
"Anak kamu pantas mendapatkan perlakuan itu dari Ziana. Masih mending Zia berbaik hati, cuma mengusir Rama dari rumah ini. Jika aku yang berada diposisi Zia, aku tidak hanya akan mengusir suami bejat seperti itu, melainkan, juga aku jebloskan ke dalam penjara biar tahu rasa."
"Apa! Dasar wanita ******* kamu Saras. Kamu dan anak kamu sama saja. Sama-sama bikin aku sakit hati. Merusak kebahagiaan yang aku miliki. Kalian keluarga Hutabat, benar-benar tercela," kata Sinta tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Apa maksud kamu maki-maki aku sampai bawa-bawa nama keluarga kami, hah! Harusnya aku yang marah karena pengkhianatan anak kamu pada putriku. Tapi ini, kamu yang malah marah-marah padaku. Benar-benar tidak habis pikir aku sama besan seperti kamu."
"Ya, karena keluarga Hutabat adalah penyebab luka dalam hatiku. Perebut kebahagiaan yang aku miliki. Pencipta sakit hati yang menyebabkan dendam yang bersarang dalam hati ini," kata Sinta sambil menangis dan menatap Saras dengan tatapan tajam.
"Dendam? Kesalahan apa yang kami perbuat samapi kamu menyimpan dendam pada keluarga kami, Sinta?"
"Ha ha ha ... lucu sekali wajah penasaran kamu itu Saras. Aku merasa menikmati apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi, aku mau tanya satu hal sama kamu, kamu benar-benar lupa, atau pura-pura lupa dengan apa yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu, hah!"
"Puluhan tahun yang lalu?" tanya Saras semakin dibuat bingung dengan apa yang Sinta katakan.
"Ya, puluhan tahun yang lalu. Tepatnya, tiga puluh empat tahun yang lalu. Saat aku dan kamu sama-sama duduk di bangku sekolah menengah."
Saat mendengar apa yang Sinta ucapkan, Saras berusaha berpikir keras untuk mengingat saat ia berada di bangku sekolah menengah. Ia telusuri setiap ingatan yang pernah ia lalui saat sekolah menengah dulu.
Tiga puluh empat tahun yang lalu, saat itu, usia mereka baru menginjak tujuh belas tahun. Di mana saat itu, cinta adalah sebuah perasaan yang sangat penting dalam hidup setiap anak remaja.
__ADS_1
Sekolah mereka punya satu pangeran yang sangat tampan. Pangeran sekolah tersebut bernama William, yang akrab di panggil dengan panggilan, Willi.
Tak ayal lagi, jika yang dijuluki pangeran, pasti tidak akan pernah lepas dari kejaran para putri-putri yang selalu berharap untuk menjadi pendamping pangeran, bukan? Sama halnya dengan Willi, ia juga banyak dikejar-kejar kembang sekolah yang semuanya berharap bisa dekat, terutama menjadi pacarnya Willi.
Namun, pilihan Willi jatuh pada seorang gadis yang bernama Sintawati. Gadis sederhana yang tidak suka banyak bicara. Tatapan mata gadis itu membuat hati Willi meleleh. Karena kebaikan dan kelembutan itu, Willi sangat menyayangi Sintawati.
Sintawati dan Willi berpacaran selama satu setengah tahun. Selama waktu pacaran itulah, banyak janji yang mereka perbuat. Banyak harapan yang berterbangan mengelilingi mereka berdua, terutama, Sintawati.
Sintawati membulatkan tekat untuk menjadikan Willi sebagai suaminya kelak. Setidaknya, itu adalah harapan yang selalu Sintawati ucapkan pada Willi. Begitu juga halnya Willi. Ia juga berharap, Sintawati akan menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak.
Tapi sayang, takdir tidak bisa diubah. Jodoh sudah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan. Manusia bisa apa? Selain mengikuti apa yang sudah ditulis oleh garis takdir.
Willi yang malang hanya bisa mengikuti apa yang orang tuanya katakan, tanpa berusaha melawan. Karena memang ia tidak bisa menolak apa yang mama dan papanya katakan.
Meskipun Willi tidak mencintai Saras, tapi tetap saja, ia berusaha menerima Saras dalam hidupnya. Ia pun berusaha melupakan Sintawati selama-lamanya.
Hal itu menyebabkan luka terlalu dalam di hati Sintawati. Semua harapan, semua impian yang ia bangun harus terkubur dalam-dalam bersama kenangan dan luka yang sangat amat perih buat hatinya.
Keputusan Willi untuk menerima Saras sebagai kekasih hati, sekaligus istri pendamping untuk selam-lamanya, menciptakan rasa dendam yang sangat dalam di hati Sintawati. Apalagi saat ia nengetahui kalau Willi tidak berusaha menolak perjodohan itu, melainkan menerima perjodohan tersebut dengan senang hati. Hal itu semakin memicu dendam dalam hati Sintawati.
__ADS_1
Dendam itu ia bawa selama puluhan tahun, sampai saat ini. Sudah banyak cara yang ia lakukan untuk membalaskan rasa sakit hatinya ini, namun ia gagal.
Pada akhirnya, ia memilih mundur, dan membalas dendam itu dengan cara yang lain. Cara berbeda yang terlintas di benaknya. Ia pun harus menunggu lama demi menjalankan dendam ini.
"Aku yakin sekarang, kamu pasti ingat siapa aku, bukan? Karena aku pernah datang padamu, menjual harga diri yang aku milik hanya untuk mengemis belas kasihan padamu, Saras. Tapi sayangnya, kamu menolak untuk memberikan padaku apa yang seharunya menjadi milik aku," kata Sinta sambil menatap tajam ke arah Saras dengan air mata yang terus saja tumpah.
Saras yang melamun, kini tersadar dari lamunan masa lalu yang Sinta ceritakan. Ia membalas tatapan tajam yang Sinta berikan padanya.
"Aku tidak pernah merasa menggambil apa yang kamu miliki Sinta."
"Apa! Kamu tidak merasa? Kamu memang tidak akan pernah sadar dari tidur nyenyakmu di atas awan itu, Saras."
"Memang aku tidak pernah mengambil apapun dari kamu. Jadi, kenapa kamu harus merasa dendam padaku?"
"Apa! Sampai kapan kamu tidak sadar-sadar juga, hah! William itu seharusnya menjadi milik aku, bukan milik kamu. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah rela, dia menjadi suami kamu, Saras!" kata Sinta berteraik.
"Ini sudah takdir yang menentukan kalau kami bersatu menjadi sepasang suami istri, Sinta. Ini bukan kesalahan aku ataupun mas Willi. Ini sudah tersurat, yang ditulis oleh takdir perjodohan kita. Kenapa kamu selalu menyalahkan aku atas apa yang terjadi, Sinta?"
"Diam! Aku tidak ingin mendengarkan apa kamu katakan lagi. Kamu selalu punya cara untuk menghindar dari aku dengan dalih takdirmu itu. Karena aku tidak bisa menghukum kamu secara langsung, maka aku terpaksa melampiaskan dendam ini kepada anak kamu," kata Sinta sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Apa? Apa maksud kamu, Sinta?" tanya Saras tak mengerti sekaligus kaget dengan apa yang Sinta katakan.