Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 43


__ADS_3

"Nggak, Ma. Aku nggak lupa kalau mama bukanlah mama kandung mas Rama. Tapi, aku datang ke sini karena aku merasa kasihan sama mama."


"Cih, kamu merasa kasihan padaku? Atau, kamu merasa kesal dan marah padaku karena aku telah memanfaatkan kamu sebagai alat balas dendam ku?" tanya Sinta merasa risih dengan kehadiran Laila.


"Ma, aku datang bukan untuk berselisih paham dengan mama. Aku juga tidak pernah menganggap mama memanfaatkan aku. Tapi, aku datang ke sini ingin mengajak mama membalas dendam mama hingga tuntas pada keluarga Zia itu."


"Apa maksud kamu?" tanya Sinta tiba-tiba tertarik dengan apa yang Laila katakan.


"Apa mama sudah merasa sangat puas sekarang, Ma? Hanya dengan membuat Zia sakit hati dengan kehancuran rumah tangga Zia ini? Apa mama tidak ingin menghancurkan semua keluarga Zia sehancur-hancur mungkin?" tanya Laila berusaha menimbulkan perasaan tidak puas dalam hati Sinta.


"Sejujurnya, aku merasa masih tidak cukup hanya membuat anak Saras merasakan sakit hati dengan kegagalan rumah tangga yang aku perbuat. Karena apa yang Saras dapatkan masih belum sebanding dengan apa yang aku dapatkan di masa lalu."


"Kalo gitu, bagaimana kita kerja sama untuk membuat ibu dan anak itu merasakan sakit hati yang luar biasa? Mama ingin balas dendam atas apa yang perempuan itu lakukan, sedangkan aku ingin balas dendam pada Zia atas apa yang telah dia lakukan padaku. Bagaimana?"


"Kamu ingin balas dendam? Kamu yakin ingin balas dendam pada Zia?" tanya Sinta sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Ya yakinlah. Kenapa aku tidak yakin dengan apa yang aku katakan?" Laila bertanya balik pada Sinta.


"Bukan itu yang aku maksudkan, Laila. Bukan soal keyakinan kamu yang aku pertanyakan, tapi, soal dendam apa yang kamu punya pada Zia, sehingga kamu ingin membalasnya. Kalau aku pikir-pikir, yang harus balas dendam itu Zia, bukan kamu," kata Sinta sambil menatap tajam Laila.


"Apakah mama lupa apa yang dia lakukan padaku? Dia membuat aku kehilangan anak yang ada dalam kandunganku. Dia juga mengusir aku dari rumah mewahnya itu. Dia menciptakan sakit dalam hatiku dengan tingkah lakunya yang bak penguasa besar yang memiliki segalanya. Aku kesal, kecewa, juga sakit hati, Ma. Apakah aku tidak berhak jika ingin membalas apa yang Zia lakukan padaku?"


"Sah-sah saja jika kamu ingin balas dendam. Tapi, setahu aku, kamu pantas mendapatkannya. Pertama, kamu kehilangan anak dalam kandungan mu itu bukan salah Zia, bukan? Kamu sendiri yang mengorbankan anakmu demi keberhasilan rencana yang sedang kamu jalani. Yang kedua, kamu telah merebut suaminya. Kamu pantas mendapatkan perlakuan seperti ini sebenarnya, Laila. Jika aku yang berada di posisi Ziana, mungkin kamu akan mendapatkan perlakuan yang lebih menyakitkan lagi," kata Sinta berucap panjang lebar.

__ADS_1


Laila yang mendengarkan apa yang Sinta katakan, berubah kesal. Marah dalam hatinya menggelegak. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dan menerima apa yang Sinta katakan karena ia ingin dukungan dari Sinta.


"Mama kenapa malah bela Zia sih, Ma? Aku melakukan semua itu juga demi keberhasilan kita berdua. Jika aku tidak melakukan semua itu, tidak mungkin sekarang Zia dan Rama bercerai. Lagipula, kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam hidupku, itu semua karena ulah mama. Mama yang menciptakan semua masalah, lalu menjadikan aku sebagai bidak catur yang siap mama jalankan kapan saja. Lalu, sekarang, mama malah membela Zia setelah apa yang mama lakukan padaku. Mama benar-benar kejam."


"Apa kamu bilang? Aku kejam? Kamu yang benar saja. Lebih kejam kamu dari pada aku. Tapi, asal kamu tahu, aku tidak sedikitpun berniat membela Zia. Cih, sedikitpun tidak."


"Lalu, kenapa mama malah memarahi aku? Bukannya mendukung aku dan kita sama-sama bekerja sama untuk membalaskan rasa sakit hati yang sedang kita rasakan sekarang."


"Baiklah. Mungkin kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan ibu dan anak itu. Tapi sayangnya, aku masih tidak punya cara untuk melakukan apapun sekarang."


"Aku punya ide sih sebenarnya, tapi tidak tahu apa mama setuju atau tidak dengan ide yang aku punya."


"Katakan! Ide apa yang kamu miliki saat ini."


"Bagaimana, Ma? Apa rencana ini bangus menurut mama?" tanya Laila sambil tersenyum.


"Sangat bagus. Namun, sangat beresiko. Jika ketahuan, kita bisa di penjara."


"Kita harus berani menggambil resiko jika ingin berhasil, Ma."


"Iya aku tahu. Tapi, jika terlalu beresiko aku jadi takut untuk menjalankannya."


"Kenapa harus takut mama Sinta? Yang harus kita lakukan itu cuma hati-hati dan bijak dalam bermain. Jika kita melangkah dengan baik, maka kita tidak akan jatuh. Lagipula, imbalan yang akan kita dapat sangat memuaskan, bukan?"

__ADS_1


"Ya sudah. Aku akan ikuti rencana kamu. Tapi ingat, kita harus hati-hati dan harus berhasil. Jangan sampai gagal," kata Sinta wanti-wanti.


"Semua itu tergantung kerja sama kita, Ma. Jika kita menjalankan rencana kita dengan sangat baik, maka kita akan berhasil. Kata gagal pasti akan menjauhi kita berdua," kata Laila sambil tersenyum manis.


Meskipun tidak yakin, Sinta tetap ikut tersenyum mengikuti Laila. Sementara itu, Zia yang berangkat ke kantor, baru saja sampai di depan pintu masuk kantornya. Dia di sambut oleh dua satpam penjaga pintu dengan senyum manis juga sapaan penuh hormat.


"Selamat siang mbak Zia," ucap salah satu satpam.


"Selamat siang, pak satpam." Zia menjawab sambil berjalan cepat melewati kedua satpam tersebut.


"Mbak Zia kelihatannya sedang buru-buru. Apa karena wakil dari perusahaan asing itu?" tanya satpam pada tersebut pada temannya.


"Mungkin. Karena yang aku tahu, mbak Zia dan wakil dari perusahaan asing itu sebenarnya tidak ada janji. Wakil perusahaan asing itu datang mendadak gitu. Makanya, mbak Zia tidak punya persiapan sama sekali. Jadi wajar kalo sekarang, mbak Zia buru-buru."


"Sejak mbak Zia dan pak Rama pisah, aku merasa kalau mbak Zia itu kok ya semakin cantik aja," kata satpam itu sambil tersenyum memikirkan wajah bosnya.


"Hush, kenapa jadi ngelantur kamu ngomongnya. Mana boleh bicara yang nggak-nggak. Kalo ada yang dengar bisa kacau."


"Aku ngomong apa adanya. Kenyataan tahu nggak."


"Ya aku tahu. Tapi kamu tidak boleh bicara seperti itu. Mbak Zia bos kita. Jadi jangan banyak pikiran yang tidak-tidak pada mbak Zia.


"Ye ... ngomong gitu aja nggak boleh. Kamu ini," kata satpam itu kesal pada temannya.

__ADS_1


__ADS_2