
Zein sudah kembali, Riska mendatangi kantor Zia. Ia ingin bicara dengan Zia soal Zein. Saat ia ingin masuk ke dalam, tanpa sengaja, Riska dan Restu bertabrakan.
"Aduh." Restu mengeluh kesakitan.
"Auh." Riska juga mengeluh kesakitan sambil memegang pinggangnya.
"Kamu apa-apaan sih, jalan kok gak pakai mata." Restu kesal karena ia harus terjatuh di lantai karena tabrakan dari Riska barusan.
"Hello, lo ngomong itu kayaknya harus di pikir-pikir dulu deh. Lo yang jalan gak lihat-lihat, malah nyalahin gue," kata Riska sangat kesal.
"Eh, lo malah nyalahin gue lagi. Udah tahu lo yang salah, eh tapi nyalahin gue Bener-bener lo ya."
"Lo yang salah."
"Lo."
"Lo."
Tuduh menuduh itu berlangsung beberapa saat lamanya, sampai Zia datang melewati tempat tersebut. Ia merasa tertarik untuk menjadi penengah dari perdebatan itu.
"Riska, Restu, kalian sedang berdebat soal apa sih di sini? Kayaknya seru banget," kata Zia sambil berjalan mendekat.
"Diam!" Restu dan Riska berucap serentak membentak Zia.
Sebenarnya, ini bukan maksud hati Restu untuk membentak Zia. Hanya saja, itu sontak terjadi tanpa bisa ia cegah. Setelah membentak Zia, ia merasa menyesal dan bersalah.
"Mbak Zia. Aku minta maaf karena aku tidak bermaksud membentak mbak. Aku pikir siapa tadi, makanya aku bentak. Maafkan aku mbak," ucap Restu memasang wajah menyesal tingkat tinggi.
"Sudah, aku gak masalah dengan bentakan kalian berdua yang sangat amat kompak barusan. Aku tau kalo kalian gak sengaja karena kalian sedang asing main debat-debatan sampai gak ingat sekeliling. Terutama kamu Res, gak ingat kalo ini kantor, dan kamu jadi pusat perhatian semua karyawan yang melihat perdebatan yang kamu lakukan," ucap Zia sambil melihat sekeliling.
Mendengarkan apa yang Zia katakan, Restu ikut melihat sekeliling, di mana ada banyak mata yang melihat mereka sejak tadi. Namun karena kedudukan Restu yang mengimbangi Zia di kantor, jadi tidak ada yang berani menegur mereka karena perdebatan itu.
__ADS_1
"Ma--maafkan aku mbak Zia. Aku tidak sengaja melakukannya," ucap Restu dengan perasaan menyesal.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Oh ya, kamu ada keperluan apa datang ke sini Riska?" tanya Zia pada Riska yang sedari tadi hanya terdiam saja.
"Mbak kenal dia?" tanya Restu dengan cepat mendahului Riska.
"Iya. Aku kenal dia. Dia dan Zein adalah teman masa kecil. Makanya aku kenal dengan Riska."
"Oh, pantes saja sikapnya aneh. Sama kayak ...." Restu tidak melanjutkan kata-katanya karena ingat bagaimana hubungan Zia dengan Zein.
"Kayak apa, hah! Kayak apa? Kenapa gak di lanjutkan lagi apa yang ingin lo katakan?" tanya Riska dengan nada kesal.
"Eh, kok lo yang malah kesal gitu sama gue. Lo .... "
"Restu udah. Kok malah bertengkar lagi sih," kata Zia berusaha menghentikan perdebatan itu dengan cepat agar tidak semakin rumit nantinya.
"Maaf mbak."
"Riska, aku tanya sekali lagi sama kamu, kenapa kamu ada di kantorku sekarang?"
"Oh, gak kok. Aku gak merasa kalo kamu udah bikin aku gak nyaman. Sekarang, ayo ikut aku ke ruangan ku. Kita bisa bicara di sana."
"Baiklah."
"Restu, ajak Riska ke rungan mbak dulu ya. Mbak mau ke kamar mandi sebentar."
"Tapi mbak." Restu berencana menolak namun ia tidak enak hati untuk melakukannya.
"Ada apa Restu?" tanya Zia penasaran.
"Gak papa mbak. Ayo ikut aku sekarang!" kata Restu pada Riska.
__ADS_1
Mereka tidak saling bicara hingga sampai ke ruangan Ziana. Setelah sampai, Restu baru angkat bicara untuk menanyakan sesuatu pada Riska.
"Mau bicara apa lo sama mbak Zia sampai lo harus datang ke kantor ini? Aku yakin kalo itu bukan soal kerjaan. Iya kan?"
"Apa urusan lo gue mau bicara soal apa. Yang jelas, lo gak punya hak untuk bertanya sama gue apa yang ingin gue bicarakan. Mau urusan kerja atau bukan, itu urusan gue bukan urusan lo."
"Lo ya. Ih, bikin kesal aja. Lo sama sahabat lo itu sama aja. Sama-sama munafik dan gak tahu diri. Kesal gue lihat kalian berdua."
"Apa lo bilang? Gue ama Zein munafik? Terus apa .... "
Ucapan Riska terhenti saat pintu ruangan Zia terbuka. Mereka diam sambil menunggu Zia benar-benar masuk dan duduk di kursi kerjanya.
"Silahkan duduk, Riska."
Riska melakukan apa yang Zia katakan. Ia duduk di kursi depan Zia dengan perasaan sedikit enggan.
"Kamu mau ngomong apa? Katakan saja sekarang!" kata Zia setelah Riska duduk.
"Gue mau ngomong berdua aja sama lo, bisa gak?" tanya Riska sambil melihat Restu sesaat.
"Ya udah kalo gitu, aku pergi. Permisi mbak Zia," ucap Restu memahami apa yang Riska maksud.
Restu beranjak meninggalkan ruangan Zia dengan berat hati sebenarnya. Jika saja Riska tidak menginginkan dia pergi, maka dia tidak akan pergi. Ia ingin tetap berada di ruangan itu dan mendengarkan apa yang Riska ingin bicarakan dengan Zia.
Setelah memastikan Restu benar-benar pergi, dan hanya ada mereka berdua di ruangan itu, maka Riska memulai perkataan yang ingin ia bicarakan pada Zia.
"Gue ingin bicara soal Zein sama lo, Zia."
"Soal Zein? Ada apa dengan dia? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan padaku!"
"Aku dan Zein berteman sejak kecil. Hubungan kami sebenarnya, lebih dekat dari teman. Tapi Zein tidak akan mengatakan hal itu pada siapapun termasuk keluarganya. Kami sepakat untuk saling melengkapi selama-lamanya. Jadi tolong, jangan rusak kesepakatan yang telah kami jalani selama belasan tahun ini."
__ADS_1
Zia tersenyum sebelum menjawab apa yang Riska katakan. Ia merasa geli dengan kata-kata yang Riska ucapkan. Ada nada tidak suka yang terdengar sangat jelas dalam setiap kalimat yang Riska ucapkan barusan. Tapi, Zia tidak ingin ambil pusing soal ucap Riska barusan.
"Riska, aku tidak pernah berniat untuk merusak kesepakatan apapun di antara kalian berdua. Aku juga tahu kalo kalian berdua itu sudah berteman sejak lama. Jadi, aku tidak ada maksud menggambil Zein dari kamu, Ris. Kamu tenang saja ya," ucap Zia terus tersenyum pada Riska.