
"Pak polisi. Saya tidak bersalah pak. Saya di jebak," kata Riska mencoba membela dirinya.
"Kamu dijebak? Siapa yang menjebaknya?" tanya polisi tersebut pada Riska.
"Saya dijebak oleh .... " Riska menggantungkan kalimat saat melihat Zia dan Zein memasuki kantor polisi.
'Dasar perempuan sialan, kamu enak-enakan jalan bersama Zein sedangkan aku berhadapan dengan polisi,' kata Riska dalam hati sambil menatap tajam Zein dan Zia.
Plak ....
Polisi itu memukul meja ketika melihat Riska malahan bengong sambil melihat ke arah lain. Bukannya menjawab apa yang polisi itu tanyakan, ia malah mengabaikan polisi tersebut.
Riska kaget dengan bunyi pukulan yang terdengar sangat keras barusan. Tubuhnya terangkat karena pukulan itu. Ia yang tadinya melihat ke arah Zein dan Zia, segera mengubah pandangannya menjadi melihat polisi yang ada di depannya saat ini.
"Aku tanya kamu! Kenapa kamu malah melamun, hah!" kata polisi itu membentak Riska.
"Ma--maaf pak polisi. Saya sedang melihat orang yang menjebak saya."
"Orang yang menjebak kamu? Di mana dia?" tanya polisi itu antusias.
"Itu dia pak. Dia sedang berjalan menuju ke sini."
Polisi itu melihat ke arah yang Riska tunjukkan. Tidak ada orang lain selain Zia dan Zein. Merasa dibohongi karena ia tidak menemukan orang lain selain Zia dan Zein, polisi itu kembali memukul meja. Plakk ....
__ADS_1
"Kamu sedang main-main sama saya! Kamu pikir, saya bisa kamu ajak main-main!" kata polisi itu membentak Riska lagi dan lagi.
"Tapi pak, sa--saya tidak sedang main-main dengan bapak. Saya memang di jebak oleh Zia. Dia tidak suka sama saya, makanya dia menjebak saya pak."
"Kamu pikir saya percaya dengan apa yang kamu katakan! Kamu pikir saya bodoh! Kamu berani sekali menganggap rendah jabatan kami," kata polisi itu semakin kesal. Hal itu membuat Riska semakin takut saja untuk bicara.
Sementara itu, Laila juga mendapatkan perlakuan yang sama dari polisi yang menginterogasinya. Cuma, Laila dan Riska sangat jauh berbeda. Jika Riska sibuk membela diri, Laila malahan sebaliknya. Ia hanya bisa diam saja. Mungkin, rasa kaget akibat tertangkap masih menguasai dirinya.
Laila di biarkan sendirian dahulu karena ia diberi waktu untuk menenangkan diri selama beberapa menit. Karena polisi yang bertugas untuk mengintrogasi Laila sudah keluar, Rama meminta izin untuk masuk ke dalam. Ia ingin melihat dan menanyakan semuanya pada Laila.
Polisi mengizinkan Rama melihat Laila. Tapi dengan batas waktu yang ditetapkan oleh polisi itu. Rama tidak keberatan, ia malahan berterima kasih telah mengizinkan ia masuk untuk melihat Laila.
"Laila."
Rama memanggil Laila saat ia melihat Laila yang terdiam mematung di ruangan tersebut. Mendengar panggilan dari Rama, Laila segera menoleh. Dengan air mata, ia berteriak memanggil nama Rama.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku dijebak mas. Zia meminta aku datang untuk memberikan sesuatu padaku. Tahunya, yang datang bukan Zia, melainkan perempuan itu. Dia membawa beberapa dokumen penting. Tanpa aku tahu apa-apa, perempuan itu langsung menyerahkan dokumen penting itu padaku, mas. Aku tidak tahu kalau semua ini hanyalah jebakan, aku menerima dokumen itu dengan perasaan bingung. Lalu ... lalu polisi datang dan menangkap aku, mas."
"Tidak mungkin. Ini jelas-jelas tidak mungkin. Aku yakin kalau Zia tidak mungkin melakukan hal ini. Untuk apa juga dia jebak kamu, Laila. Tidak ada untungnya," kata Rama menolak mentah-mentah apa yang Laila katakan tentang Zia.
"Kamu tidak percaya apa yang aku katakan?" tanya Laila dengan sangat kesal. Tapi pada akhirnya, ia harus membuang perasaan kesal itu karena ia butuh dukungan dari Rama.
__ADS_1
"Kamu boleh tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tapi kenyataannya, aku memang tidak bersalah. Kamu harus menolong aku, Mas Rama. Bebaskan aku dari sini, bagaimanapun caranya. Aku tidak ingin tinggal di sini lebih lama. Tolong aku, Mas Rama," kata Laila dengan air mata yang mengalir sangat deras.
Rama masih memikirkan apa yang Laila katakan. Ia tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi. Entah siapa yang harus ia percayai sekarang. Tapi yang jelas, semua ini membuat hatinya berada dalam dilema yang berat.
Melihat Rama yang tidak menjawab apa yang ia katakan, Laila berpikir keras bagaimana untuk meyakinkan Rama. Ia harus membuat Rama mau menolongnya untuk segera bebas dari tahanan yang sedang menunggu dirinya sekarang.
"Mas Rama, aku tahu kamu pasti masih meragukan apa yang aku katakan barusan. Aku tahu itu, karena aku hanya istri siri yang telah memisahkan kamu dari istri sah yang kamu sayangi. Andai saja anakku masih ada, aku pasti bisa bertahan demi anakku. Tapi .... "
"Cukup Laila. Kamu tidak perlu mengungkit soal anak lagi. Aku akan menolong kamu nanti. Kamu tidak perlu mengorek luka lama agar berdarah kembali."
Selesai bicara seperti itu, Rama segera beranjak meninggalkan Laila. Meskipun terasa agak kesal dengan apa yang Rama lakukan barusan, tapi, Laila masih bisa merasakan senang. Karena Rama berjanji akan membantunya untuk bebas.
"Biarkan aku mengorek luka lama agar berdarah lagi mas Rama. Jika tidak seperti itu, maka tidak akan mau membantu aku untuk bebas. Karena aku sangat yakin, kalau kamu pasti masih merasa tidak yakin dengan penjelasan yang aku katakan padamu," kata Laila bicara pada dirinya sendiri.
Setelah Rama keluar, Zia masuk ke dalam. Ia melihat Laila yang sedang tersenyum sendiri sambil menatap lurus ke depan.
'Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia sudah gila saat polisi menangkapnya? Bisa-bisanya dia tersenyum di saat situasi seperti ini,' kata Zia dalam hati sambil terus berjalan mendekat.
"Wuah. Sepertinya, nyonya siri mas Rama sedang bahagia," kata Zia mengangetkan Laila.
Dengan cepat, Laila mengubah air wajahnya.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Untuk menertawakan aku? Aku sarankan padamu supaya jangan terlalu bahagia dulu dengan apa yang aku alami saat ini. Karena ini tidak akan lama. Semua ini hanya terjadi untuk sekejap saja."
__ADS_1
"Ah, siapa bilang kalo aku terlalu bahagia, Laila? Kamu jangan salah sangka dulu. Aku gak bahagia kok dengan apa yang terjadi atas dirimu. Malahan, aku turut bersimpati dengan kejadian ini. Aku harap, kamu bisa lama-lama di sini. Ups, maksud aku bisa segera di tahan. Aduh, salah lagi. Ah, biarkan saja apa yang telah terjadi. Tidak perlu terlalu di ambil pusing," kata Zia sambil tersenyum manis.
"Kamu lihat saja, Zia. Mas Rama akan membebaskan aku secepatnya," kata Laila sangat kesal. g