
"Rama, kamu baru tahukan, seperti apa istri yang kamu cintai ini? Dia tidak sebaik yang kamu pikirkan Rama. Sekarang, semuanya telah terungkap. Apa kamu masih mau mempertahankan dia sebagai istri kamu?" tanya Sinta memancing kemarahan Rama lagi.
"Maksud mama?" tanya Rama tidak mengerti.
"Apa kamu masih ingin mempertahan istri jahat seperti dia? Jangan bodoh kamu Rama. Mama minta, sekarang juga, ceraikan dia!" kata Sinta sambil menuding Zia.
"Aku terima jika kamu ingin menceraikan aku. Bagiku, tidak ada gunanya lagi mempertahankan pernikahan ini," kata Ziana pasrah.
"Tidak."
Sontak, Sinta dan Ziana sama-sama terkejut dengan jawaban yang Rama berikan. Sinta merasa sangat kecewa dengan jawaban itu. Karena Sinta sangat berharap, Rama akan mendengarkan apa yang ia katakan. Ia ingin Rama menceraikan Zia sekarang juga.
"Apa, Ram? Kamu tidak ingin menceraikan dia walaupun kamu telah kehilangan anak kamu karena dia?" tanya Sinta tak percaya.
"Aku tidak akan menceraikan Ziana, Ma. Aku tidak akan membiarkan Ziana bebas dengan perceraian. Akan aku buat Ziana membayar apa yang ia lakukan dengan menggantung Ziana tanpa tali dalam sebuah pernikahan."
(Istilah menggantung tanpa tali dalam sebuah pernikahan ini seperti, suami tidak menceraikan istri, tapi suami juga tidak menganggap istri itu ada. Istri itu tidak dibebaskan dengan kata cerai. Namun di tahan dengan ikatan pernikahan, tak dianggap ada.)
Mendengar perkataan Rama barusan, Sinta terlihat sangat amat senang. Ia tersenyum puas sambil melihat ke arah Zia. Sedangkan Zia, ia seakan berada di dunia lain sangking kagetnya dengan ucapan itu. Ia merasa, tubuhnya sangat ringan. Kakinya seperti tidak menginjak lantai lagi.
'Ya Tuhan, sebenci itukah kamu padaku, Mas? Kamu bukan Rama yang aku kenal dua setengah tahun yang lalu. Kamu orang lain, yang baru muncul dalam kehidupan aku,' ucap Zia dalam hati sambil mengigit bibirnya karena terlalu sedih.
__ADS_1
Zia meninggalkan kamar rawat itu karena tidak kuat lagi untuk tetap berada di sana. Dengan langkah besar lebih mirip berlari, Zia berjalan menuju mobil Restu.
Restu yang melihat Zia datang sambil menangis, segera keluar dari mobil.
"Ada apa, mbak? Kenapa mbak Zia menangis?" tanya Restu sambil menyentuh bahu Zia.
"Bawa aku pergi, Res. Aku gak kuat lagi berada di sini," kata Zia di sela-sela tangisannya.
"Ya udah, ayo masuk mbak," ucap Restu sambil membuka pintu mobil.
Zia masuk ke dalam mobil dengan cepat. Restu mengikuti apa yang Zia lakukan. Setelah mereka berdua duduk di dalam mobil, Restu menjalankan mobil dengan cepat. Mobil Restu pun beranjak meninggalkan rumah sakit, membelah jalan raya yang ramai.
Mobil terus saja berjalan, sama seperti Zia yang terus saja menangis. Sedangkan Restu, ia tidak tahu ke mana ia akan membawa Zia. Karena sejak tadi, Zia tidak bicara sepatah katapun. Walaupun mereka sudah berkeliling beberapa kali melewati jalan yang sama. Sampai akhirnya, Restu merasa apa yang ia lakukan tidak benar.
"Aku tidak punya tujuan Restu. Aku tidak tahu aku mau ke mana," kata Zia lemah sambil menyandarkan kepalanya di mobil.
"Apa tidak sebaiknya, saya antar kan mbak Zia ke rumah orang tua mbak saja? Mungkin di sana, mbak bisa tenang."
"Jangan Restu. Mbak belum siap melihat wajah khawatir yang akan mama papa mbak perlihatkan. Mbak juga belum siap untuk mengatakan apa yang telah terjadi dengan kehidupan keluarga mbak pada orang tua mbak, Restu."
"Mbak tidak siap untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang orang tua mbak tanyakan nantinya, jika melihat wajah hancur yang mbak bawa pulang ke rumah mereka," kata Ziana lagi.
__ADS_1
Restu memikirkan apa yang Zia katakan. Ia berusaha mencari jalan yang tepat untuk membantu Zia. Tapi sayang, jalan pikiran Restu saat ini sedang buntu, sehingga ia tidak mendapatkan satu ide pun untuk membantu Zia.
"Restu, antar kan saja mbak ke apartemen. Mbak ingin menenangkan pikiran mbak di sana untuk beberapa saat."
"Tapi mbak, apakah mbak yakin ingin tinggal di apartemen sendirian? Sementara, mbak sedang berada dalam masalah saat ini. Aku gak ingin mbak Zia kenapa-napa, mbak."
"Udah, kamu gak usah khawatir mikirin mbak. Mbak gak akan berbuat yang tidak-tidak. Gak perlu cemas sama mbak, Restu. Seberat apapun masalah yang mbak hadapi, mbak gak akan bertindak gegabah."
"Tapi mbak .... "
"Restu. Udah, gak perlu cemas. Lakukan saja apa yang mbak katakan. Antar kan mbak ke apartemen mbak. Lalu, kamu bisa pulang ke rumah kamu."
"Ba--baik mbak. Saya akan antar kan mbak ke sana," ucap Restu dengan berat hati.
Restu memutar arah menuju apartemen Zia. Sampai di sana, Zia keluar dari mobil. Restu mengikuti Zia karena ia merasa cemas, juga takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dari Zia.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zia saat melihat Restu mengikutinya.
"Aku akan antar mbak Zia sampai depan pintu. Aku juga akan jaga mbak di sini selama mbak tinggal di apartemen ini. Biar saat mbak butuh bantuan, aku selalu ada untuk mbak."
"Restu. Kamu tidak perlu melakukan hal itu. Mbak akan baik-baik saja. Jadi jangan khawatirkan mbak. Kamu pulang aja."
__ADS_1
"Tapi mbak, aku gak akan tenang jika aku meninggalkan mbak Zia di apartemen ini sendirian."
"Restu, udah. Mbak bukan anak kecil yang harus kamu cemaskan. Bukan mbak tidak menghargai perhatian yang kamu berikan, tapi, mbak gak mau merepotkan kamu. Mbak harap kamu mengerti dengan maksud mbak," kata Zia sambil menyentuh pundak Restu dengan lembut.