Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 17


__ADS_3

"Ya. Ini aku, Imah. Mulai sekarang, dia adalah menantu aku di rumah ini. Kamu harus dengarkan apa yang dia katakan. Karena mulai sekarang, dia adalah nyonya di rumah ini."


"Lalu, bagaimana dengan nyonya Zia, nyonya besar?" tanya bik Imah takut-takut.


"Ziana bukan lagi nyonya di sini. Kamu tidak perlu mendengarkan apa yang Zia katakan."


"Tapi nyonya besar. Nyonya Zia .... "


"Bik Imah! Yang gajiin kamu di rumah ini itu Rama, bukan Ziana. Jadi, kamu harus dengarkan apa yang aku katakan selaku mama Rama, bos kamu yang sesungguhnya. Jika tidak, kamu bisa angkat kaki dari rumah ini. Masih banyak pembantu yang ingin bekerja di rumah ini jika kamu berhenti," kata Sinta dengan nada tinggi.


"Ma--maaf nyonya besar. Saya akan dengarkan apa yang nyonya besar katakan. Tolong jangan pecat saya, karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membiayai keluarga saya, Nyonya besar, tuan Rama."


"Aku gak akan pecat kamu jika kamu mau mengikuti apa yang mama dan Laila katakan, bik," kata Rama pula.


"Baik tuan rama, baik. Saya akan dengarkan apa yang nyonya besar dan .... "


"Nyonya muda. Panggil dia nyonya muda," kata Sinta memotong perkataan Bik Imah dengan cepat.


"Baik nyonya besar. Saya akan dengarkan apa yang nyonya besar dan nyonya muda katakan."


"Bagus kalo gitu. Sekarang, siapkan kamar buat nyonya muda! Dia masih belum sembuh total. Dia harus banyak istirahat," kata Sinta lagi.


"Baik, nyonya besar," kata bik Imah.

__ADS_1


Bik Imah melakukan apa yang Sinta dan Rama katakan. Ia segera meninggalkan ruang tamu untuk menyiapkan kamar buat Laila. Meskipun bik Imah melakukan apa yang Sinta dan Rama katakan, tapi ia melakukan perintah itu dengan berat hati. Karena ia memikirkan keadaan Zia.


'Di mana nyonya Zia sekarang? Kenapa tuan Rama malah bawa istri sirinya pulang ke rumah ini? Apa tuan Rama tidak punya hati? Kasihan nyonya Zia. Ia terus-terus dikhianati oleh semua orang yang dekat dengannya,' ucap bik Imah dalam hati.


Selesai ia menyiapkan kamar untuk Laila. Bik Imah keluar untuk melaporkan pada Sinta dan Rama, kalau apa yang ia kerjakan sudah selesai.


Ia berjalan menuju ruang keluarga. Di mana Sinta, Rama dan Laila sedang ngobrol ria dengan wajah bahagia.


"Maaf tuan Rama, nyonya besar, nyonya muda, saya ganggu kalian semua yang sedang ngobrol. Saya ke sini cuma mau bilang, kalo kamar tamu sudah saya bereskan untuk nyonya muda."


"Apa! Kamar tamu?" tanya Laila dengan wajah tak suka.


"Mas, aku bukan tamu di sini. Kenapa bibi ini malah menyiapkan kamar tamu buat aku sih? Apakah aku memang tamu di rumah ini, Mas?" tanya Laila dengan wajah sedih.


"Bik Imah gimana sih? Ngapain nyiapin kamar tamu buat Laila? Bibi pikir Laila ini tamu gitu di rumah ini? Cepat siapkan kamar utama buat Laila!" kata Sinta dengan nada kesal.


"Bik, udah. Dengarkan apa yang mama katakan! Mulai hari ini, Laila akan menempati kamar utama," kata Rama.


"Tapi tuan Rama, bagaimana dengan nyonya Zia? Bukankah kamar utama adalah kamar tuan Rama dengan nyonya Zia," kata bik Imah merasa tidak enak hati.


"Imah! Kamu ini benar-benar tidak ingin bekerja di sini lagi ya? Sudah aku katakan sebelumnya, tugas kamu itu cuma ikuti apa yang kami katakan. Bukan membantah," kata Sinta marah-marah.


"Mama benar bik, dengar saja apa yang kami katakan! Bibi itu kerja sama saya, sama mama bukan? Bukan sama Ziana. Lagipula, kamar itu kamar aku juga, kan?"

__ADS_1


"Ya, ya sudah tuan, nyonya besar. Saya akan ikuti apa yang tuan dan Nyonya katakan. Tapi .... "


"Ya Tuhan, tapi apa lagi sih bik?" tanya Rama kesal.


"Barang-barang nyonya Zia harus saya pindahkan ke mana tuan Rama? Bukankah kamar itu di penuhi dengan barang-barangnya nyonya Zia."


"Biarkan saja tetap di tempatnya bik. Tidak perlu dipindah-pindahkan ke mana-mana. Aku gak keberatan sama barang-barangnya mbak Zia," kata Laila.


"Ba--baiklah. Saya permisi tuan, nyonya," kata Imah sambil beranjak meninggalkan ruang keluarga.


'Kasihan sekali nyonya Zia. Bukan hanya suami yang perempuan itu kuasai, hartanya juga,' kata Imah dalam hati.


'Tapi sayang sekali, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong nyonya Zia. Sekarang, aku semakin merasa bersalah pada nyonya Zia. Maafkan bibi nyonya. Suatu hari nanti, jika bibi punya kesempatan, bibi akan bantu nyonya Zia,' kata Imah dalam hatinya sambil menyiapkan kamar utama untuk tempat istirahat Laila.


Selesai menyiapkan kamar itu, bik Imah segera memberitahukan pada Rama dan yang lainnya kalau ia sudah melakukan perintah mereka dengan baik. Mendengarkan apa yang bik Imah katakan, Rama segera membawa Laila ke kamar tersebut.


Sampai di kamar itu, Laila takjub bukan kepalang. Kamar utama yang ternyata sangat cantik dan istimewa. Bagaimana tidak, kamar itu didekorasi dengan sepenuh hati oleh Zia.


"Mas, ini kamar kamu?" tanya Laila terus memperhatikan sekeliling kamar tersebut.


"Ya, La. Ini kamar aku dan .... " Rama menghentikan ucapannya karena tidak ingin membuat Laila sakit hati.


"Dan apa, mas? Kamar kamu dan mbak Zia? Iyakan? Sudah, kamu gak perlu merasa tidak enak atau takut aku sakit hati seperti itu, aku gak papa kok mas. Karena aku tahu, siapa diriku yang sebenarnya."

__ADS_1


"La, aku minta maaf atas apa yang terjadi. Untuk kesalahan aku, terlebih untuk kesalahan yang Zia lakukan padaku dan calon anak kita," ucap Rama dengan wajah bersalah.


"Mas, sudah. Jangan diungkit-ungkit lagi. Kamu gak mau aku merasa sakit hati dan sedih lagi, bukan? Sekarang, aku sudah merasa lebih baik dari hari-hari yang kemarin. Jadi tolong, jangan buat aku sedih kembali."


__ADS_2