
Zein dan Zia pun meninggalkan tempat itu. Di mana Rama masih di sana dengan wajah sedih dan perasaan terpukul karena apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga.
'Selamat jalan Ziana, semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu ini. Aku tidak bisa merebut kamu kembali menjadi milikku. Karena aku lihat, kamu begitu bahagia bersama dengannya,' kata Rama dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya setelah mobil Zein berjalan meninggalkan tempat itu.
Zein dan Zia tidak bicara sepatah katapun sejak mereka meninggalkan gerbang rumah Zia. Mereka terus berdiam diri dengan pikiran masing-masing. Tapi, itu tidak berlangsung lama, karena Zein bukan tipe laki-laki yang suka berdiam diri jika ada masalah yang mengganjal di hatinya.
"Zia." Zein memanggil Zia untuk memulai obrolan.
"Ya, ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya memanggil kamu, karena kamu terus berdiam diri sejak pertama kita meninggalkan gerbang rumahmu. Aku berasa, seperti sedang berjalan sendirian karena kamu hanya berdiam diri saja."
"Maaf Zein. Aku tidak bermaksud mendiami kami. Hanya saja .... " Zia menggantungkan kalimatnya. Ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan pada Zein. Ia takut kalau perkataannya salah, dan Zein juga akan salah sangka padanya.
"Hanya apa Zia? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Satu hal yang tidak boleh kamu lupakan, selesaikan masalah kita bersama-sama jika kita punya masalah. Jangan mendiamkan masalah atau menyimpan masalah untuk diri sendiri. Karena itu akan membuat keretakan buat hubungan kita," kata Zein panjang lebar menjelaskan.
"Oh ya, ada yang ingin aku katakan padamu sebenarnya. Tapi, aku mohon kamu jangan marah padaku," kata Zein lagi.
"Kamu mau mengatakan apa? Katakan saja! Aku usahakan tidak akan marah jika kata-kata itu memang tidak memancing emosi ini," ucap Zia dengan wajah cerah. Karena, kata-kata Zein barusan seperti sebuah ketenangan bagi Zia. Kata-kata itu mampu membuat pikirannya yang bergelombang menjadi tenang kembali.
"Aku ingin katakan, sejujurnya, aku merasa sangat cemburu tadi. Saat Rama memegang tangan kamu dan kamu menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk aku artikan. Ingin rasanya aku rebut tangan kamu dari dia, tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Karena aku yakin, kamu punya caramu sendiri untuk mengatasi apa yang terjadi."
__ADS_1
"Kamu cemburu?" tanya Zia pura-pura tak percaya.
"Ya, aku cemburu. Sangat cemburu malahan."
"Kenapa kamu harus cemburu, pak Zein?"
"Jangan tanyakan kenapa, buk Ziana. Karena setiap orang itu pasti tidak rela jika apa yang ia miliki di sentuh orang lain."
Obrolan mereka harus terhenti karena mereka sudah sampai ke tempat yang mereka tuju. Zein bergegas turun dari mobil hanya untuk membukakan pintu mobil untuk Zia.
Dengan perasaan senang, Zia turun dari mobil tersebut. Hatinya kini benar-benar bahagia dan puas atas keputusan yang ia ambil untuk menerima lamaran Zein.
'Semoga tidak ada yang berubah dari kamu Zein. Selamanya, kamu harus tetap menjadi Zein ku. Zein yang selalu menenangkan hatiku, juga memberikan kebahagiaan buat hati ini,' kata Zia penuh harap dalam hatinya sambil tersenyum melihat Zein.
Hari pernikahan itu kini sampai juga. Dengan perasaan yang bahagia, Zia turun ke bawah bersama mamanya untuk menemui Zein dan semua tamu yang ada di rumahnya. Karena sebentar lagi, ijab khabul akan diadakan.
Semua mata menatap Zia yang berjalan perlahan menuruni anak tangga. Semua orang memuji kecantikan Zia dengan riasan wajah dan kebaya hijau yang ia kenakan. Saat ini, Zia benar-benar cantik. Sehingga tidak ada mata yang berpaling dari melihatnya, terutama Zein.
Zein benar-benar takjub akan kecantikan dan keindahan bidadari yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Hatinya tak henti-henti mengagumi Zia dengan terus menatap wajah cantik itu. Sampai Zia duduk di sampingnya, Zein masih saja menatap Zia tanpa berkedip.
"Bagaimana? Bisa kita mulai sekarang?" tanya pak penghulu menyadarkan Zein dari tatapannya pada Zia.
__ADS_1
"Bi--bisa pak penghulu. Bisa," kata Zein menjawab dengan gelagapan dan cepat.
Hal itu memancing rasa lucu di telinga semua orang. Karena ucapan Zein terkesan kaget sekaligus tidak sabaran.
"Zein-Zein, kamu ini ya," kata papanya sambil tersenyum lucu.
"Dia gak akan kabur dari kamu Zein. Kamu tidak perlu biru-buru seperti itu," kata mamanya pula.
Mendapat ejekan dan godaan dari mama dan papanya, Zein hanya bisa senyum nyengir tidak enak saja. Ia tidak punya kata untuk melawan apa yang mama dan papanya katakan. Karena kenyataan sebenarnya adalah, ia memang sedang merasa tidak sabar untuk menjadikan Zia sebagai istrinya.
Penghulu tahu apa yang Zein pikirkan. Untuk itu, pak penghulu segera melangsungkan ijab khobul yang sangat sakral ini.
Zein diajarkan terlebih dahulu sebelum ia melakukan ijab khobul yang sesungguhnya. Karena Zein merasa gugup, ia terpaksa harus mengulang akad nikahnya dua kali sebelum dinyatakan sah oleh masing-masing saksi.
"Bagaimana para saksi?" tanya pak penghulu pada masing-masing saksi setelah Zein menjawab ijab khobul dengan benar.
"Sah! Sah! Sah! Sah .... "
Ruang tamu rumah orang tua Zia kini sibuk dengan kata sah yang semua ucapkan. Terlihat sekali kalau mereka yang ada di sana juga ikut merasakan kebahagiaan yang Zein dan Zia rasakan.
Tapi, tidak semuanya merasakan kebahagiaan seperti Zein dan Zia rasakan. Ada salah satu dari mereka yang merasa sangat sedih. Dia tidak lain adalah, Rama.
__ADS_1
Meskipun Rama mengatakan kalau dirinya tidak akan datang sekalipun Zia mengundangnya. Tapi pada kenyatannya, Rama tetap datang. Ia ikut menyaksikan hari bahagia Zein dan Zia. Ya walaupun dia tidak berada di tengah-tengah semua tamu yang ada di sana. Tapi sama saja, ia ikut menyaksikan pernikahan itu meski hatinya terasa sakit.
Rama melihat pernikahan itu dari luar. Karena ia tidak sanggup untuk menyaksikan pernikahan orang yang sangat ia sayangi dari dekat. Rama takut, kalau-kalau ia akan menjatuhkan air mata saat kata sah itu diucapkan oleh para saksi. Ia tidak ingin menimbulkan kekacauan di sana nantinya.