
Zia tersenyum mendengarkan perkataan Zein barusan. Ia menutup laptopnya, lalu beranjak dari kursi.
"Kamu benar, pak Zein. Ayo berangkat sekarang karena lebih cepat lebih baik," kata Zia mengejek Zein dengan kata-katanya.
Zein tersenyum mendapatkan ejekan itu. Dengan perasaan bahagia bercampur cemas, ia berjalan beriringan dengan Zia. Mereka meninggalkan ruangan itu menuju mobil.
Sampai di parkiran, Zein membuka pintu mobil untuk Zia. Dengan membungkuk hormat, Zein mempersilahkan Zia untuk masuk ke dalam mobil. Zia tersenyum dengan kelakar yang Zein buat untuknya. Dengan perasaan bahagia, Zia masuk ke dalam mobil. Kemudian, mereka meninggalkan parkiran.
Di sana, Rama menyaksikan semuanya. Semua yang Zia dan Zein lakukan. Hatinya terasa sakit ketika melihat Zia tersenyum dengan laki-laki lain.
"Ternyata, dia benar-benar bahagia bersama dengan Zein. Apa aku harus mundur saja?" tanya Rama pada dirinya sendiri.
"Tuhan ... aku bingung dengan jalan yang ada di depanku saat ini. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat mengharapkan bisa bersama dengan Zia kembali. Tapi, jika aku ingat apa yang telah aku lakukan padanya, aku merasa, kalau aku tidak pantas untuk bersama dengan Zia lagi. Ditambah, ada laki-laki yang mampu membuat Zia bahagia sekarang. Bagaimana mungkin aku bisa mengulang kembali kisah yang sempat terhenti ini?" Rama terus saja bicara sendiri sambil memikirkan nasib yang telah menimpa dirinya sekarang.
Zein dan Zia sampai di restoran yang telah Zein siapkan. Makan siang bersama di restoran ternama yang telah Zein pilih. Saat turun dari mobil, Zia dibuat bingung dengan keadaan sekeliling. Zia merasa ada yang aneh dengan restoran ini. Restoran terkenal seharusnya ramai dikunjungi oleh pembeli. Tapi, restoran ini berbeda.
Restoran ini sepi sekali. Tidak ada pembeli yang datang ke sini. Yang ada hanya pelayan restoran saja.
Zia tertegun dengan apa yang ia lihat. Benaknya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi? Ada apa dengan restoran yang mereka kunjungi? Mengapa tidak ada pembeli sama sekali. Tidak ada pelanggan yang makan maupun memesan makanan untuk di bawa pulang.
Seakan tahu apa yang Zia pikirkan. Zein tersenyum melihat wajah Zia yang sedang bingung.
"Ada apa, Zia?" tanya Zein sambil menahan senyum.
"Zein, bukankah ini restoran terkenal? Mengapa tidak ada pelanggan satu pun di sini?" tanya Zia tanpa menggalih pandangannya.
__ADS_1
"Iya yah. Aku juga merasa bingung dengan keadaan restoran ini. Bagaimana jika kita langsung masuk saja agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ya udah kalo gitu. Ayuk!"
Mereka berdua berjalan memasuki restoran. Saat menginjakkan kaki di depan pintu masuk, dua pelayan sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Salah satu dari pelayan itu menyerahkan bunga pada Zein. Zein menerima bunga tersebut tanpa ragu. Sedangkan Zia, hanya bisa melihat apa yang terjadi dengan tatapan semakin bingung saja.
"Terima kasih banyak," ucap Zein setelah menerima bunga dari pelayan itu.
"Sama-sama tuan muda Martin."
"Tuan muda Martin, silahkan ikut kami. Kita akan menuju tempat makan siang yang telah kami siapkan sebelumnya. Ayo silahkan," kata pelayan yang lain.
"Baiklah." Zein berucap dengan senyum di bibirnya.
"Ayok Zia!" kata Zein sambil memberikan lengannya untuk Zia meletakkan tangannya.
Dengan perasaan ragu, Zia melakukan apa yang Zein inginkan. Ia meletakkan tangan di lengan Zein layaknya sepasang ke kasih yang sedang berjalan bersama di tengah-tengah pesta.
Zein membawa Zia mengikuti pelayan yang berjalan di depan mereka. Mereka berjalan terus hingga sampai ke tempat yang ingin mereka tuju. Yaitu, samping restoran.
Di sana hanya ada dua kursi dan satu meja. Samping restoran adalah taman. Tempat khusus yang restoran itu punya. Bagian paling romantis dari restoran ini.
"Selamat menikmati makan siang romantis tuan muda Martin. Saya permisi dulu," kata pelayan tersebut saat mereka sudah sampai di taman romantis milik restoran mewah ini.
"Terima kasih banyak, mbak," kata Zein lagi sambil tersenyum.
__ADS_1
Sekarang, Zia baru memahami apa yang terjadi. Zein sengaja memesan tempat ini untuk makan siang mereka. Namun, Zia tak habis pikir dengan apa yang Zein lakukan. Bisa-bisanya Zein melakukan hal ini hanya untuk makan siang bersamanya.
"Silahkan duduk tuan putri," ucap Zein sambil menarik kursi untuk Zia.
"Tunggu Zein. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Mau nanya apa tuan putri? Silahkan tanya jika ada yang mengganjal di hati," kata Zein masih dengan kelakarnya.
"Untuk apa kamu melakukan semua ini?"
"Untuk kamu Zia."
"Untuk aku? Kamu habiskan banyak uang hanya untuk membooking restoran mewah ini untuk kita makan siang bersama, itu yang kamu katakan untuk aku? Bukankah kita sudah sering makan siang bersama Zein? Kenapa hari ini kamu malah melakukan hal besar seperti ini?"
"Hari ini berbeda dengan hari-hari yang telah berlalu Zia. Hari ini aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu. Dan aku ingin mencari jawaban yang pasti atas apa yang aku ungkapkan itu."
"Mengungkapkan sesuatu? Sesuatu tentang apa?" tanya Zia pura-pura bingung.
Zein berjalan mendekati Zia. Ia merogoh saku celananya. Mengeluarkan sesuatu dari saku celana tersebut, lalu berlutut di depan Zia. Dengan mengangkat cincin berlian yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya, Zein berkata pada Zia.
"Zia. Aku mencintai kamu. Aku ingin kamu menikah denganku, menjadi permaisuri satu-satunya dalam hidup ini. Selamanya menjadi pendamping hidup ini dalam mengarungi perjalanan suka dan duka. Apakah kamu bersedia?" tanya Zein dengan perasaan agak cemas karena takut dengan penolakan dari Zia.
"Zein. Kamu yakin mau menikah dengan aku? Apakah kamu tidak malu untuk menjadikan aku istrimu?" tanya Zia balik.
"Malu? Untuk apa aku harus malu, Zia? Tidak ada yang harus aku malu kan," jawab Zein mantap sambil menatap Zia dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1