
"Mas, aku senang banget hari ini. Kamu mau nemani aku ke rumah sakit, terus dapat kabar kalo calon bayi kita baik-baik aja," kata Laila tersenyum sambil memegang tangan Rama.
Rama tidak menjawab sepatah katapun apa yang Laila katakan. Ia hanya tersenyum sambil terus fokus dengan jalan yang mereka lewati saat ini.
Melihat Rama hanya diam saja, Laila berubah murung. Ia merasa, Rama telah mengabaikan dirinya. Ia melepas pegangan tangannya dari Rama.
"Kamu gak senang ya mas?" tanya Laila.
"Lho, kamu kok nanyanya gitu sih?"
"Ya habisnya, kamu diam aja saat aku ngomong sama kamu."
"Ya aku harus jawab apa, La?"
"Kamu gak bahagia udah temani aku ke dokter hari ini, kan Mas. Aku tahu itu," kata Laila dengan nada kesal.
"La, siapa yang bilang aku gak bahagia, hem?"
"Aku yang bilang, Mas. Karena, aku merasa kamu itu temani aku karena terpaksa."
"Laila, sudah ya. Aku gak mau kita bertengkar lagi. Aku minta maaf kalo aku udah buat kamu merasa gak nyaman."
Kini giliran Laila yang tidak menjawab apa yang Rama katakan. Ia hanya diam. tertunduk dengan wajah murung.
Melihat hal itu, Rama berusaha membuatnya Laila bahagia, demi calon bayi yang ada dalam kandungan Laila. Dia takut kalau calon bayinya kenapa-napa jika pikiran Laila tidak tenang. Setidaknya, itu yang ia dengar dari dokter saat mereka di rumah sakit tadi.
"La, udah dong ya. Jangan ngambek lagi. Kamu ingatkan apa yang dokter katakan tadi? Ibu hamil gak boleh banyak pikiran. Ingatkan?"
"Aku gak akan banyak pikiran jika kamu gak mulai buat masalah duluan, Mas. Aku awalnya bahagia-bahagia aja, tapi, tanggapan kamu itu bikin aku sedih banget."
__ADS_1
"Ya udah, iya. Aku yang salah. Maafkan aku. Aku janji gak akan bikin kamu kesal lagi. Sekarang, kamu katakan padaku apa yang bisa aku lakukan agar kamu bisa memaafkan aku."
Mendengar apa yang Rama katakan, Laila tersenyum senang. Ia yang sedari tadi tertunduk sambil memasang wajah murung, kini berubah tersenyum manis sambil memeluk tangan Rama yang sedang memegang setir mobil.
"Kamu serius kan dengan apa yang kamu katakan itu, mas?"
"Iya, aku serius."
"Kalo gitu, aku ingin kamu ajak aku pulang ke rumah kamu. Aku ingin lihat, seperti apa rumah kamu dan mbak Ziana."
"Apa! Kamu ingin pulang ke rumah aku?" tanya Rama kaget bukan kepalang.
"Kamu kok kaget gitu sih, mas? Aku hanya ingin lihat saja, seperti apa rumah kamu dan mbak Zia. Bukan pulang nginap di sana. Bukankah kamu yang bilang, kalau saat ini, mbak Zia tidak ada di rumah. Jadi, gak ada salahnya dong, jika aku datang?"
"Tapi La .... "
Rama terdiam sejenak. Ia memikirkan setiap perkataan yang Laila ucapkan. Perlahan, benaknya membenarkan apa yang Laila katakan barusan.
'Sepertinya, tidak ada yang salah jika aku ajak Laila datang ke rumah sebentar. Bukankah Laila hanya ingin melihat rumah kami? Apa salahnya jika hanya melihat sebentar. Lagipula, di rumah juga gak ada Ziana. Kalo soal bibi dan pak Joko, mereka sepertinya bisa aku atur,' kata Rama dalam hati.
"Baiklah kalo gitu, aku akan bawa kamu pulang ke rumah kami. Tapi hanya sebentar saja, ya."
"Kamu tenang aja mas. Aku hanya ingin melihat, tidak untuk menetap," kata Laila dengan wajah kesal.
Sementara itu, bik Imah yang sedang panik karena Zia pulang, berusaha menghubungi Rama untuk memberitahukan kabar kepulangan Zia. Tapi sayangnya, ponsel Rama sedang tidak aktif, sehingga bik Imah panik sendirian.
Zia yang melihat bik Imah sedang resah. Ia tersenyum kecil. Ia tahu apa yang bik Imah coba lakukan. Ia berjalan pelan untuk memastikan ekspresi apa yang akan bik Imah tunjukkan jika melihat dirinya.
"Bibi lagi apa?" tanya Zia saat ia sudah berada beberapa langkah dari bik Imah.
__ADS_1
"Ya Tuhan, copot-copot molot copot," ucap bik Imah kaget sambil mengelus dadanya. Sangking kagetnya bik Imah, ia menimbulkan kelatahannya dengan mengucapkan sesuatu yang tidak jelas.
"Ya ampun nyonya muda, kok bikin kaget bibi sih?" tanya bik Imah terus saja mengelus dadanya. Sisa kaget itu masih terasa dalam debaran jantung bik Imah.
Ziana hanya tersenyum. Ia menikmati ekspresi kaget yang bik Imah tunjukkan padanya.
"Bibi ngapain sih, bik? Sampai-sampai gak sadar kalo aku udah ada di belakang bibi," ucap Zia masih mempertahankan senyumannya.
"Bibi .... "
"Bibi melamun?" tanya Zia seolah-olah ia tidak tahu apa yang bik Imah lakukan.
"Ngg--nggak kok nyonya. Bibi itu sedang memikirkan apa yang harus bibi masak buat makan siang nyonya muda dengan tuan Rama."
"Owh, aku pikir bibi lagi melamun tadi. Ya udah bik, gak usah repot-repot. Aku udah pesan makanan kok. Setelah aku pertimbangkan lagi, bibi pasti sudah capek. Jadi, aku putuskan untuk pesan makan di luar saja."
"Oh, benarkah nyonya sudah pesan makan dari luar?"
"Iya, bik. Aku udah pesan makanan dari luar, mungkin bentar lagi juga akan sampai makanan yang aku pesan."
"Sekarang, bibi bisa temani aku ngobrol aja. Sambil nunggu makanan datang," kata Zia sambil tersenyum.
"Iy--iya, nyonya."
"Yok bik, kita ke ruang keluarga. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada bibi. Terutama soal mas Rama," kata Zia sambil beranjak.
"Ma--mau tanya apa, nyonya?" tanya bik Imah semakin gelagapan karena panik.
"Ada aja lah. Ayo kita ke ruang keluarga dulu. Gak enak kalo ngobrol di sini," kata Ziana sambil terus mempertahankan senyumannya.
__ADS_1