ngobrol di apartemen. Walaupun berteman, malam-malam bukanlah waktu yang tepat untuk bertamu berduaan di rumah teman, bukan?


Karena mereka teman lawan jenis. Akan ada banyak prasangka yang tidak baik dari orang-orang yang melihat mereka berduaan. Tidak enak menciptakan prasangka buruk pada orang lain.


"Zein, gue bingung deh sama apa yang lo lakuin barusan," kata Riska sambil menarik kursi untuk ia duduki.


"Bingung? Bingung kenapa?"


"Ya bingung sama lo yang rada gak waras lagi sekarang. Pertama, lo cari tahu apartemennya nomor berapa. Terus, lo paksa beli apartemen orang yang berada di samping apartemen perempuan itu dengan harga tinggi, karena orangnya gak mau jual apartemen itu. Tapi lo berani bayar tiga kali lipat dari harga jual apartemen tersebut, sampai lo bisa miliki apartemen itu sekarang."


"Lah, yang kedua, Masa lo ngaku sopir sama perempuan itu? Lo yang benar aja dong Zein."


"Lah, salahnya di mana?"


"Salahnya di elo yang udah gak waras saat ketemu tuh perempuan. Gua bingung banget sama jalan pikiran lo ini, Zein. Bisa-bisanya lo lakuin semua itu untuk ngejar tuh perempuan."


"Ris, lo kayak gak kenal gue aja. Katanya, lo sahabat gue sejak kecil. Tau apa yang gue rasakan. Tapi malah bingung dengan apa yang gue lakukan saat ini."


"Ya gue tahu elo. Tapi, gue gak suka aja kalo lo bersikap terlalu berlebihan seperti ini. Jadinya, gue kayak gimana-gimana gitu."


Riska tidak menjawab perkataan Zein. Hanya matanya yang menatap tajam ke arah Zein yang sedang tersenyum hangat.


'Aku tahu siapa kamu. Karena itu, aku ingin kamu berubah. Aku ingin kamu tetap menjadi sahabat aku selamanya. Hanya menjadi milik aku,' ucap Riska dalam hati.


"Ris. Ye ... malah bengong. Gak takut kesambet lo bengong malam-malam begini?" tanya Zein sambil menyentuh bahu Riska.


"Gak. Setan takut ama gue."


"Ye ... jangan besar omongan lo mak-mak. Nanti datang mak lampir beneran baru lo tau."


"Biarin aja."


______

__ADS_1


Paginya, Zia pergi meninggalkan apartemen pagi-pagi sekali. Karena ia akan ke rumah sebelum berangkat ke kantor. Zia ingin melihat apakah Rama akan pergi dari rumahnya hari ini, atau malam menunda-nunda lagi.


Saat Zia beranjak meninggalkan apartemen, Riska melihatnya. Untuk mencari tahu siapa Zia sebenarnya, Riska mengikuti ke mana Zia pergi.


Mobil Restu sudah ada di depan apartemen. Jadi, saat Zia sampai, Zia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman apartemen. Riska yang melihat hal itu, langsung menyimpulkan sesuatu yang buruk tentang Ziana.


"Mau ke mana dia pagi-pagi begini. Dengan laki-laki lagi. Tidak, aku tidak akan membiarkan Zein mendekati wanita seperti itu. Bagaimanapun caranya, aku akan buat Zein menjauhi dia," kata Riska bicara pada diri sendiri.


"Aku akan katakan pada Zein apa yang aku lihat barisan."


Riska beranjak dari tempatnya. Ia berniat akan mengatakan pada Zein apa yang ia lihat tentang gadis yang Zein suka. Namun, niat itu tiba-tiba berubah saat ia hampir sampai di depan pintu apartemen Zein.


"Tidak-tidak. Aku tidak bisa mengatakan hal ini sekarang. Zein tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Malahan, Zein mungkin akan berpikir sesuatu yang buruk tentang aku," kata Riska sambil menghentikan langka kakinya.


"Ya, aku akan kumpulkan bukti terlebih dahulu. Kemudian, baru katakan pada Zein siapa Zia sebenarnya."


Riska berniat untuk meninggalkan kamar Zein. Tapi sayangnya, Zein yang melihat Riska berada tak jauh dari pintu apartemennya, menghentikan langkah Riska dengan sebuah teriakan.


"Riska!"


Teriakan itu membuat Riska kaget sekaligus menghentikan langkah kakinya. Ia memutar tubuh dengan cepat.


"Zein."


"Lo mau ke mana?" tanya Zein sambil berjalan mendekat.


"Gue ... gue mau ke kamar lo lah. Mau ke mana lagi? Masa ke kamar tetangga lo itu," kata Riska sambil melirik kamar Zia.


"Lo bisa aja ngejek gue kayak gitu. Ya udah, ayo masuk sekarang! Kebetulan, gue baru aja bangun, belum sarapan. Gue ingin sarapan dan lo harus bikinin gue sarapan yang enak pagi ini."


"Gue?"


"Ya, lo. Siapa lagi?"


"Kenapa gak numpang sarapan ke tempat tetangga lo itu?" tanya Riska dengan nada mengejek lagi.

__ADS_1


"Wuah, kayaknya, itu ide yang sangat bagus," ucap Zein sambil tersenyum memikirkan dirinya sedang bersarapan dengan Ziana.


Zein beranjak dari tempat ia berdiri, lalu berjalan menuju pintu apartemen Ziana. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, Riska mencegah Zein dengan cepat.


__ADS_2