
Kedua keluarga makan siang bersama. Lalu, mama dan papa Zia menawarkan papa dan mama Zein untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum membicarakan prihal anak mereka. Namun, papa dan mama Zein menolak. Mereka ingin langsung membicarakan maksud ke datangan mereka ke rumah orang tua Zia.
"Kalian sebagai orang tua Zia tentu sudah tahu bukan? Apa maksud dari ke datangan kami ke rumah kalian?" kata papa Zein memulai pembicaraan mengarah pada maksud dari kedatangan mereka yang sesungguhnya.
"Ya, kami tahu. Tapi sebelum kita membicarakan soal itu lebih lanjut, saya ingin bertanya terlebih dahulu pada kalian. Apakah kalian tahu apa status anak kami saat ini?" tanya papa Zia pula.
Mama dan papa Zein saling pandang untuk beberapa saat, membuat hati orang tua Zia agak cemas. Karena sebenarnya, hal yang paling mereka takutkan adalah, penolakan untuk Zia atas status yang ia miliki. Yaitu, sebagai janda. Karena Zein seorang laki-laki yang belum menikah sama sekali.
Setelah kedua orang tua Zein saling padangan, mereka akhirnya menarik senyum di bibir masing-masing. Senyum yang membuat lega hati mama dan papa Zia.
"Tidak perlu membahas soal status Zia sekarang. Karena bagi kami, status calon menantu kami tidaklah penting. Jika Zein memilih dia sebagai istrinya, kami tidak perlu ikut campur dengan mempermasalahkan apa statusnya. Yang terpenting bagi kami adalah, Zein suka dan cinta, lalu Zein bahagia dengan kehidupannya. Itu saja," kata mama Zein dengan senyum manis di bibirnya.
"Kalau begitu, syukurlah. Kami bisa tenang untuk membicarakan kelanjutan dari maksud kedatangan kalian ke rumah kami," kata mama Zia ikut bicara dengan perasaan benar-benar lega.
Merekapun melanjutkan pembicaraan tentang pernikahan Zein dan Zia. Dari pembicaraan itu, mereka sepakat untuk menetapkan pesta pernikahan satu minggu dari sekarang. Seperti yang Zein katakan, lebih cepat, maka lebih baik.
Setelah mencapai kesepakatan tersebut, kedua orang tua Zein pamit pulang. Tentunya, tidak pulang ke rumah mereka, melainkan, pulang ke apartemen milik Zein untuk beristirahat.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja? Kalian bisa anggap rumah ini rumah kalian," kata papa Zia menawarkan.
"Maaf pak Willi, bukan maksud kami sombong dengan tidak menerima tawaran kalian sekeluarga untuk tinggal di rumah kalian. Tapi, kami merasa tidak enak menyusahkan kalian dengan tinggal di sini selama satu minggu ke depan. Lagian, kami juga punya apartemen di sini. Sebaiknya, kami tinggal di apartemen kami saja. Itu akan lebih mudah untuk kami menyiapkan semuanya," kata papa Zein menolak dengan cara sehalus mungkin agar papa Zia tidak tersinggung.
__ADS_1
Mendengar alasan itu, papa Zia memahami maksud orang tua Zein. Ia menerima keputusan orang tua Zein dengan senang hati.
______
Lima hari kemudian. Persiapan pernikahan Zia dan Zein hampir selesai. Gaun pernikahan yang mereka pesan, hari ini akan mereka ambil dari butik langganan Zia.
Zein menjemput Zia ke rumah untuk mengajak Zia mengambil gaun tersebut. Saat mobil Zein ingin membelok menuju halaman rumah Zia, mobil itu harus terhenti karena mobil Rama juga ingin melakukan hal yang sama.
Pada akhirnya, Rama dan Zein sama-sama keluar dari mobil karena tidak ada yang mau mengalah. Mereka sama-sama bertahan ingin masuk ke halaman rumah Zia duluan.
"Mau kamu apa sih? Kenapa kamu menghalangi jalanku?" tanya Rama dengan wajah sangat kesal.
Ya, Rama memang sangat amat kesal sekarang. Saat ia tahu kalau Zia akan menikah beberapa hari lagi, Rama langsung mengendarai mobil untuk menuju rumah Zia. Ia ingin menanyakan pada Zia tentang kebenaran dari berita yang ia dengar.
Tapi, semua itu seperti mimpi sekarang. Karena kehadiran Zein, laki-laki yang ada di hadapannya saat ini adalah penghalang terbesar dari apa yang Rama harapkan.
Rama menatap Zein dengan tatapan tajam penuh kebencian dan amarah. Rasanya, ia ingin menelan Zein bulat-bulat agar Zein menghilang dari pandangan matanya, juga pandangan Zia.
"Pak Rama ini apa-apaan sih? Pak Rama yang menghalangi jalan saya, kenapa malah pak Rama yang kelihatannya sangat marah dan sangat kesal pada saya? Harusnya saya yang marah sama pak Rama, bukan malah sebaliknya."
"Kamu benar-benar cari masalah dengan aku ternyata," kata Rama sambil mencengkram kerah baju Zein dengan keras.
__ADS_1
"Mas Rama hentikan!" Zia berteriak keras saat melihat apa yang Rama lakukan pada Zein. Sedangkan Zein, ia malah pasrah karena ia tahu kalau Zia pasti akan membelanya.
"Zi--Zia." Rama segera melepas cengkraman nya dengan cepat. Ia merasa kaget karena Zia melihat apa yang ia lakukan.
"Zia, aku minta maaf. Apa yang kamu lihat tidak sama dengan apa yang terjadi sebenarnya. Ini hanya salah paham, Zia," ucap Rama berusaha menjelaskan apa uang terjadi pada Zia.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa mas Rama. Karena aku tidak butuh penjelasan dari kamu. Zein, ayo!" ucap Zia sambil berjalan masuk melewati Rama.
"Zia, tunggu!" Rama menghentikan langkah Zia dengan memegang tangannya.
Cara itu sukses, karena Zia memang menghentikan langkahnya. Dengan tatapan tajam, Zia menatap lekat ke arah Rama. Zein yang melihat hal itu merasa tidak enak hati. Ia merasa sangat risih dengan perlakukan Rama pada Zia.
Namun, Zein bukanlah tipe laki-laki yang akan menunjukkan apa yang ia rasakan secara langsung. Zein akan menyimpan apa yang ia rasa, jika ia pikir situasi itu tidak tepat untuk ia menunjukkan apa yang ia rasakan.
"Lepaskan aku, mas Rama! Apa kamu tidak lihat kalau calon suami aku sedang melihat kamu yang sedang kurang ajar padaku?"
"Jadi ... apa yang aku dengar itu nyata Zia? Kamu akan menikah dengan dia beberapa hari lagi?" tanya Rama dengan perasaan sedih.
"Ya, apa yang kamu dengar itu memang benar. Aku akan menikah dengan Zein beberapa hari lagi. Maaf jika aku melupakan undangan untuk kamu, mas. Karena aku pikir, kamu mungkin tidak ingin datang ke pesta pernikahan aku dan Zein."
"Zi--Zia ... Se--selamat atas pernikahan yang akan kalian jalankan sebentar lagi. Kamu benar, aku tidak mungkin bisa menghadiri pesta pernikahan kalian karena beberapa hal. Yang tentunya tidak bisa aku katakan pada kalian," ucap Rama dengan menahan sedihnya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak mas Rama. Aku juga tidak akan bertanya apa alasannya padamu. Ya sudah kalo gitu, aku dan Zein harus pergi terlebih dahulu. Permisi," ucap Zia sambil menarik tangannya yang Rama pegang sejak tadi.