Cinta Berduri

Cinta Berduri
*Bab 31


__ADS_3

"Laila, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Rama saat ia masuk ke kamar setelah kembali dari taman.


"Aku ... aku lumayan baik, mas. Ya meskipun kepala ini masih terasa sakit. Tapi, udah mendingan kok. Oh ya, kamu dari mana, mas?"


"Aku dari ... dari luar."


"Kamu dari luar, Mas? Luar mana?" tanya Laila penuh selidik.


"Aku dari kantor. Oh ya, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Mau bicara? Bicara apa, mas?" tanya Laila agak panik. Dalam hati ia takut kalau Rama akan bicara soal rumah tangga mereka. Laila takut, Zia telah berhasil meracuni pikiran Rama dengan kata-katanya.


"Besok, kita akan segera meninggalkan rumah ini."


"Apa! Kita akan pindah rumah besok, mas?" tanya Laila kaget.


"Ya." Rama menjawab singkat.


"Kita mau pindah ke mana mas Rama?"


"Kita pindah ke rumah lama kamu. Kita akan tinggal di rumah lama yang sebelumnya kamu tempati untuk sementara."


"Apa! Rumah lama yang kecil itu mas Rama. Kamu yakin kita mau tinggal di sana? Sementara itu seberapa lama sih?" Laila menghujani Rama dengan banyak pertanyaan.


"Sampai aku dapat rumah baru yang layak untuk kita tempati."


"Kamu janji akan beli rumah baru ya mas, secepatnya. Janji juga kalau kamu beli rumah baru itu atas nama aku, agar aku tenang tinggal di rumah baru kita nanti," kata Laila berucap dengan nada manja.

__ADS_1


"Ya." Rama menjawab singkat karena ia malas untuk bicara dengan Laila. Apalagi jika Laila bersikap seperti ini, bukannya, Rama malah merasa geli.


"Mas, kamu kok gitu sih ngejawabnya. Kayak gak suka gitu dengan apa yang aku katakan. Ya udah, gak usah beli rumah atas nama aku. Aku gak mau juga kok." Laila berubah ngambek sambil mengubah posisi baringnya.


"La, jangan ngambek gitu ya. Tolong jangan tambah masalah yang ada. Sekarang, aku sedang punya banyak masalah. Aku harap kamu mengerti."


"Aku mengerti mas. Sangat mengerti. Aku juga gak berharap hadir dan menjadi masalah buat kamu. Di sini, aku yang sangat tersakiti, aku kehilangan apa yang sangat aku sayangi mas Rama," ucap Laila pura-pura sedih. Ia berharap, dengan mengungkit apa yang telah terjadi, akan membuat rasa bersalah Rama muncul kembali.


"Laila, sudah. Aku mohon jangan ungkit luka itu lagi. Aku tahu kamu masih sangat sedih. Ini semua bukan salah kamu. Aku janji akan beli rumah baru secepatnya, atas nama kamu. Aku juga akan beli rumah yang sama besarnya dengan rumah ini. Kamu tenang saja," kata Rama membujuk Laila.


Laila tersenyum simpul dalam selimutnya. Ia bahagia karena ternyata ia berhasil membuat Rama merasa bersalah kembali. Rama berjanji akan membelikan dia rumah yang sama besar. Hal itu rasanya sudah cukup bagi Laila sebagai ganti untuk melepaskan rumah ini. Ya walaupun sebenarnya, ia tidak rela melepaskan rumah secantik ini. Tapi, ia tidak bisa tetap berada di sini juga. Karena ini rumah Zia, dan Zia susah mengusir mereka sebelumnya dari rumah ini.


"Kamu janji mas," ucap Laila sambil membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Ya, aku janji."


"Terima kasih banyak mas Rama. Aku juga gak ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Aku marasa gak enak sama mbak Zia. Seperti yang kamu katakan kemarin-kemarin, rumah ini atas namanya. Wajar saja kalau dia mengusir kita dari rumah ini. Ya walaupun apa yang dia lakukan itu sebenarnya salah besar."


"Ya jelas salah besarlah, mas. Kamu dan dia adalah suami istri. Meskipun ini rumah atas nama dia, dan di beli dengan uang dia. Dia tidak berhak usir kamu, mas. Karena kamu kepala keluarga di sini."


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas soal itu lagi. Apa yang Zia lakukan itu sebenarnya sangat wajar. Masih bagus dia tidak membawa kita berdua ke jalur hukum. Jika sebagian perempuan, mungkin kita tidak akan bisa menikmati udara segar lagi akibat pembalasan yang ia berikan karena dosa yang kita perbuat sangat besar padanya."


Laila terdiam. Ia merasa sangat kesal dengan ucapan Rama barusan. Secara tidak langsung, Rama sudah terang-terangan membela Zia di hadapannya.


'Cih, kurang ajar banget mas Rama. Di depan aku aja dia berani bela istri pertamanya. Bagaimana di belakang aku? Mungkin, aku tidak pernah di anggap ada jika bukan karena rasa bersalah ini. Tunggu dan lihat saja apa yang bisa aku lakukan, mas. Aku akan buat kamu tunduk padaku dengan rasa bersalah itu,' ucap Laila dalam hati.


Di rumah ini tidak ada kehangatan sama sekali. Saat makan malam, tidak ada yang keluar untuk makan malam bersama. Layaknya keluarga pada umumnya. Rama sibuk membereskan semua barang yang akan dia bawa pergi bersamanya. Begitu juga Laila. Dia juga membereskan barang-barang yang ingin dia bawa.

__ADS_1


Sementara itu, Zia terdiam di apartemennya. Ia memilih kembali ke apartemen setelah bicara dengan Rama. Ia tidak siap untuk tinggal satu rumah dengan Laila juga Rama.


Saat Zia masih termenung sambil memikirkan kisah cinta dan rumah tangganya yang kandas. Ia dikagetkan dengan suara ketukan di pintu apartemennya. Ketukan itu membuat Zia harus bagun dari duduknya.


Dengan rasa malas, Zia menurunkan kaki lalu melangkah menuju pintu. Ketukan itu semakin kuat sehingga memaksa Ziana mengeluarkan suara untuk menenangkan seseorang yang berada di luar sana.


"Iya, tunggu sebentar," ucap Ziana dengan nada malas.


Ziana membuka pintu. Saat daun pintu terbuka, seorang laki-laki sedang tersenyum manis padanya. Di samping laki-laki itu, berdiri seorang perempuan dengan tatapan tajam pada Ziana.


"Hai, selamat malam Ziana. Maaf mengganggu," kata laki-laki itu masih dengan senyum manis di bibirnya.


"Zein?" tanya Ziana seakan tak percaya dengan apa yang matanya lihat.


"Iya, aku. Kenapa melihatnya gitu? Aku ganggu banget ya?" tanya Zein dengan wajah bersalah.


"Oh, ngg--nggak kok. Gak ganggu sama sekali."


"Yakin gak ganggu waktu istirahat kamu?"


"Nggak. Ayo silahkan masuk!"


"Terima kasih banyak. Tapi, kayaknya lain kali aja deh. Aku ke sini cuma mau memastikan, kalau ternyata, kamu itu benar-benar tetanggaan sama aku atau nggak."


"Maksud kamu?" tanya Zia masih belum memahami apa yang Zein katakan.


"Ya, mulai sekarang, aku juga akan tinggal di apartemen ini. Dan, apartemen aku itu ternyata tetanggaan sama apartemen kamu. Itu," kata Zein sambil mengarahkan telunjuknya ke pintu tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu tinggal di sini juga? Sama .... "


Zia tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya melihat perempuan di sebelah Zein yang dari tadi tidak bicara sepatah katapun. Perempuan itu hanya terdiam sambil menatap Zia dengan tatapan tajam seolah ada sesuatu yang tidak kena dengan Zia.


__ADS_2