Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 66


__ADS_3

Setelah bicara seperti itu, Rama langsung menarik tangan Zia untuk ia ajak keluar. Zia bertingkah pasrah. Ia mengikuti apa yang Rama lakukan padanya.


"Mas! Jangan pergi mas!" Laila terus berteriak dengan keras memanggil-manggil Rama. Tapi sayangnya, tidak dihiraukan Rama sedikitpun.


Setelah keluar dari ruang interogasi, Rama menawarkan Zia untuk pulang bersama setelah semua urusannya selesai. Tapi sayang, Zia menolak tawaran itu dengan alasan tidak enak hati dengan Laila. Meskipun alasan itu terdengar sedikit tidak masuk akal, namun Rama memahami apa yang Zia rasakan.


Zia dan Rama berpisah untuk melakukan urusan masing-masing setelah bicara seperti itu. Rama menemui polisi untuk urusannya, sedangkan Zia menemui Zein yang sedang berada di ruang interogasi Riska.


"Zein." Zia memanggil Zein saat ia masuk ke dalam.


"Zia." Perhatian Zein seketika teralihkan oleh Zia. Hal itu membuat Riska merasa sangat kesal.


"Zia! Mau apa kamu datang ke sini, hah! Kamu ingin menertawai aku atas jebakan yang sudah kamu perbuat padaku?" tanya Riska dengan nada tinggi.


"Riska! Kamu apa-apaan sih? Kenapa malah menyalahkan Zia atas apa yang terjadi? Ini semua bukan salah Zia. Apa kamu tidak mengerti? Aku rasa karena tertangkap polisi kamu mau berubah, tapi kenyatannya, tidak. Kamu malah semakin menjadi-jadi kayaknya," ucap Zein memarahi Riska.


"Ze--Zein. Kamu kok malah marahin aku sih? Bukannya kamu bela aku karena di sini aku lah korbannya," kata Riska dengan tatapan tak percaya.


"Kamu bukan korban melainkan tersangka. Yang jebak kamu bukan Zia melainkan aku," kata Zein terang-terangan mengakui perbuatannya.


"Mak--maksud kamu apa, Zein?" Riska bertanya dengan perasaan sedih.


"Asal kamu tahu, aku yang jebak kamu karena aku tahu semua yang kamu lakukan. Kamu mengawasi kantor Zia sebelum kamu melakukan semua rencana mu, Riska. Aku beberapa kali memergoki kamu dan teman jahat mu itu bertemu di sekitar kantor Zia. Saat itulah, aku mencium sesuatu yang tidak beres dari tingkah laku kalian."


"Ap--apa? Kau yang sengaja menjebak aku?" tanya Riska dengan tatapan tajam penuh amarah.


"Ya. Kamu pikir kamu akan mudah memasuki kantor Zia dengan menyamar sebagai OB? Lalu, apa kamu pikir dengan mudah bisa mendapatkan semua surat-surat penting yang Zia miliki? Jika tidak sengaja kami biarkan kamu mengambilnya, maka kamu tidak akan bisa mengambil semua itu dengan mudah Riska."

__ADS_1


"Jadi ... kamu, kamu biang semuanya Zein? Kamu sahabat masa kecilku, kenapa kamu tega melakukan itu padaku, Zein? Apa salah aku padamu?" tanya Riska sambil berteriak sedih pada Zein.


"Maafkan aku. Kamu memang sahabat masa kecil yang aku sayangi. Aku melakukan semua ini, hanya ingin membuat kamu menyadari apa yang kamu lakukan itu salah."


"Tidak! Kamu tidak menyayangi aku, Zein. Kamu sangat jahat! Aku tidak punya sahabat seperti kamu. Zein Martin! Mulai sekarang, aku dan kamu bukan sahabat lagi, melainkan musuh!" kata Riska dengan nada tinggi.


"Riska."


"Pergi kamu sekarang! Pergi!"


"Riska dengar .... "


"Pak polisi! Tolong pak! Tolong aku," kata Riska berteriak keras sambil menangis.


Dua polisi datang ke ruangan itu karena mendengar teriakan dari Riska. Dengan cepat, Riska meminta kedua polisi itu mengusir Zein dan Zia dari ruangan tersebut.


Zein dan Zia pun meninggalkan kantor polisi setelah semua urusan mereka selesai. Saat setelah berbicara dengan Riska, Zein terus terlihat murung seperti ada beban berat yang sedang ia pikul. Zia memahami apa yang Zein rasakan. Ia juga merasa tidak enak hati telah menjadi perusak persahabatan Zein dan Riska.


"Zein. Maafkan aku karena telah menjadi orang ketiga dalam persahabatan kalian. Aku juga minta maaf karena telah merusak hubungan baik antara kalian berdua. Aku menyesal sekali, karena aku, hubungan persahabatan kalian sekarang jadi rusak."


"Zia, kamu tidak salah. Semua yang terjadi saat ini, sedikitpun bukan karena kamu. Aku sayang sahabatku. Aku tidak ingin melihat dia menjadi orang jahat hanya karena kesalahpahaman yang ada dalam hatinya."


"Tapi Zein, tetap saja itu karena aku," kata Zia dengan wajah bersalahnya.


"Sudah. Jangan merasa bersalah seperti itu, Zia. Ini bukan salah kamu. Oh ya, aku lupa menanyakan satu hal padamu tadi. Apa bekas tamparan itu masih sakit? Kenapa kamu membiarkan orang lain menampar wajahmu? Kenapa kamu tidak menghalanginya?" tanya Zein mengalihkan pokok pembicaraan.


"Tidak. Ini tidak sakit dan kamu tidak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja."

__ADS_1


"Apanya yang baik-baik saja? Kamu di tampar oleh istri mantan suami kamu, tapi kamu bilang baik-baik saja. Apa kamu tidak ingin membalas apa yang ia lakukan padamu, Zia?"


"Aku sudah membalas apa yang ia lakukan padaku, Zein."


"Apa maksud kamu?" tanya Zein tidak mengerti.


"Zein, sebenarnya tadi, aku hanya pura-pura di tampar oleh Laila. Aku tidak benar-benar di tampar."


"Maksudnya?" tanya Zein masih tidak mengerti.


Mau tidak mau, Zia pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di ruang interogasi barusan.


"Awalnya, dia memang ingin menampar aku karena dia merasa kesal dengan apa yang aku katakan. Tapi aku menahan tangannya dengan cepat. Namun, pikiran jahat ku meminta aku melakukan sesuatu saat aku melihat mas Rama datang. Aku melakukan sesuatu seolah-olah dia telah menampar aku dengan sangat keras."


"Wuah, hebat sekali kamu Zia. Aku pikir kamu akan membiarkan seseorang menindas kamu tanpa berniat membalasnya," ucap Zein sambil tersenyum puas.


"Tidak akan. Waktu itu, saat dia mengambil apa yang aku punya, aku masih belum bisa membalas perlakuannya itu karena aku sedang berada dalam suasana yang menyedihkan. Tapi sekarang, aku tidak akan membiarkan dia menari-nari atas kesedihan yang ia ciptakan buat aku. Aku berusaha mengembalikan semuanya sekarang."


"Bagus sekali Zia. Kamu wanita kuat yang luar biasa," ucap Zein dengan sangat bangga.


"Tapi Zein, setelah aku melakukan pembalasan ini, aku merasa kalau aku ini sangat jahat. Aku melakukan kejahatan dengan berbohong. Bukan hanya itu, aku juga telah menyebabkan Rama menceraikan Laila tadi," kata Zia dengan nada penuh penyesalan.


"Apa? Mantan suamimu menceraikan istri sirinya tadi?" tanya Zein dengan wajah kaget.


"Ya." Zia menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


'Gawat. Aku masih belum berhasil mendapatkan Ziana, eh, mantan suaminya Zia malah menceraikan istri sirinya. Aduh, mana aku melihat kalau mantan suami Zia itu masih menyimpan cinta lagi pada Zia. Tidak bisa aku pungkiri, mantan suami Zia pasti akan mengejar Zia kembali. Tidak bisa. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus cepat menjadikan Zia milikku seutuhnya,' kata Zein dalam hati sambil tertegun.

__ADS_1


'Aduh, tapi ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan cinta. Masalah yang sedang menumpuk, mana bisa aku malah seenaknya menyatakan cinta. Bukannya diterima aku nantinya, ditolak iya,' kata Zein dalam hatinya lagi.


__ADS_2