
Delapan bulan kemudian.
Di sebuah hotel mewah bintang lima, resepsi pernikahan Lola dan Restu diadakan di sana. Banyak tamu penting berdatangan untuk memberikan doa restu pada Restu dan Lola.
Di antara tamu penting itu, ada seorang tamu yang datang tanpa di udang. Dia adalah Rama.
Setelah kejadian itu, Rama memilih pergi keluar negeri untuk beberapa bulan lamanya. Ia berniat untuk menenangkan pikirannya di luar negeri. Ia kembali setelah merasa kalau dirinya sudah tenang. Tapi, saat ia mendengarkan kalau Restu menikah, Rama merasa punya kesempatan untuk melihat Zia. Paling tidak, ini untuk yang terakhir kalinya ia melihat Zia. Ya, walaupun dari kejauhan.
Namun, saat ia berada di pesta mewah tersebut, ia begitu kaget ketika melihat Zia yang sedang hamil tua. Mungkin, sebentar lagi akan melahirkan.
"Ke--kenapa Zia bisa hamil? Bukankah surat itu mengatakan kalau Zia tidak bisa hamil?" tanya Rama pada dirinya sendiri sambil terus melihat perut Zia.
"Itu karena kamu bodoh, Rama."
Ucapan yang berasal dari belakang mengangetkan Rama. Sontak saja, ia langsung menoleh untuk melihat orang yang sudah berani mengatakan dirinya bodoh.
"Mama Sinta!"
Rama kaget saat melihat Sinta berada di belakangnya. Dengan senyuman penuh ejekan, Sinta menatap ke arah Rama. Sambil terus mengayunkan kipasnya. Sinta mencibir Rama.
"Kamu jadi laki-laki terlalu lemah dan bodoh. Makanya mantan istrimu bisa hamil."
"Apa maksud mama sebenarnya? Katakan! Jangan berbelit-belit."
"Ih ... kamu sedikit kasar setelah merantau ke negara orang beberapa bulan, ya Ram. Bagaimana jika kamu merantaunya beberapa tahun? Mungkin kamu benar-benar berubah jadi laki-laki yang tidak sabaran kali ya."
"Jangan banyak bicara, Ma. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk meladeni mama. Jika mama ingin berurusan dengan aku, maka langsung saja."
"Oh baiklah kalo gitu. Mama akan langsung saja karena mama juga tidak suka bicara dengan kamu terlalu lama, Rama. Mama udah melupakan kamu soalnya, kamu bukan anak mama. Sepantasnya, kamu panggil aku tante karena kamu anak pembantu," kata Sinta malah meracau dengan bicara soal masa lalu Rama.
"Tante! Jangan banyak bicara. Jika saja ini bukan acara orang, aku sudah akan menghajar tante," kata Rama berniat untuk pergi. Namun, niat itu batal karena Sinta menahannya.
"Cih sok-sokan kamiu, Ram. Oh ya, aku mau katakan nih, surat dari rumah sakit yang kamu baca itu sebenarnya bukan surat milik Zia. Zia tidak mandul, seperti yang surat itu katakan."
"Maksud kamu?" tanys Rama sangat kesal. Marahnya sudah siap mekedak, bak gunung merapi yang siap meletus.
__ADS_1
"Kamu bodoh bisa aja aku kibuli. Surat itu ntah milik siapa. Aku edit dengan sedemikian rupa agar terlihat seperti asli. Kamu aja yang mau-maunya aku aku bodohi, Rama. Emang dasar kamu bodoh, sih." Sinta mengungkapkan semua kebohongan yang selama ini ia lakukan pada Rama.
"Tidak mungkin. Ini sangat tidak mungkin. Katakan kalau kamu bohong. Katakan!" kata Rama sambil berteriak dengan sangat keras sehingga semua perhatian teralih pada mereka berdua.
"Bodoh. Sekali bodoh tetap aja bodoh. Kamu gak percaya apa yang aku katakan. Padahal, buktinya nyata. Lihat itu, Zia sedang hamil besar dan akan melahirkan sebentar lagi," kata Sinta sambil menunjuk ke arah Zia yang sedang berjalan mendekat ke arah kerumunan.
Rama merasa sangat kesal. Ia tidak bisa menahan hatinya lagi sekarang. Amarahnya kini benar-benar tidak bisa ia tahan.
Dengan perasaan sangat kesal, Rama mencengkram erat tangan Sinta.
"Kamu benar-benar jahat. Tidak cukup kamu menyakiti aku dengan merebut aku dari ibu kandung yang telah melahirkan aku. Lalu, kamu bunuh ibuku dengan tanganmu sendiri. Seterusnya, kamu sakiti aku lagi dengan merusak pernikahanku yang sebenarnya sangat bahagia."
"Kamu ngomong apa sih? Aku ini ibumu, jangan bicara sembarang. Meskipun aku ibu angkat kamu, tapi tetap saja, aku ibu yang telah membesarkan kamu penuh kasih sayang," kata Sinta sedikit memelas.
Sinta berusaha berekting karena saat ini, dia sedang dilihat oleh semua orang. Zia dan Zein hanya diam saja. Begitu, juga keluarga mereka semua. Hanya diam menyaksikan pertunjukan itu tanpa berniat ambil andil di dalamnya.
Rama tidak ingin berdebat lagi. Ia langsung menguhubungi teman baiknya. Ia meminta temannya melakukan apa yang ia katakan.
Awalnya, Sinta merasa santai dan tenang dengan pembicaran Rama via telpon dengan seseorang yang tidak ia kenali itu. Tapi, ketenangan itu berubah menjadi kepanikan saat ia mendengar lebih jelas maksud dari Rama menghubungi seseorang tersebut.
Tidak butuh waktu lama, beberapa polisi datang ke hotel tersebut. Mereka datang bersama teman Rama.
"Ibuk Sinta, anda kami tahan," kata salah satu dari polisi itu langsung menangkap Sinta.
"Tidak bisa. Apa-apaan ini? Kalian tidak bisa menahan saya. Saya tidak bersalah," kata Sinta berusaha melawan.
"Anda bisa jelaskan semuanya di kantor polisi. Sekarang, ayo ikut kami."
"Tidak mau." Sinta berusaha berontak untuk bebas. Tapi sayangnya, ia tak kalah kuat dari polisi yang sedang menangkapnya itu.
Sinta di bawa polisi meninggalkan hotel tersebut. Kini, tinggal Rama yang berada di sana. Ia mendapat tatapan tajam dari Zia juga semua keluarganya.
"Rama, kenapa kamu bikin keributan di sini? Apa kamu tidak puas juga menyakiti Zia kemarin-kemarin?" tanya mama Zia kesal.
"Maaf, Ma. Aku .... "
__ADS_1
"Aku bukan mama kamu. Jangan panggil aku mama," kata Saras semakin kesal.
"Ma, udah. Jangan tambah keributan lagi. Kasihan Restu. Dia pasti sangat sedih dengan semua kekacauan ini," kata papa Zia berusaha menenangkan mama Zia.
"Untung aja ini hari bahagianya Restu. Jika tidak, aku sudah bikin perhitungan sama kamu," kata mama Zia sambil menunjuk Rama.
Rama tidak melawan. Ia membiarkan apa yang ingin mantan mama mertuanya katakan. Ia berjalan mendekati Zia yang sekarang sudah duduk karena merasa tidak untuk berdiri terlalu lama.
"Zia, apa kabar? Bagaimana keadaan kamu, Zi? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rama dengan nada sendu.
"Seperti yang pak Rama lihat. Istriku baik-baik saja sekarang," kata Zein menjawab pertanyaan Rama.
"Ya, aku baik-baik saja." Zia membenarkan apa yang Zein katakan.
"Aku minta maaf atas kekacauan yang terjadi hari ini. Aku tidak berniat menciptakan kekacauan ini. Aku sangat menyesali apa yang telah terjadi. Sekali lagi aku minta maaf pada kalian semua. Terutama padamu Restu," kata Rama sambil melihat Restu yang sedang berdiri di samping Zia.
"Jujur saja, aku merasa tidak masalah. Tapi, aku keberatan jika kamu datang untuk mendekati mbak Zia lagi. Karena aku tidak akan tinggal diam. Sebagai adik angkatnya, aku akan maju duluan untuk menjaga mbak Zia dari laki-laki seperti mas Rama," kata Restu bicara dengan serius.
"Kalian tenang aja. Aku ke sini bukan untuk mengacaukan apapun. Aku akan kembali keluar negeri dan menetap di sana."
"Untuk kamu Zia. Aku minta maaf, atas segala kesalahan yang telah aku perbuat. Aku tidak akan kembali lagi ke tanah air ini. Semoga kamu dan keluargamu bahagia," ucap Rama lalu beranjak meninggalkan tempat pesta tersebut.
_____
Rama menunaikan apa yang ia katakan. Dia berangkat keluar negeri hari itu juga. Semua urusan di tanah air, ia serahkan pada sahabatnya.
Sinta terbukti bersalah karena semua bukti mengarah pada Sinta. Atas bukti-bukti itu, Sinta di hukum penjara seumur hidup.
Sementara itu, dua hari setelah pernikahan Restu dan Lola, tepatnya, saat Lola ingin berangkat ke luar negeri untuk berbulan madu, Zia melahirkan anak pertama mereka dengan selamat.
Perjalanan Restu dan Lola harus tertahan karena persalinan Zia. Anak pertama Zia yang berjenis kelamin perempuan, membawa kebahagiaan bagi mereka semua. Kehidupan Zia dan Zein, kini terasa sudah sangat lengkap
saat kehadiran putri kecil ini.
Semua akan indah pada waktunya. Cinta berduri itu adalah salah satu cobaan untuk meraih cinta sejati. Hati yang sabar, akan membawa kebahagiaan.
__ADS_1
... Sekian ...