Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 83


__ADS_3

Mobil Zia telah sampai ke rumah sakit. Zein di bantu suster membantu Restu turun dari mobil.


Setelah selesai, suster mendorong Zein masuk ke dalam rumah sakit menuju kamar rawat inapnya kembali.


Zia dan Zein terus mengikuti Restu dan suster penjaganya dari belakang. Mereka ikut berhenti saat Restu sudah berada di dalam kamar rawat inapnya.


Setelah dokter memeriksa keadaan Restu, Zia langsung menghampiri dokter tersebut untuk bertanya.


"Bagaimana keadaan Restu, dokter? Apa dia baik-baik saja?"


"Pasien mengalami remuk tulang di beberapa bagaian. Tapi, kondisinya sudah mulai membaik. Namun, ia terap harus mendapat perawatan yang intensif sampai remuk tulangnya benar-benar sembuh," kata dokter itu menjawab pertanyaan Zia dengan wajah serius.


"Kapan Restu boleh pulang, Dok? Maksud saya, butuh waktu berapa lama agar remuk tulangnya sembuh total dokter?"


"Saya tidak bisa memastikan kalo soal itu. Tapi, sebagai seorang dokter, saya hanya bisa memprediksi melalui kaca mata seorang dokter. Jika dilihat dari cedera yang pasien alami, butuh waktu dua minggu untuk pasien tetap dirawat di rumah sakit."


"Dua minggu, dokter?" tanya Restu dengan wajah kaget.


"Iya, dua minggu. Tapi, anda tidak perlu memikirkan soal itu. Karena itu hanya prediksi saya saja. Semuanya bisa berubah," kata dokter itu menguatkan semangat Restu yang terlihat sedikit putus asa.


"Restu. Hei ... dua minggu itu tidak lama. Dua minggu itu waktu yang sangat singkat, lho Res," ucap Zia ikut menguatkan.


"Zia benar, Restu. Dua minggu itu waktu yang sangat singkat. Buat apa kamu pikirkan." Zein ikut memberi semangat.


"Apa yang teman anda katakan itu sangat tepat. Berapa lah waktu dua minggu. Sangat singkat," kata dokter itu pula.

__ADS_1


"Mereka bukan teman saya dokter, tapi bos saya. Bos yang saya anggap seperti keluarga," kata Restu sambil melihat Zia dengan tatapan penuh haru.


"Anda sangat beruntung, punya bos sangat baik seperti mereka. Semoga anda cepat sembuh. Semangat anda yang ingin cepat sembuh akan membantu mengurangi waktu sakit yang saya prediksi."


"Ya sudah kalo gitu, saya permisi dulu. Lekas sembuh," kata dokter itu sambil tersenyum kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


"Res, mbak juga akan kembali dulu. Nanti, mbak ke sini lagi setelah mbak melepaskan lelah nya mbak. Mbak akan minta Venty buat temani kamu di sini agar kamu tidak merasa kesepian," kata Zia sambil menatap layar ponselnya.


"Gak usah mbak. Gak papa, biarkan aja aku sendirian. Aku udah terbiasa kok." Restu mencegah niat Zia untuk menghubungi Venty.


"Lho, kok gak usah sih? Ada masalah apa kamu sama Venty? Biasanya, kalian berdua dekat, bukan?" tanya Zia bingung sambil melihat Restu dengan bingung.


"Gak ada masalah apa-apa mbak Zia. Hanya saja, aku tidak ingin Venty dan tunangannya bertengkar hanya karena Venty dekat dengan aku. Aku merasa tidak enak sekaligus kasihan pada Venty. Nanti dia pasti sedih," kata Restu dengan wajah sedihnya.


Restu yang hanya tinggal sebatang kara di kota ini, membuat Zia merasa bingung untuk meminta pertolongan dari saudara Restu. Karena keluarga Restu semuanya berada di kampung.


"Sayang, nanti aku minta bantuan Lola aja buat temani Restu di sini. Aku yakin, Lola pasti tidak akan keberatan," kata Zein memberikan solusi untuk Zia karena Zia terlihat begitu bingung dan cemas.


"Kamu yakin, Zein? Apa Lola gak akan merasa keberatan jika kamu minta buat temani Restu?" tanya Zia memastikan.


"Mbak, mas Zein. Tidak perlu repot-repot mencarikan aku teman. Aku akan baik-baik saja di sini sendirian. Lagipula, aku sudah terbiasa sendiri di sini. Gak akan terasa sepi, kok," kata Restu merasa tidak enak.


"Gak papa Restu. Nanti Lola akan temani kamu. Aku yakin, Lola pasti tidak akan keberatan. Lagipula, aku juga ingin memperkenalkan Lola padamu," ucap Zein sambil menepuk pelan bahu Restu.


Restu menatap Zein dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia sebelumnya tidak pernah mendengar nama Lola. Jadi, ia merasa penasaran dengan pemilik nama itu. Apa hubungan seseorang yang bernama Lola dengan Zein sehingga Zein ingin memperkenalkan Lola pada Restu.

__ADS_1


Semua pertanyaan itu memenuhi pikiran Restu. Ia ingin bertanya namun tidak berani. Karena merasa tidak enak hati untuk menanyakan soal semua yang mengganjal dalam benaknya tersebut.


Zein tersenyum. Seakan ia tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Restu saat ini. Zein merasa lucu dengan dirinya sendiri. Ia tidak memperkenalkan siapa Lola. Tapi hanya mengatakan nama Lola saja pada Restu yang belum mengenali Lola sama sekali.


"Aduh ... maafkan aku Zein. Aku lupa bilang siapa Lola. Lola itu adalah adik sepupu aku. Dia tinggal di kota yang berbeda dengan kita. Namun, datang ke sini untuk melanjutkan liburannya. Sebelumnya, Lola berlibur ke luar negara menyusul kepergian kami," kata Zein menjelaskan sambil tersenyum.


"Oh, Lola itu adik sepupu mas Zein. Aku pikir siapa tadi," kata Restu dengan wajah lega karena semua pertanyaan yang mengganjal dalam benaknya, kini semua telah terjawab.


"Oh ya Res, mbak mau tanya sesuatu sama kamu. Di mana ponsel kamu sekarang?" tanya Zia langsung mengubah pokok pembicaraan saat ia ingat soal perempuan yang selalu menggangkat panggilannya setiap kali ia menelpon.


"Ponselku hilang mbak Zia. Aku tidak tahu di mana ponselku berada saat ini. Setelah aku bangun dari pingsan, aku tidak pernah melihat ponsel itu sama sekali."


"Sudah bisa dipastikan kalo ponselmu saat ini berada di tangan perempuan itu," kata Zein menyimpulkan dengan cepat.


"Ya, aku juga berpikir seperti itu, mas Zein. Tapi, biarkanlah. Semua file yang ada di dalam ponsel itu tidak akan bisa ia lihat. Karena aku memakai pin pengaman untuk semua file yang aku punya."


"Wuah, bagus sekali kalo gitu. Kamu benar-benar selalu waspada ternyata," kata Zein lega.


"Kamu lupa, kalo Restu itu hacker terbaik yang pernah aku kenali. Apapun bisa ia buat dengan smartphone yang ia miliki. Jadi, tidak perlu cemas," kata Zia membanggakan Restu.


"Mbak Zia bisa aja. Aku hanya punya sedikit keahlian mengutak-atik barang yang aku miliki punya. Tidak bisa dibanggakan dengan keahlian merusak seperti itu."


"Bagaimana bisa tidak dibanggakan, Restu? Jika bukan karena keahlian yang kamu miliki, semua aset yang aku miliki sudah pasti hilang di curi orang. Karena keahlian mu itulah yang bisa menyelamatkan semua hartaku. Bagaimana aku tidak membanggakan kamu," kata Zia dengan perasaan tulus memuji Restu.


Restu hanya tersenyum hangat menanggapi perkataan Zia. Dia memang punya banyak jasa bagi Zia. Makanya, Zia sangat menyayangi Restu lebih dari seorang karyawan.

__ADS_1


__ADS_2