
Belasan menit telah mereka lalui tanpa berbuat apa-apa. Sintya dan Riska semakin mencemaskan Laila yang tidak kunjung muncul untuk memperlihatkan dirinya. Sampai adzan subuh berkumandang, saat itu, hati mereka berdua semakin gundah.
"Ya Tuhan, bagaimana ini Sintya, kakak mu masih tidak datang juga. Apa aku harus menyusulnya?" tanya Riska kesal.
"Hei, jangan bodoh. Jangan lakukan itu atau rencana kita akan sia-sia. Jika kamu menyusul kakakku, maka polisi itu tidak akan membiarkan kamu datang ke sini lagi. Apa kamu tidak memikirkan soal itu?"
"Tapi, rencana ini tidak akan kamu jalankan jika kakakmu tidak muncul. Iya kan?"
"Tentu saja iya. Mana mungkin aku menjalankan rencana ini tanpa kakakku. Rencana ini aku buat untuk membebaskan aku dan kakakku. Jika tidak ada dia, bagaimana aku bisa menjalankan rencana yang sudah aku pikir matang-matang ini?"
Belum sempat Riska menjawab apa yang Sintya katakan, seseorang yang mereka tunggu akhirnya muncul juga. Kemunculan Laila mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Mbak. Akhirnya, mbak datang juga," kata Sintya dengan wajah lega.
"Akhirnya kamu muncul juga. Apa ada halangan sampai kamu lama sekali baru bisa ke sini?" tanya Riska juga ikut merasa lega.
"Maaf, aku terpaksa mengulur waktu lama agar tidak membuat polisi penjaga itu curiga dengan kita. Aku terpaksa menunggu adzan subuh baru bergerak."
"Gak papa, mbak. Yang penting mbak datang. Sekarang, ayo kita mulai."
"Baiklah. Kita mulai sekarang," kata Laila ingin beranjak.
"Tunggu." Riska menghentikan gerakan kedua adik kakak ini.
"Ada apa lagi?" tanya Sintya kesal.
__ADS_1
"Bagaimana kalo ada orang lain di sini?" tanya Riska agak cemas.
"Ya Tuhan, kenapa itu yang malah kamu tanyakan. Jika ada orang lain di sini, itulah yang lebih baik. Coba kamu pikir, untuk apa aku menunggu sampai subuh baru menjalankan rencana ini kalo bukan untuk menimbulkan korban lain selain kita bertiga."
"Ya sudah, jangan buang-buang waktu lagi. Kita harus bergerak sekarang," kata Laila sambil menarik tangan Riska.
Riska mengikuti langkah kaki Laila menuju kamar mandi. Mereka akan pura-pura terjebak di dalam kamar mandi saat kebakaran itu terjadi. Sedangkan Sintya, ia melakukan tugasnya membocorkan gas agar memicu kebakaran.
Riska dan Laila masuk ke dalam kamar mandi yang sama. Karena kebetulan, semua kamar mandi sedang ada penghuninya. Mereka terpaksa mengunci diri mereka di dalan satu kamar mandi.
Tidak menunggu waktu lama. Sebuah ledakan terdengar dari arah dapur. Kebakaran itu sudah tercipta. Semua penghuni lapas berteriak kepanikan dengan perasaan takut.
Sintya yang sebelumnya berlari ke kamar mandi untuk menyelamatkan diri, kini bersembunyi di dalam bak mandi. Sedangkan Riska dan Laila, mereka ingin melakukan hal yang sama seperti Sintya. Sayangnya, bak mandi tidak muat untuk menampung dua orang.
Keduanya pun bertengkar untuk memperebutkan bak mandi agar bisa menyelamatkan diri. Pertengkaran itu membuat keduanya kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri mereka di dalam bak mandi.
Perlahan, Laila dan Riska kehilangan udara untuk bernapas. Sedikit demi sedikit, penglihatan mereka meredup hingga akhirnya, Laila dan Riska jatuh tersungkur ke lantai kamar mandi dengan memegang dada mereka masing-masing.
Dua puluh lima menit kemudian, api baru bisa di padamkan. Semua tahanan yang berada di dalam sel berhasil selamat tanpa ada cedera sedikitpun. Beberapa tahanan yang berada di kamar mandi mengalami luka bakar yang berat. Tapi, mereka juga berhasil di selamatkan.
Kini, tiba giliran dua kamar mandi yang berada di pojokan untuk di lihat apakah ada orang di dalamnya atau tidak. Saat pintu kamar mandi yang di dalamnya terdapat Sintya di buka. Tim penyelamat menemukan Sintya berada di dalam bak mandi dengan kondisi tidak sadarkan diri.
Mereka mengevakuasi Sintya segera. Memberikan pertolongan pertama untuk menyelamatkan nyawa Sintya. Lalu, mereka membawa Sintya ke rumah sakit untuk diberikan perawatan khusus.
Sementara itu, tim penyelamat yang lain melakukan tugas mereka memeriksa satu kamar mandi yang tersisa. Kamar mandi yang sebelumnya terdapat Laila dan Riska di dalamnya.
__ADS_1
Saat pintu kamar mandi itu terbuka, para petugas dikagetkan dengan penemuan dua korban yang sedang tergeletak bersandar di tembok kamar mandi. Kedua korban itu tak lain adalah Riska dan Laila.
Tim penyelamat memeriksa denyut nadi Laila dan Riska saat melihat kondisi mereka berdua yang sangat memprihatinkan. Mereka kaget saat tahu kalau denyut nadi keduanya sudah tidak ada lagi.
Laila dan Riska ternyata sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Keduanya sudah meninggal. Tapi, untuk memastikan benar atau tidaknya pemeriksaan mereka, tim penyelamat tersebut membawa keduanya ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, dokter langsung memeriksa keduanya. Setelah diperiksa, hasil pemeriksaan dokter dan tim penyelamat sama. Riska dan Laila telah tiada.
_____
Dua hari kemudian, Sintya baru sadar dari komanya. Ia terbangun sambil memegang kepalanya yang masih terasa sangat sakit. Sambil memperhatikan sekeliling, Sintya mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
Perlahan, ingatan Sintya kembali pulih. Ia bisa mengingat dengan baik semua yang telah terjadi sebelumnya. Dengan perasaan cemas, Sintya berusaha bangun dari baringnya. Ia sangat ingin tahu, bagaimana keadaan kakaknya sekarang.
"Tunggu!" Seorang polisi mencegah niat Sintya yang ingin turun dari brangkar.
"Mau ke mana kamu?" tanya polisi itu penuh selidik.
"Di mana kakakku? Aku ingin ketemu kakakku sekarang. Di mana dia? Di ruangan mama ia di rawat?" tanya Sintya benar-benar cemas.
Kecemasan ini memang murni kecemasan yang Sintya rasakan untuk kakaknya. Karena semua yang terjadi atas dirinya kemarin, melenceng jauh dari rencana yang ia buat.
Rencananya, dia tidak akan sempat koma karena kecelakaan itu. Ia hanya akan pura-pura koma untuk mengelabui polisi. Tapi sayang, kejadian yang sesungguhnya tidak bisa ia kendalikan. Sebuah balok jatuh mengenai kepalanya. Ia harus rela tidak sadarkan diri akibat tertimpa balok tersebut.
"Kakak kamu sudah tidak ada. Dia tidak sempat di rawat lagi karena .... "
__ADS_1
"Tidak! Jangan bilang kalau mbak Laila tidak tertolong. Jangan bilang kalo mbak Laila sudah meninggal," kata Sintya terlihat frustasi dengan tebakannya sendiri.
"Maaf, aku harus mengatakan hal ini padamu. Kakak kamu memang sudah tiada. Dia memang tidak tertolong. Karena terlalu banyak asap yang ia dan temannya hirup, mereka berdua tidak bisa di selamatkan lagi," kata polisi itu menjelaskan.